LANGIT7.ID, Jakarta - Rektor Universitas Paramadina,
Prof Didik J Rachbini, mengkritik sejumlah pimpinan Partai Politik yang tidak percaya pada Lembaga Survei.
Ekonom senior INDEF itu menyebut partai atau pimpinan partai yang menafikan hasil survei yang merupakan suara
silent majority adalah partai dan pimpinan yang naif.
"Jika ada partai dan pimpinan partai menafikan realitas hasil-hasil survei akademik ini, saya sebagai peneliti tidak bisa menyebutnya sebagai apa, yang yang halus tidak akademik, tidak memahami ilmu,” kata Prof Didik, melalui keterangan tertulis kepada
Langit7, Jumat (13/1/2022).
Baca Juga: Hasil Survei Poltracking, Jawa Masih Jadi Penentu Kemenangan
Menurutnya, suara
silent majority akan menjadi penentu dari pemilihan presiden atau pemilihan legislatif.
Silent majority diketahui dari metode riset
polling yang berbasis pada sampling ilmiah sesuai metode akademik.
"Metode itu sudah puluhan tahun dipraktikkan oleh
pollster dan peneliti. Riset yang ilmiah dan akademik dilaksanakan berdasarkan ilmu dan metode akademik, seperti
polling,
quick count dan lain-lain," kata Didik.
Pengetahuan ini, tambah Didik, sudah menjadi pengetahuan yang menyebar luas di kalangan peneliti, sehingga polling yang benar dan jujur sudah bisa mengetahui persepsi, pandangan mayoritas rakyat, silent majority, terhadap partai dan pemimpin pilihannya.
Menurut dia, riset akademik berbicara jujur, kecuali lembaga riset yang manipulatif, yang lembaga dan pelakunya dipakai untuk mengelabui publik. Lembaga riset seperti ini tidak akan berumur panjang.
Baca Juga: Survei SMRC: Elektabilitas Jokowi Hanya 15,5 Persen Jika Maju Pilpres
Akibatnya, masih banyak partai dan pimpinan partai yang tidak percaya kepada riset akademik survei. Ini beralasan karena memang banyak sekali lembaga survei yang tidak kredibel, karena metodenya tidak dijalankan dengan baik. Lebih banyak pula survei dipakai untuk kepentingan politik dengan menafikan metode ilmiah.
“Partai yang tidak berbasis riset akademik dan mengambil keputusan seenak selera pimpinannya, maka keputusan yang diambilnya bias dan bahkan sesat. Konflik realitas kehendak publik yang luas dengan keinginan dari partai dan pimpinan akan membuat partai kehilangan kesempatan untuk mendapatkan aspirasi terbesar dari publik,” ujar Prof Didik.
Dia mengatakan, dari kemajuan riset survei yang ada sekarang, tiga calon pemimpin yang menonjol yakni Anies Baswedan, Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto. Tiga nama ini merupakan aspirasi yang tersaring dari riset-riset akademik tersebut. Riset-riset manipulatif sudah sulit untuk menafikan realitas dari hasil survei dan banyak lembaga.
Baca Juga: LSI Denny JA: 4 King Maker Dilema Soal Capres dan Cawapres
“Ke depan dengan adanya banyak survei akademik sepoerti ini, peranan partai akan semakin kecil karena aspirasi publik mayoritas akan lebih didengar. Seperti di negara demokrasi yang memilih langsung pemimpinnya, maka aspirasi mayoritas rakyat akan menjadi penentunya,” tutur Prof Didik.
(jqf)