LANGIT7.ID, Jakarta - Dalam dunia psikologi,
people pleaser merupakan pelabelan informal bagi individu yang memiliki keinginan kuat untuk menyenangkan orang lain. Pada akhirnya, orang tersebut sangat kesusahan mengatakan “tidak” saat mendapat permintaan pertolongan.
“
People Pleaser ini basically membantu dengan motif untuk menyenangkan orang lain meski itu merugikan dirinya sendiri. Itu perbedaannya dengan orang yang benar-benar mau membantu, bisa memetakan kapasitasnya sampai mana bisa membantu atau tidak,” kata Psikolog Universitas Gadjah Mada, Smita Dinakaramani, dikutip laman resmi UGM, Jumat (10/2/2023).
Ciri People Pleaser1. Memprioritaskan Kepentingan dan Perasaan Orang Lain Dibanding Diri SendiriCiri dalam diri orang
people pleaser adalah memprioritaskan kepentingan maupun perasaan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Bahkan, jika hal tersebut merugikan dirinya sendiri tidak menjadi persoalan bagi
people pleaser.
Baca Juga: Nomorsatukan Kebahagiaan Orang Lain, Ustaz: Bagus, Asal Tak Berlebihan“
People pleaser akan menaruh kebutuhan diri sendiri pada urutan paling akhir. Perasaan, kebutuhan, serta opini diri tidak lebih penting dari orang lain,” ucap Smita.
2. Ingin Terlihat SempurnaCiri lain
people pleaser adalah ingin terlihat sempurna. Dengan terlihat sempurna diharapkan dapat menyenangkan semua orang. Sementara,
people pleaser memiliki ciri di luar diri, yaitu keinginan kuat agar semua orang menyukai dirinya. Ada keinginan kuat mendapatkan validasi diri yang baik dari orang lain.
3. Sering Minta Maaf dan Suka Dimanfaatkan Orang LainPeople pleaser membiarkan dirinya untuk dimanfaatkan oleh orang lain. Lalu, mudah atau sering meminta maaf karena penuh dengan rasa bersalah maupun takut disalahkan.
Baca Juga: Para Influencer Kritik Arogansi Gita Savitri Soal Childfree“Ciri lain saat menolak atau menetapkan batasan kemudian muncul perasaan bersalah yang sangat mendalam,” katanya.
People pleaser juga takut terhadap konflik. Ada perasaan cemas, tidak nyaman, serta takut jika tidak disetujui orang lain.
People pleaser bisa terjadi kepada saja, sebab menjadi sebuah hal yang wajar untuk memiliki keinginan agar disukai oleh orang lain. “Ya ini bisa terjadi ke siapa saja karena pada dasarnya semua orang pengen diterima dan disukai,” ucapnya.
Penyebab People Pleaser1. Kepercayaan Diri RendahKepercayaan diri (
self esteem) yang rendah menjadi salah satu penyebab atau faktor pendorong seseorang menjadi
people pleaser. Saat melihat orang lain lebih keren, maka orang dengan kepercayaan diri rendah akan menganggap pendapat dan perasaannya bukan hal penting disbanding perasaan dan pendapat orang lain.
Baca Juga: Sembuhkan Luka Pengasuhan Sebelum Punya Anak dengan Fitrah Rahim Perempuan“Orang-orang dengan kepercayaan diri rendah kalau mengatakan ‘Yes’ merasa jadi berguna, tetapi jika menyatakan ‘no’ jadi merasa tidak berguna,” ujarnya.
2. Menghindari KonflikSikap
people pleaser ditujukan untuk menghindari konflik dengan orang lain. Maka itu,
people pleaser selalu berusaha menyamakan pendapatnya dengan orang lain. Lalu, rasa cemas karena ingin bisa beradaptasi untuk bisa disukai orang lain.
People pleaser memiliki kecemasan karena takut konflik dan ditolak. “Semua motifnya ya agar semua suka,” kata Smita.
3. Faktor BudayaSmita mengatakan, faktor budaya menjadi salah satu faktor pendorong seseorang menjadi
people pleaser. Misalnya, suatu negara memiliki nilai-nilai untuk memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Hal tersebut akan mempengaruhi masyarakat untuk mengadopsi nilai tersebut.
Baca Juga: Lima Negara Usulkan Kebaya Jadi Warisan Budaya Tak BendaDampak People PleaserPeople Pleaser akan mengakibatkan kelelahan fisik dan mental. Tak hanya itu,
people pleaser yang berlebihan dapat berakibat sulit mengetahui keinginan diri sendiri (lost sense of self), karena semua tindakan dan pilihan tergantung pada orang lain.
People pleaser juga bisa menyebabkan perasaan tertekan karena tidak menjadi diri sendiri. Penampilan juga berkaitan terabaikan karena acuh terhadap kepentingan diri sendiri.
“Sikap
people pleaser juga bisa berdampak pada hubungan sosial. Saat di tempat kerja berusaha baik ke semua orang, lalu sampai rumah sudah capek fisik mental kalau tidak pandai mengelola emosi akhirnya mudah marah pada anggota keluarga,” ujar Smita.
Baca Juga: Soal Sosis Arabiki Daging Babi, LPPOM MUI: Cermati Label KemasanSolusi Atas People PleaserAda beberapa tips untuk berhenti menjadi
people pleaser, di antaranya:
1. Mengelola Pola PikirTanamkan pola pikir (
mindset) untuk bisa menjaga diri sendiri. Mengutamakan diri sendiri tidak berarti menjadi egois, karena kebahagiaan orang lain bukan menjadi tanggung jawab utama kita, dan tidak perlu menjadikan itu sebagai beban.
2. Tidak Orang yang Bisa Disukai Semua ManusiaRasulullah SAW merupakan manusia paling sempurna dan mulia. Itu pun ada yang membenci kepada beliau. Artinya, tidak bisa membuat semua orang senang dan menyukai kita. Hal ini penting dipahami agar tidak memaksakan diri secara terus-menerus untuk bisa disukai orang lain, karena akan mengakibatkan kelelahan fisik dan mental.
“Pahami tidak semua orang akan menyukai kita. Bahkan tidak mungkin bisa menyukai orang 100 persen, bahkan orang terdekat kita pun ada hal-hal yang tidak kita sukai,” kata Smita.
Baca Juga: Studi Ungkap Orang Percaya Zodiak Cenderung Narsis dan Kurang Cerdas3. Buat Batasan Diri Menolong Orang LainBuat Batasan diri menolong lain. Kenali kemampuan diri sendiri, sejauh mana bantuan yang bisa diberikan. Tidak perlu memaksakan diri jika memang tidak mampu. Maka itu, sangat penting untuk jujur pada diri sendiri.
4. Memahami Berkonflik tidak Selalu BurukPahami bahwa berkonflik tidak selalu menjadi hal yang buruk. Mengutarakan pendapat yang berbeda dengan komunikasi yang sehat justru dapat meningkatkan hubungan.
5. Tahan Diri tidak Spontan Terima Permintaan Orang LainCoba menahan diri untuk tidak spontan menerima permintaan orang lain. Misalnya, ada orang yang minta bantuan pekerjaan, coba tidak langsung mengiyakan. Ambil waktu untuk memikirkan seberapa penting persoalan tersebut dan apakah kita berada dalam kapasitas untuk membantu.
Baca Juga: Empat Kedudukan Anak dalam Islam, Salah Satunya Penyejuk Hati6. Belajar untuk Berkata “Tidak”Belajar untuk berkata tidak. Menolak hal yang tidak seuai dengan perasaan maupun keinginan diri bukan berarti menjadi orang yang buruk ataupun menjatuhkan orang lain.
“Belajar pelan-pelan, coba sampaikan pendapat yang kita inginkan dahulu dan baru setelah itu menolak. Misalnya saat diminta untuk lembur sampai jam 21.00 malam, sampaikan ‘saya keberatan kalau lembur sampai 21.00 karena masih harus mengurus keluarga di rumah’, dan tawarkan bagaimana jika lemburnya hanya sampai 18.00 saja,” ucap Smita.
Jika cara-cara ini masih belum efektif dan masih kesulitan untuk menghilangkan sifat
people pleaser bahkan sudah sangat mengganggu ketenagan jiwa dan relasi sosial, Smita mengimbau untuk meminta bantuan pada tenaga ahli atau profesional untuk berkonsultasi.
(jqf)