LANGIT.ID, Jakarta - Sahabat Nabi SAW
Abu Bakar As-Siddiq terkenal berakhlak mulia dan selalu memulai harinya dengan amalan-amalan yang penuh limpahan berkah dari Allah SWT.
Julukan As-Siddiq diberikan kepadanya, karena Abu Bakar adalah orang pertama yang masuk Islam dan selalu membenarkan perkataan
Rasulullah SAW.
Penceramah
Ustadz Hanan Attaki mengatakan, Abu Bakar selalu unggul dalam amalan kebaikan dibandingkan para sahabat lainnya. Sampai suatu ketika, Nabi SAW bertemu dengan sekelompok
para sahabat lalu beliau bertanya:
"Siapa di antara kalian yang hari ini telah mengunjungi orang yang sakit?" Para sahabat yang sudah melakukan amalan itu mengangkat tangan termasuk Abu Bakar.
"Kemudian nabi bertanya lagi, siapa di antara kalian yang sudah menolong orang hari ini, maka para sahabat secara bergantian mengangkat tangan mereka dan juga termasuk Abu Bakar As-Siddiq," kata Hanan dalam penggalan kajiannya, Senin (9/1/2023).
Nabi pun bertanya lagi, "Siapa di antara kalian yang sudah membangun silaturahim?" Para sahabat juga secara bergantian mengangkat tangannya dan termasuk Abu Bakar pun ikut mengangkat tangannya.
"Siapa diantara kalian yang sudah memberi makan anak yatim fakir miskin?" Para sahabat bergantian mengangkat tangannya dan termasuk lagi-lagi Abubakar mengangkat tangannya.
"Siapa di antara kalian yang hari ini sudah bersedekah?" Para sahabat bergantian mengangkat tangannya dan termasuk Abubakar mengangkat tangannya.
Kemudian ketika melihat Abu bakar berkali-kali mengangkat tangannya, Nabi pun tersenyum dan mengatakan, "Siapa yang dalam satu hari terkumpul sekian amal salih ini pada dirinya, maka dijamin baginya masuk surga."
Dalam kisah ini, lanjut Hanan, Abu Bakar ternyata selalu melakukan amalan-amalan yang membuatnya selalu dekat dengan berkah Allah SWT.
"Mulai dari salat Subuh berjamaah yang didahului dengan Qabliyahnya, zikir, salat syuruq," ungkapnya.
Seusai memenuhi kewajiban dan urusan akhiratnya, lantas Abu Bakar langsung melakukan amal-amal sosial. Di antaranya membantu orang, memberi makan fakir miskin, menyantuni anak yatim, bersedekah, menjalin silaturahim, dan mengunjungi orang sakit.
"Dalam satu pagi saja, sudah sekian banyak amal salih yang sudah terkumpul pada diri Abu Bakar. Ini menunjukkan betapa berkahnya waktu pagi Abu Bakar," katanya.
Kisah Abu Bakar itu juga menandakan bahwa pagi yang penuh dengan keceriaan adalah bukan hanya pagi yang cerah, tapi juga pagi di mana umat Islam bisa melakukan amal salih.
"Sudah seberkah apa pagi kita? Kita bukan hewan ternak yang ketika bangun tidur hanya memikirkan makan hari itu dan berkembang biak hari itu."
"Kita seorang manusia seutuhnya, bahkan menjadi hamba Allah yang paling baik waktunya dan umurnya. Jadikan pagi kita sudah dipenuhi dengan amal-amal salih untuk membangun rasa kebahagiaan di dalam hati banyak orang," tambahnya.
(bal)