LANGIT7.ID, Jakarta - Pakar Neuropsikologi, Rakhman Satrio W, mengatakan, depresi yang dialami seorang remaja bisa muncul lagi saat dewasa nanti. Maka itu, sangat penting bagi seseorang menjaga diri dari stres.
Secara teoritis, kata dia, kondisi seorang calon ibu saat remaja mengalami depresi atau kecemasan berlebih dapat mempengaruhi
baby blues dan
Post-Partum Depression (PPD). Orang yang memiliki histori episode depresi atau kecemasan di masa lalu punya kecenderungan akan kambuh lagi pada masa mendatang.
Kondisi itu akan muncul saat menghadapi pengalaman traumatis atau stressful seperti melahirkan, masalah finansial, pengalaman pertama jadi ibu, hingga kekecewaan terhadap suami. Hal itu juga bisa dipengaruhi masalah
hormonal imbalance, apalagi peran hormon sangat berpengaruh terhadap emosi seseorang.
Baca Juga: KH Ahmad Zahro: Istri Boleh Menolak untuk Hamil Asal Suami Rela
“Mekanismenya adalah, bahwa ketika kita punya pengalaman
chronic stress, depression, anxiety, bagian-bagian otak spt PFC (VMPFC&DLPFC), Amygdala, Ventral Striatum, HPA Axis, mengalami gangguan dan cenderung ada 'bekas luka'-nya,” kata Rakhman dalam Bincang Neuropsikologi yang diikuti Langit7.id secara daring, dikutip Senin (30/1/2023).
Ini pula yang mempengaruhi kecenderungan baby blues dan PPD saat seorang ibu melahirkan. Ketika mengalami kondisi traumatis atau stressful lagi pada masa melahirkan, maka 'luka' masa lalu punya kecenderungan untuk kambuh lagi.
“Perantaranya adalah lewat cortisol (hormon stres yang dikeluarkan HPA Axis). Cortisolnya membuat bagian-bagian otak tersebut jadi
vulnerable lagi untuk 'terluka',” ujar Rakhman.
Baca Juga: Erma Yulihastin, Tunda Mimpi Jadi Peneliti Demi Melahirkan Buah Hati
Kemudian, bisa jadi penyebab seseorang depresi atau
anxiety ketika remaja dan penyebab baby blues saat melahirkan karena akar yang sama, yaitu bawaan genetik dari orang tua. Sejak lahir cenderung sudah punya vulnerability untuk mengalami gangguan
mood seperti depresi.
“Nama gennya adalah 5-HTT. Tapi membawa gen 5-HTT tidak mesti pasti akan jadi terekspresikan depresi juga. Ekspresi baru terjadi saat pembawa gen ini, mengalami stres di masa kecilnya,” ujar Rakhman.
(jqf)