LANGIT7.ID, Jakarta - Umat Islam di seluruh dunia memperingati
Isra dan Mi’raj setiap 27 Rajab. Tahun ini bertepatan pada 18 Februari 2023. Dalam sejarah Islam, peristiwa tersebut bukan kejadian biasa, sebab pada fase itu Rasulullah mendapatkan risalah shalat.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menjelaskan, Isra dan Mi’raj merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Baitul Maqdis lalu naik ke langit ketujuh dalam waktu semalam saja.
“Dalam perspektif keimanan, tiada jalan lain untuk menjangkaunya sebab kita hanya bisa meyakininya sebagaimana Abu Bakar,” kata Haedar dalam sebuah video ucapan Isra Mi’raj, dikutip dari laman Muhammadiyah, Kamis (16/2/2023).
Baca Juga: 7 Peristiwa Penting di Bulan Rajab, Saat Rasulullah Menembus Langit ke-7Menurut Haedar, mengimani risalah Isra Mi’raj harus dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Meyakini perjalanan agung yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW itu harus pula diikuti dengan kebaikan dalam bertutur kata, berpikir, dan bertindak.
Selain itu, risalah Isra Mi’raj harus menjadi pendorong untuk melahirkan etos ilmu. Perpaduan antara iman dan ilmu itu akan melahirkan individu yang memiliki derajat tinggi di hadapan Allah Ta’ala. Hal itu dijelaskan dalam Surah Al Mujadilah ayat 11.
“Iman dan ilmu akan membuat kaum muslimin tinggi derajatnya. Maka, tidak cukup kita beriman. Kalau kita ingin meningkatkan kualitas hidupnya, berderajat tinggi, dengan semangat Isra Mi’raj, mari kita tingkatkan kualitas ilmu,” ujar Haedar.
Baca Juga: Selain Isra Miraj, Ini 7 Peristiwa Lain yang Terjadi di Bulan RajabAdanya kombinasi antara iman dan ilmu dalam peristiwa Isra Mi’raj memberikan pelajaran agar senantiasa melibatkan dimensi metafisika. Artinya, dalam setiap laku aktivitas sehari-hari termasuk dalam keilmuan, mesti melibatkan aspek-aspek ruhaniah.
“Ilmu tidak sekadar pengetahuan verbal tetapi juga ada dimensi yang bersifat ilmu ilahiyah-profetik,” ucap Haedar.
Iman dan ilmu juga harus melahirkan pribadi yang gemar melakukan amal shalih. Artinya, menebarkan kehidupan yang serba utama, membawa pada kondisi yang maslahat, dan menolak segala potensi yang mengandung mudharat.
Baca Juga: Ayat Perintah Shalawat pada Nabi Turun di Bulan SyabanHaedar menjelaskan, adanya perintah melaksanakan shalat lima waktu dalam rangkaian Isra dan Mi;raj merupakan medium untuk menyucikan hati. Dengan shalat khusyuk, jiwa seorang muslim akan bersih.
“Hati yang khusyu akan melahirkan jiwa yang teduh, jiwa yang damai, jiwa yang selalu memancarkan kebaikan. Khusyuk dalam shalat juga akan melahirkan jiwa yang suci, tapi tidak merasa semuci,” ungkap Haedar.
Salat juga harus melahirkan aktulisasi kehidupan yang menjauhan diri dari segala bentuk perbuatan keji dan buruk. Baik di dunia realitas maupun maya, berbagai godaan untuk berbuat keburukan harus dihindari dan dijauhi dengan segenap jiwa.
Baca Juga: Wapres Ajak Umat Islam Jadi Generasi Muttaqin yang Selalu Jaga ShalatSelain itu, Isra Mi’raj harus menjadi momen untuk mempertegas posisi Rasulullah sebagai teladan hidup (
uswatun hasanah). Ini karena Rasulullah membawa misi untuk menyempurnakan ahlak manusia.
Dengan menempatkan Rasulullah SAW sebagai kompas moral, maka akan lahir peradaban utama. Maka itu, ranah publik dan kehidupan tidak akan lagi dikantrol oleh orientasi nilai kegunaan dan pragmatisme, tapi berpedoman pada nilai-nilai ideal seperti kepantasan, kebenaran, kelaziman, dan lain-lain.
“Mari kita wujudkan kehidupan yang bermoral dan beretika, berahlak baik dalam kehidupan pribadi, bangsa, kemanusiaan semesta, termasuk kehidupan politik, ekonomi, budaya. Kehidupan memerlukan etika, baik dan buruk, pantas dan tidak pantas,” ucap Haedar.
Baca Juga: Isra Miraj Mengandung Hikmah Luasnya Ilmu AllahIsra Mi’raj merupakan langkah untuk kembali mengingatkan salah satu misi Islam membawa rahmat bagi semesta alam (
rahmatan lil-alamin).
“Kita tampilkan Islam yang menebarkan kebaikan serba utama. Rahmat menebar kasih sayang, cinta kasih, bahkan terhadap mereka yang berbeda golongan, dan segala perbedaan lainnya. Sehingga, agama dirasakan kemaslahatan dan kebermanfaatannya bagi siapapun di muka bumi ini dan semesta,” ujar Haedar.
(jqf)