Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 22 April 2026
home masjid detail berita

Mengurai Kelompok yang Dibolehkan Berbuka Puasa dalam Tinjauan Syariat

miftah yusufpati Jum'at, 27 Februari 2026 - 04:00 WIB
Mengurai Kelompok yang Dibolehkan Berbuka Puasa dalam Tinjauan Syariat
Ramadhan, dengan segala kemudahannya, menjadi bukti bahwa Islam adalah nafas kasih sayang bagi seluruh alam. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Bulan Ramadhan sering kali dipandang sebagai medan pembuktian ketangguhan fisik. Namun, di balik kewajiban menahan lapar dan dahaga yang mengikat setiap muslim, terpancar sinar kasih sayang yang sangat jernih dari sang pembawa risalah.

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan syariat berubah menjadi beban yang menghancurkan tubuh. Di sinilah letak keindahan muamalah dan ibadah dalam Islam; sebuah agama yang menempatkan perlindungan terhadap nyawa (hifzun nafs) sebagai salah satu tujuan utama syariat.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab Majmu Fatawa wa Rasail menggarisbawahi bahwa salah satu bukti terbesar kecintaan Rasulullah kepada umatnya adalah adanya rukhshah atau keringanan. Beliau membolehkan mereka yang berada dalam kondisi sulit untuk membatalkan puasanya. Kelompok ini mencakup para musafir yang sedang dalam perjalanan, orang yang didera sakit, lansia yang telah melemah fisiknya, serta wanita hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan keselamatan dirinya maupun sang buah hati.

Bagi seorang muslim, kebahagiaan tertinggi adalah mengikuti petunjuk Rasulullah secara lahir dan batin. Meneladani beliau berarti memahami kapan harus berazzam (teguh) dalam ibadah dan kapan harus mengambil rukhshah sebagai bentuk syukur atas kemudahan yang diberikan Tuhan.

Sebagaimana dijelaskan dalam literatur klasik Zadul Maad karya Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Rasulullah mengajarkan bahwa Allah senang jika keringanan-Nya diambil, sebagaimana Dia senang jika kewajiban-Nya dilaksanakan.

Landasan hukum mengenai kelonggaran ini berakar kuat pada firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 185:

يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.

Dalam implementasinya, Rasulullah sangat memperhatikan kondisi riil umatnya. Bagi musafir, perjalanan sering kali menguras energi yang luar biasa. Meskipun teknologi transportasi saat ini sudah sangat maju, elemen safar tetap dianggap sebagai sepotong dari siksaan (qithatun minal adzab) yang memberikan keleluasaan hukum untuk berbuka. Begitu pula bagi orang sakit, di mana puasa dikhawatirkan dapat memperlambat kesembuhan atau justru memperparah kondisi klinisnya.

Kategori yang tak kalah menyentuh nurani adalah perhatian Nabi terhadap wanita hamil dan menyusui. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan panyusun kitab Sunan, Rasulullah bersabda bahwa Allah menggugurkan kewajiban puasa bagi wanita hamil dan menyusui.

Hal ini merupakan amalan saleh yang lahir dari ilmu yang bermanfaat; memahami bahwa nutrisi bagi janin dan bayi adalah prioritas yang tidak boleh dikorbankan demi mengejar puasa pada waktunya. Para ulama dunia, termasuk merujuk pada tafsir Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa kewajiban mereka dapat diganti dengan mengqadha di hari lain atau membayar fidyah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Bagi orang lanjut usia yang fisiknya tidak lagi mampu menanggung beban lapar, Islam memberikan pintu keluar yang sangat mulia melalui fidyah. Ini adalah bukti bahwa tidak ada ruang bagi sikap ekstrem dalam beragama.

Rasulullah tidak pernah memaksakan suatu ibadah hingga melampaui batas kemampuan biologis manusia. Pengetahuan mengenai hal ini sangat penting agar umat tidak terjebak dalam rasa bersalah yang tidak perlu saat mereka memang secara syar'i diizinkan untuk tidak berpuasa.

Seseorang tidak akan bisa mengikuti petunjuk Rasulullah kecuali dengan ilmu yang bermanfaat, dan ilmu itu baru terasa manfaatnya jika diiringi dengan amalan saleh. Mengambil rukhshah saat kondisi tidak memungkinkan adalah amalan saleh yang mencerminkan ketundukan pada otoritas kenabian.

Ramadhan, dengan segala kemudahannya, menjadi bukti bahwa Islam adalah nafas kasih sayang bagi seluruh alam. Siapa pun yang mengikuti petunjuk beliau di dunia, niscaya ia akan meraih harapan untuk tetap bersama sang Rasul di akhirat kelak.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 22 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:52
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)