Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 02 Juni 2026
home lifestyle muslim detail berita

Empat Kedudukan Anak dalam Islam, Salah Satunya Penyejuk Hati

fajar adhitya Kamis, 09 Februari 2023 - 06:05 WIB
Empat Kedudukan Anak dalam Islam, Salah Satunya Penyejuk Hati
Ilustrasi keluarga bahagia. Foto: LANGIT7/iStock
LANGIT7.ID - , Jakarta - Komentar Gita Savitri di media sosial soal kehadiran anak memicu keributan. Youtuber yang menetap di Jerman itu mengungkapkan bahwa childfree atau tidak memiliki anak menjadi salah satu cara alami yang dinilai ampuh untuk mencegah anti penuaan alias awet muda.

Menurutnya, ketiadaan anak bisa membuat suasana rumah tenang karena tidak terganggu dengan teriakan-teriakan yang dinilai bising. Dia pun menganggap anak sebagai beban.

Baca juga: Ning Imaz: Childfree Bukan Solusi tapi Tingkatkan Kapasitas Diri

“Tidak punya anak adalah rahasia anti penuaan alami, bisa tidur delapan jam setiap hari, gak stres dengar suara anak-anak teriak. Saat kamu punya kerutan, kamu punya uang untuk bayar botox,” komentar Gita menjawab komentar warganet di Instagramnya @gitasav.

Dalam Islam, anak memiliki empat kedudukan. Anak bisa menjadi beban atau musuh bagi orang tua apabila kehadiran anak justru menghalang-halangi atau membuatnya jauh dari ajaran Islam, atau apabila tak bisa mengasuhnya.

Namun, selain itu, anak juga memiliki kedudukan mulia sebagai penyejuk hati dan perhiasan dunia. Berikut kedudukan anak dalam Islam dikutip laman resmi MUI:

Pertama, anak bisa menjadi perhiasan orangtua di dunia. Merujuk Al-Qur'an Surat Ali Imran ayat14, Allah berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ

Artinya: Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.

Baca juga: 5 Artis Tetap Glowing dan Bahagia Meski Punya Banyak Anak

Kehadiran anak dalam keluraga adalah ibarat perhiasan di dunia yang bisa menjadi kesenangan orangtua. Adapun kedudukan anak sebagai kesenangan hidup dapat dipahami bahwa manusia secara naluriah memiliki kecenderungan untuk senang terhadap anak.

Kedua, anak sebagai fitnah atau cobaan. Dalam hal ini, keberadaan anak sebagai amanah dari Allah adalah cobaan apakah orangtua bisa mengasuhnya dengan baik dan benar sesuai tuntunan Islam.

Firman Allah ﷻ dalam Alquran surat Al Anfal ayat 28:

وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْم

Artinya: Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”

Menurut Prof Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah, kedudukan anak-anak sebagai fitnah tak hanya ketika orang tua memiliki dorongan atas dasar cinta kepadanya sehingga melanggar ketetapan Allah, akan tetapi hal tersebut berlaku dalam kedudukan anak sebagai amanah Allah.

Baca juga: Pandangan Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Tentang Childfree

Ketiga, anak sebagai musuh. Firman Allah dalam surat At Taghabun ayat 14:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah MahaPengampun, Mahapenyayang.

Terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan mengenai sebab turun ayat di atas, salah satunya yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.

Dalam kitab tafsir Al-Qur’an al-Adhim, Ibnu Katsir mengutip ayat di atas berkaitan dengan persoalan sebagian dari penduduk Mekkah yang ingin berhijrah namun dihalangi istri dan anak-anak mereka.

Setelah berhijrah, mereka menemukan teman-teman yang telah lebih dahulu hijrah serta memiliki pengetahuan mendalam mengenai Islam.

Pada saat itu, penyesalan timbul dan mereka bermaksud untuk menghukum istri dan anak-anak mereka yang menjadi penyebab ketertinggalan tersebut. Karenanya turunlah ayat ini untuk menjawab persoalan mereka.

Baca juga: Childfree Marak Dibicarakan, Adian Husaini: Pendidikan Keluarga Amat Penting dan Mendesak

Keempat, anak sebagai penyejuk hati. Firman Allah dalam surat Al Furqan ayat 74:

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Artinya: Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

Mengutip dari Tafsir Departemen Agama RI ayat di atas menjelaskan mengenai doa yang selalu dipanjatkan hamba-hamba yang dikasihi Allah agar diberikan pasangan dan anak-anak yang mampu menjadi penenang hati dan menyejukkan perasaan.

Dengan demikian akan bertambah pula di bumi ini hamba-hamba Allah yang bertakwa lagi menyucikan zat-Nya.

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 02 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)