Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 17 Januari 2026
home masjid detail berita

Hari-Hari Terakhir Rasulullah SAW: Abu Bakar dan Estafet Kepemimpinan

miftah yusufpati Sabtu, 10 Januari 2026 - 04:15 WIB
Hari-Hari Terakhir Rasulullah SAW: Abu Bakar dan Estafet Kepemimpinan
Dalam kacamata analisis sejarah, peristiwa ini adalah transisi yang mulus namun penuh teka-teki. Ilustrasi: AI

LANGIT7.ID- Madinah di pengujung tahun kesebelas Hijriah diselimuti suasana mencekam. Di sebuah kamar kecil milik Aisyah, sang pembawa risalah tengah berjuang melawan demam yang kian menghebat. Namun, di tengah rintihan sakit itu, muncul sebuah perintah yang kelak akan mengubah sejarah konstelasi politik umat Islam selamanya: Suruh Abu Bakar memimpin salat.

Perintah itu terdengar sederhana, namun getarannya luar biasa. Aisyah, yang mengenal betul karakter ayahnya, sempat mencoba melobi sang suami. Dalam buku Abu Bakr As-Siddiq - Yang Lembut Hati karya Muhammad Husain Haekal, digambarkan betapa Aisyah khawatir. Abu Bakar adalah sosok yang cepat terharu dan mudah menangis. Aisyah takut suara sang ayah akan tenggelam oleh isak tangis, sehingga makmum tak dapat mendengar bacaannya. Ia mengusulkan Umar bin Khattab yang bersuara lantang. Namun, Nabi bergeming. Bahkan dengan nada tegas beliau menyamakan keberatan itu dengan drama di sekeliling Nabi Yusuf. Abu Bakr harus tetap maju.

Penunjukan ini menjadi interpretasi yang sangat kuat di mata para sahabat dan sejarawan. Salat adalah fondasi utama Islam. Ketika seseorang diminta menggantikan Nabi dalam posisi imam salat, secara simbolis ia dianggap layak memimpin urusan duniawi umat. Haekal mencatat, suatu kali Umar pernah mencoba mengimami salat karena Abu Bakr sedang tidak di tempat. Suara takbir Umar yang membahana sampai ke telinga Nabi. Reaksi Rasulullah sangat keras: Mana Abu Bakr? Allah dan kaum Muslimin tidak menghendaki yang demikian.

Ketegasan ini seolah mengunci spekulasi mengenai siapa yang paling pantas memegang kendali setelah beliau tiada. Isyarat kepemimpinan itu semakin nyata lewat simbolisme pintu. Rasulullah memerintahkan agar semua pintu rumah yang menghadap ke masjid ditutup, kecuali pintu yang menuju ke arah kediaman Abu Bakr. Ini adalah pengakuan atas kedekatan spiritual dan intelektual yang tak tertandingi.

Momen paling mengharukan terjadi pada fajar hari terakhir kehidupan Nabi. Sambil bertopang pada Ali bin Abi Thalib dan Fadl bin al-Abbas, Nabi keluar menuju masjid. Saat itu, Abu Bakr sedang mengimami jemaah. Melihat kehadiran sang kekasih Allah, jemaah nyaris kehilangan konsentrasi karena kegembiraan yang meluap. Abu Bakr yang peka mencoba mundur untuk memberikan tempat bagi sang Nabi. Namun, Rasulullah memberi isyarat agar salat dilanjutkan. Beliau kemudian duduk di samping Abu Bakr dan salat sebagai makmum bagi sahabat karibnya itu.

Dalam kacamata analisis sejarah, peristiwa ini adalah transisi yang mulus namun penuh teka-teki. Nabi tidak meninggalkan surat wasiat tertulis atau menunjuk pengganti secara eksplisit melalui dekrit. Beliau justru memberikan serangkaian tanda melalui ibadah salat. Haekal berpendapat bahwa ini adalah cara Nabi mendidik umat untuk berijtihad. Beliau meninggalkan umat dengan agama yang telah sempurna, namun membiarkan sistem ketatanegaraan menjadi wilayah ijtihad manusia yang dinamis.

Setelah salat subuh yang bersejarah itu, Rasulullah kembali ke rumah Aisyah. Tak lama kemudian, suhu tubuh beliau kembali melonjak. Air dingin diusapkan ke wajahnya sebagai perpisahan terakhir sebelum ruhnya kembali ke Zat Maha Tinggi. Nabi wafat tanpa meninggalkan struktur hukum negara yang terperinci, namun beliau meninggalkan Abu Bakr di posisi paling depan dalam saf salat—sebuah petunjuk yang cukup bagi mereka yang berakal.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 17 Januari 2026
Imsak
04:18
Shubuh
04:28
Dhuhur
12:06
Ashar
15:30
Maghrib
18:19
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan