LANGIT7.ID - , Jakarta - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek),
Nadiem Makarim mengatakan waktu adalah hal terpenting yang harus diberikan orang tua kepada anak agar dapat meningkatkan
literasi dan numerasi mereka.
Menurut dia, memberikan cinta kepada anak menjadi tidak berguna jika orang tua tidak pernah mau memberikan waktunya.
Baca juga: Nadiem Makarim: Teknologi Tidak Bisa Gantikan Peran Guru"Waktu itu baru kita bisa bicara
tools-nya. Memberikan cinta kepada anak menjadi tidak berguna jika orang tua tidak pernah mau mengeluarkan
sumber daya yang paling mahal untuk anak, bukan uang. Sumber daya termahal adalah waktu," ujar Nadiem dikutip dari YouTube Gita Wirjawan, Kamis (12/1/2022).
Dia kemudian menjelaskan tiga tools yang ada dalam waktu, di mana harus diberikan kepada anak.
Pertama, adalah membacakan buku. Menurut alumni Universitas Harvard itu, tool yang paling efektif yang dikenalkan pada anak sejak usia dini adalah buku.
"Pokoknya kalau Anda bacain buku kepada anak secara reguler, daya tangkap literasinya dan kemampuan critical thinkingnya akan meningkat," katanya.
Tools kedua adalah pertanyaan dan diskusi. Nadiem menyarankan kepada orang tua untuk selalu memberikan waktu makan bersama anak tanpa gangguan gadget agar dapat berdiskusi.
Baca juga: Intip 5 Momen Manis Mendikbud Nadiem Makarim sebagai Ayah di Rumah"Jadi hal yang sederhana. Saya sering sekali berbicara sama orang tua dampak terbesar pada saat dia menentukan waktu makan nggak boleh ada iPad, nggak boleh ada gadget, waktu makan adalah duduk bersama anak," ucap pria kelahiran 4 Juli 1984 itu.
"Pilih sekali sehari saja kalau bisa atau sekali dua hari nggak apa-apa kalau sibuk, tapi putuskan mau berapa frekuensinya. Ketika berbicara, bukan yang satu arah. Banyak orang tua menceramahi anak dengan satu arah, tetapi menganggapnya itu berdiskusi, tidak, itu bukan diskusi, itu namanya menggurui. Sama dampaknya kayak mahasiswa yang kuliah saja sama dosen terus diambil tes, dampaknya akan sangat minim," lanjut dia.
Orang tua harus berperan sebagai guru yang selalu berdiskusi dan tak pernah menyerah menjawab pertanyaan anak, baik penting atau tidak.
"Mau pertanyaannya itu bodoh, merepotkan, atau mungkin nggak layak tapi semua pertanyaan adalah kesempatan untuk itu belajar. Jadi reaktif positif terhadap pertanyaan itu luar biasa pentingnya. Ayah dan ibu yang selalu menjawab pertanyaan dan enggak pernah 'Eh diam aja deh lu' itu adalah perbedaan sangat besar dari critical thinking. Tool kedua pertanyaan dan diskusi," tuturnya.
Baca juga: Nadiem Makarim Hapus Tes Mata Pelajaran di SBMPTN, Ganti dengan Tes SkolastikDan yang ketiga, menurut Nadiem adalah memberikan anak kepercayaan. Orang tua itu harus selalu meyakinkan anak, bahwa ia percaya akan potensi mereka.
"Persis kayak guru, nggak ada bedanya. Jadi kalau orang tua itu selalu meyakinkan anak, 'Saya yakin kamu bisa. Aku percaya kamu bisa,' anak akan merasa bahwa kalau orang tuanya percaya sama dia. Berarti dia mungkin bisa. Itu luar biasa, itu awal dari grow mindset. Jadi awal dari grow mindset adalah percaya anak bisa melakukannya," cetusnya.
(est)