LANGIT7.ID, Jakarta - Pendiri Pusat Kajian Islam Quantum Akhyar Institute,
Ustadz Adi Hidayat (UAH), mengatakan, ulama-ulama di Nusantara dahulu menciptakan simbol-simbol pakaian yang berasal dari ajaran Islam. Dia mencontohkan kopiah, sarung, dan bakiak.
Kopiah yang menjadi istilah bahasa Jawa mengadopsi dari kata Arab yakni
khauf yang berarti takut. Penutup kepala ini juga diperkenalkan Fatimah al-Fihriya, pendiri universitas pertama di dunia, dalam bentuk toga.
“Yang pertama mendesain toga itu Fatima, awalya segi empat berwarna hitam. Itu spiritnya dari Kakbah. Maksudnya, sekalipun sudah banyak ilmu tawadhu, hadapkan dirimu ke Masjidil Haram, niatkan ikhlas kepada Allah,” kata UAH dalam kajian Kitab Abdul Alim Wal Muta’alim yang diikuti Langit7 secara daring, Ahad (15/1/2023).
Baca Juga: Jokowi Ungkap Pentingnya Seni dan Budaya dalam Berdakwah
Kopiah yang berarti takut memiliki filosofi mendalam terkait ajaran Islam. Khaufiyah berarti takut kepada Allah. Artinya, semakin banyak ilmu maka harus takut dan tunduk kepada Allah. Tidak boleh sombong.
“Makanya, kopiah dalam bahasa Arab bukan qalansuwatun. Kopiah berasal dari kata
Khaufiyah artinya takut dan tunduk. Kalaupun banyak ilmu takut dan tunduk, jangan sombong. Kalau sudah pakai kopiah, tunduk, jangan sombong. Kalau ilmu sudah banyak, jangan mudah salahkan orang,” ujar UAH.
Simbol penerapan syariat dalam kehidupan sehari-hari juga divisualisasikan dalam bentuk sarung. Asal muasal penyebutan kata sarung merupakan serapan dari bahasa Arab yakni
syar’i artinya syariat. Kata
syar’i memiliki Masdar
syar’un. Orang Indonesia saat itu sulit menyebut serapan ‘n’ maka disebutlah sarung.
Baca Juga: Sunan Giri, Paus Van Java Rujukan Umat Islam se-Nusantara
“Sarung berasal dari kata
syar’un artinya syariat. Hidup itu sarungan atau pakai syariat. Hiduplah dengan syariat,” ungkap UAH.
Ada pula bakiak yang diambil dari kata
al-Baqa wal Yakin disingkat baqyaq atau bakiak, yang berarti melangkah dengan yakin karena Allah. Bakiak akan mengingatkan seseorang untuk selalu berjalan ke jalan yang benar. Bukan ke tempat maksiat.
“Kaki pakai bakiak dari kata
Al-baqa wal al-yaqin artinya melangkah dengan yakin karena Allah (
al-baqa). Orang tua kita dulu tidak banyak materinya, tapi dipraktikkan. Orang sekarang banyak materi tidak dipraktik-praktikkan. Banyak diperdebatkan,” ujarnya.
(jqf)