LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Majelis Tabligh PP
Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, menilai penganiayaan di kalangan remaja menjadi bukti adanya kerapuhan keluarga di Indonesia. Hal itu menjadi tantangan dan persoalan besar yang harus dibenahi bersama-sama.
Fathur menjelaskan, dunia saat ini sulit ditebak. Hal itumembuat generasi muda muslim di Indonesia turut mengalami degradasi. Mereka kemudian menjadi generasi stroberi yang lemah secara mental dan fisik.
Bukan hanya itu, tidak sedikit anak-anak muda saat ini yang memiliki penyakit ‘orang tua’ karena pola konsumsi yang tidak sehat. Masalah-masalah tersebut harus menjadi perhatian besar seluruh elemen bangsa, terutama tokoh yang berperan di dunia pendidikan.
Baca Juga: Ridwan Kamil Minta Muhammadiyah Lanjutkan Dakwah BerkemajuanFathur menyitir fenomena yang sedang viral tentang seorang anak pejabat yang melakukan penganiayaan. Peristiwa itu menyebabkan korban tidak sadarkan diri dan masih menjalani perawatan intensif.
Menurut dia, hal itu bukan tentang vitalitasnya, tetapi tentang perubahan besar dan mendasar yang di antaranya disebabkan oleh pesatnya media digital. Pesatnya media digital menerabas bilik-bilik keluarga Indonesia yang membuat anak-anak lepas dari bimbingan orang tua.
Pada titik ini, menurut Fathur, pondok pesantren menjadi lembaga pendidikan yang berperan penting dalam memperbaiki ahlak anak muda muslim. Pondok pesantren memiliki sistem pendidikan selama 24 jam.
Baca Juga: Tradisi Keilmuan dalam Persahabatan Pendiri Muhammadiyah dan NU“Mereka hidupnya terkontrol 24 jam. Maka, saya katakan orang tua yang ingin aman pendidikan anaknya ada alternatif pondok pesantren,” kata Fathur.di acara Pengajian Rutin Ahad pagi dan Hari Bermuhammadiyah Keluarga Besar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gombong, Kebumen, Sabtu (26/2/2023).
(jqf)