LANGIT7.ID, Yogyakarta - Ketua Majelis Syuro Masjid Jogokariyan, Ustadz Muhammad Jazir ASP, menjelaskan, prioritas manajemen sebuah masjid adalah pembinaan umat, bukan mempermegah bangunan. Hal itu pula yang menjadi alasan wali songo tidak memiliki peninggalan fisik masjid yang utuh sampai hari ini.
“Para wali datang ke Nusantara tidak satupun membangun masjid yang bagus. Tidak ada. Maka, tidak ada satupun masjid peninggalan wali yang sampai hari ini masih utuh. Karena memang nabi, para wali mengikuti perintah Allah, yang dibantu umatnya, bukan bangunannya,” kata Ustadz Jazir di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Sabtu (28/1/2023).
Ustadz Jazir menegaskan, pembangunan kualitas jemaah jauh lebih penting ketimbang memperindah fisik masjid. Hal itu yang membedakan orang beriman dengan orang musyrik dalam mendirikan rumah ibadah.
Baca Juga: Masjid Al-Falah Sragen, Jor-Joran Layani Jemaah agar Ramai Salat Berjamaah
“Yang dirawat itu jemaahnya, bukan bangunan masjidnya. Itu paradigma orang musyrik, menganggap masjid makmur kalau bangunan bersih, rapi, bagus, dan indah. Itu otaknya orang musyrik,” ungkap Ustadz Jazir.
اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS At-Taubah: 18).
Dalam ayat tersebut, ada dua parameter penting sebuah masjid disebut makmur. Allah Ta’ala sama sekali tidak menyinggung fisik masjid. Tapi, dalam ayat itu Allah menegaskan tentang kualitas orang beriman.
Baca Juga: Gus Baha: Banyak Masjid Megah tapi Sepi Jemaah, Pertanda Kiamat
Pertama, masjid disebut makmur jika dipenuhi oleh jamaah yang menegakkan shalat. Kemakmuran masjid bukan dihitung dari berapa jumlah tiang berlapis ornamen mewah, tapi dihitung dari berapa shaf shalat berjamaah.
“Bagi orang beriman, ukuran kemakmuran masjid itu tegaknya shalat jamaah di masjid. Berapa ramai dan berapa banyak orang yang menegakkan shalat di situ. Bukan betapa bagusnya bangunannya,” kata Ustadz Jazir.
Kedua, menunaikan zakat. Masjid berfungsi sebagai tempat pembinaan umat Islam yang tinggal di sekitar masjid. Masyarakat kurang mampu dibina dan dibimbing agar bisa menjadi muzakki.
“Berapa banyak jamaah yang bisa dibina agar bisa menjadi muzakki. Maka, masjid itu harus membina jemaahnya agar menjadi muzakki. Itu tugas dari DKM, kalau itu cara berpikir mukmin. Kalau cara berfikir musyrik, masjid dihabiskan dananya untuk bangunan,” ucap Ustadz Jazir.
(jqf)