LANGIT7.ID, Jakarta - Islam mengingatkan umatnya untuk tidak menjadi orang "bermuka dua". Sebab, orang "bermuka dua" akan mendapatkan hinaan di akhirat, dengan wajahnya yang berpenampilan buruk.
Imam Islamic Center of New York,
Shamsi Ali mengatakan, istilah bermuka dua dalam Islam disebut juga dengan dzul-wajhain. Selain dilarang menjadi bagian dari kelompok tersebut, umat Islam juga harus mewaspadai dzul-wajhain.
"Salah satu peringatan keras baginda Rasulullah SAW adalah agar kita berhati-hati dengan satu bentuk perilaku manusia yang bersifat ganda. Karakter ganda itu tidak jarang justru saling berlawanan (paradoxical)," kata Shamsi Ali dalam keterangan yang diterima
Langit7, Rabu (15/2/2023).
Baca Juga: Kisah Pezina Minta Dihukum Rajam, Tobatnya Lebih Besar dari Penduduk MadinahBahkan, peringatan itu juga disampaikan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
“Seburuk-buruk manusia adalah dzul-wajhain (orang yang bermuka dua), yaitu orang yang ketika di tengah sekelompok orang, ia menampakkan suatu wajah, namun di tengah sekelompok orang lain, ia menampakkan wajah yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Shamsi menambahkan, bahwa di akhirat nanti ada sekelompok orang yang akan memilki dua wajah. Penampilan dua wajah ini sendiri merupakan penampakan yang buruk. "Wujudnya merupakan hinaan sebagai bagian dari azab Allah SWT," ujarnya.
Dzul-wajhain, lanjut Shamsi, adalah orang yang boleh jadi ketika di depan satu orang dia ceria dan tersenyum. Namun, ketika di belakangnya, dia berwajah seram dan memuakkan.
Bagian terparahnya, dzul-wajhain dalam kehidupan sosial dan komunal manusia sudah banyak ditemukan. Dzulwajhaeni terjadi karena alasan tertentu. "Satu yang terpenting dan dominan adalah karena faktor dunia dengan segala tekanannya," ucap Shamsi Ali.
Situasi tersebut bahkan bisa terjadi kepada siapapun. Termasuk mereka yang menyandang gelar keagamaan, seperti ustaz, kyai, syeikh, imam, maulana, malwi, huzur, dan lainnya.
"Karena sesungguhnya hati manusia tidak terdefenisikan oleh gelar-gelar itu. Tidak juga oleh penampakan luarnya," tutur Shamsi Ali.
Baca Juga: Yaumul Marhamah, Hari Kasih Sayang saat Rasulullah Bebaskan MekkahDzulwajhaeni Juga Terjadi di Dunia MayaShamsi Ali menuturkan, dzul-wajhain juga telah terjadi di dunia maya. Di mana unggahan para pengguna media sosial menunjukkan penampilan dan pesan yang baik, serta cinta akhirat.
"Namun kenyataannya di lapangan berkata lain. Langkah-langkahnya kerap kali desktruktif dan merusak lingkungan," ucap Direktur Jamaica Muslim Center tersebut.
Untuk itu, Shamsi Ali mengingatkan agar kaum muslimin dapat menjauhkan sifat dan orang-orang dari dzulwajhaen. Sehingga bisa terselamatkan dari hinaan di akhirat kelak.
"Berhati-hati dengan dzul-wajhain (manusia yang bermuka ganda). Di hadapan wajahmu begitu manis, di belakang punggungmu begitu bengis. Hadir dengan kata-kata indah syurgawi, tapi di balik itu bergejolak motivasi busuk. Semoga Allah SWT menjaga kita dan komunitas kita," tambahnya.
Baca Juga:
Benarkah Hukuman Mati Tanda Pintu Tobat Tertutup? Ini Kata Buya Yahya
Ustaz Adi Hidayat: Childfree Sudah Ada Sejak Zaman Jahiliyah(gar)