LANGIT7.ID, Jakarta -
Isra Miraj tidak cukup hanya diyakini oleh umat muslim. Isra Miraj harus diimani dengan cara dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Umum PP Muhammadiyah,
Haedar Nashir memaparkan, Isra Miraj bagi umat Islam adalah fase di mana Rasulullah SAW mendapatkan risalah penting dari Allah SWT. Adapun makna meyakini Isra Miraj Nabi Muhammad SAW juga perlu diikuti dengan kebaikan dalam bertutur kata, berpikir, dan bertindak.
"Isi dari risalah tersebut bukan hanya perintah melaksanakan salat lima waktu, tapi juga mempertaruhkan keyakinan di antara umat Islam," kata Haedar, Jumat (17/2/2023).
Baca Juga: 5 Amalan Jumat Terakhir di Bulan Rajab, Banyak Rahmat dan AmpunanSelain itu, risalah Isra Miraj harus menjadi pendorong untuk melahirkan etos ilmu. Perpaduan antara iman dan ilmu ini akan melahirkan individu dengan derajat yang tinggi.
Adanya kombinasi antara iman dan ilmu dalam peristiwa Isra Miraj memberikan pelajaran agar umat Islam senantiasa melibatkan dimensi metafisika. Yaitu dengan melibatkan aspek ruhaniah dalam setiap melakukan aktivitas sehari-harinya.
Sehingga nantinya dapat melahirkan pribadi yang gemar melakukan amal salih. "Ilmu tidak sekadar pengetahuan verbal tetapi juga ada dimensi yang bersifat ilmu ilahiyah-profetik," ujarnya.
Artinya, ilmu harus bisa menebarkan kehidupan yang serba utama, membawa pada kondisi yang maslahat, dan menolak segala potensi yang mengandung mudharat. Sementara perintah salat adalah untuk menyucikan hati manusia, sehingga dapat melahirkan jiwa yang sehat.
"Hati yang khusyuk akan melahirkan jiwa yang teduh, damai, yang selalu memancarkan kebaikan. Khusyuk dalam salat juga akan melahirkan jiwa yang suci tapi tidak merasa semuci," ucap Haedar.
Baca Juga:
Isra Mi’raj Momen Tingkatkan Etos Iman, Ilmu, dan Amal Shalih
7 Peristiwa Penting di Bulan Rajab, Saat Rasulullah Menembus Langit ke-7(gar)