LANGIT7.ID, Jakarta - Peringatan Hari Ibu jatuh pada 22 Desember. Hari Ibu merupakan momentum tepat mengenang jasa ibu yang telah melahirkan, berjuang, bahkan bertaruh nyawa demi lahirnya sang anak.
Tentunya, tak mudah menjadi seorang ibu terutama dalam mendidik anak. Terlebih jika harus membagi waktu dengan karier yang sedang dijalani.
Begitulah kisah yang dilewati Erma Yulihastin, seorang ibu sekaligus Peneliti klimatologi dari Pusat Riset Sains dan Teknologi Atmosfer
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Perjalanannya mengejar cita-cita untuk menjadi seorang peneliti terbilang tidak singkat.
Baca Juga: Ateis asal Prancis Masuk Islam Setelah Nonton Piala Dunia QatarSalah satu rintangan terberatnya adalah bagaimana harus menyeimbangkan antara tanggung jawab menjadi seorang ibu dan mengejar karier. Dia pun menceritakan awal mula mimpinya tercapai saat lulus kuliah.
Erma diarahkan oleh sang dosen untuk menemui seorang doktor Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jedi Widarto yang dinilai mampu membantunya berproses menggapai cita-cita.
"Saya sudah bercita-cita menjadi peneliti sejak kecil. Saat kuliah, saya sangat ingin menjadi peneliti dan bekerja di lembaga penelitian, seperti LIPI dan LAPAN tetapi rintangannya tak mudah," kata Erma dalam pesan singkat kepada
Langit7.id, Kamis (22/12/2021).
"Saat saya lulus kuliah, saya diarahkan oleh dosen saya untuk menemui doktor Geoteknologi LIPI, Jedi Widarto. Melalui dirinya, saya diberi petunjuk menemui kepala LIPI bagian Oceanografi," lanjutnya.
Baca Juga: Lewat Muhasabah Diri, Aliah Sayuti Mampu Lampaui Masa SulitSayangnya, saat itu Erma tak dapat langsung bisa bekerja karena di LIPI belum memiliki anggaran untuk tenaga kerja baru. Meski demikian, setahun kemudian dirinya dipanggil oleh LIPI saat pendaftaran kerja untuk peneliti di buka. Namun kala itu, Erma harus menunda cita-citanya lagi karena kelahiran buah hati.
"Saat itu saya melahirkan anak pertama dan harus pulang kampung ke Jawa Timur. Ini menjadi hal yang sangat saya ingat dan sedih. Cita-cita belum sempat digapai, karna saya harus melahirkan anak pertama. Namun saya ikhlas, ini demi anak," ujarnya.
Erma lantas tak menyerah begitu saja. Setahun kemudian, dia melakukan tes di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
"Benar saja, ‘jodoh’ pekerjaan saya menjadi peneliti LAPAN. Saat itu saya mulai belajar membagi waktu antara bekerja dan mengurus anak," ucap Erma.
Baca Juga: Kisah Persahabatan Sri Mulyani dan Retno Marsudi, Dekat Sejak SMAErma menjelaskan, bagaimana cara efektif dia menjaga anak di tengah kesibukannya menjadi peneliti. Dia pun membagi waktu harian menjadi tiga.
"Pertama, pagi sampai jam 12 mendampingi anak belajar, di saat pandemi ini. Selanjutnya, di atas jam 12 sampai jam 4 sore fokus menyelesaikan tugas kedinasan,” ungkapnya.
Selanjutnya, Erma meluangkan waktunya di kala sore untuk keluarga, seperti salat berjamaah dan mengaji. Tak berhenti sampai di situ, sekitar pukul 20.00 malam dia kembali mengerjakan tugas riset hingga mengantuk.
"Malam hari fokus karena tak ada tugas lainnya, pekerjaan riset dan publikasi membutuhkan konsentrasi tinggi. Dengan cara itu, saya tetap terkoneksi dengan keluarga terutama anak. Mereka menganggap bahwa saya juga mementingkan keluarga di tengah karier yang saya jalani," lanjut Erma.
Baca Juga: Tak Sengaja Tonton Video Dakwah, Riko Tandean Mantap BerislamMenurut Erma salah satu parenting yang tepat adalah menanamkan rasa sayang yang tulus di dalam diri anak. Seorang ibu harus mampu membuat anak paham saat karier dikejar tak hanya untuk pribadi tapi juga keluarga.
"Kita harus bangun dari anak-anak kebanggaan dan rasa cinta kepada ibunya secara tulus. Anak harus melihat, ibunya berjuang tak hanya kariernya sendiri, tapi untuk keluarga, masyarakat, bahkan bermanfaat untuk dunia," kata Erma.
Adapun caranya, Erma menyarankan agar anak-anak juga dilibatkan dalam aktivitas orangtuanya. Dengan demikian, anak akan merasakan pekerjaan ibunya bermanfaat dan tulus dijalani bukan hanya untuk pribadi tapi juga orang banyak.
"Jadi anak tahu apa yang dikerjakan ibunya, ilmu seperti apa, berikan mereka exprerience. Ini sebagai upaya memupuk rasa bangga dan cinta dari anak kepada ibunya yang seorang wanita karier," tuturnya.
(gar)