LANGIT7.ID, Jakarta - Banyak penelitian yang membuktikan kebenaran
Al Qur’an di tengah manusia modern. Hal itu membuktikan Al-Qur’an bukan produk akal manusia, tapi wahyu dari Allah Ta’ala.
Presiden
Islamic Information and Da'wah Centre International in Toronto, Dr. Shabir Ally, menjelaskan, pesan-pesan yang terkandung dalam Al Qur’an selalu bisa dipahami oleh siapa saja yang membaca kitab suci tersebut.
Misalnya dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 47. Ayat tersebut berbicara tentang alam Islam yang sangat luas dan terus mengembang. Allah Ta’ala berfirman;
Baca Juga: 6 Cara Tetap Istiqamah Beribadah dan Beramal Baik Berdasarkan Al Quranوَالسَّمَاۤءَ بَنَيْنٰهَا بِاَيْىدٍ وَّاِنَّا لَمُوْسِعُوْنَ
"Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan Kami benar-benar meluaskannya." (QS Adz-Dzariyat: 47)
Selama beberapa abad terakhir, para ilmuwan telah membuktikan perluasan alam semesta. Edwin Hubble pertama kali menyadari hal ini saat dia mengintip ke dalam teleskop besarnya pada 1929.
Penzias dan Wilson memenangkan Hadiah Nobel pada tahun 1964 untuk penemuan tentang Radiasi Gelombang Mikro Latar Belakang Kosmik. Gelombang ini dimulai pada saat Ledakan Besar ruang dan waktu dalam empat dimensi.
Baca Juga: Lima Prinsip Berdagang Sesuai Al Quran dan HaditsDemikian pula, ayat 11 dalam Surah Fussilat yang berbicara tentang suatu masa ketika alam semesta sedang berada di tahap dukhan. Orang yang membaca Al Qur'an akan memahami kata dukhan ini berarti asap.
“Para ilmuwan memahami bahwa dukhan mengacu pada massa gas yang memunculkan semesta. Hal ini dijelaskan oleh Dr. Maurice Bucaille dalam bukunya
The Bible, The Qur’an and Science,” kata Dr Shabir, dikutip
About Islam, Selasa (7/3/2023)
Selain itu, ayat 30 Surat Al-Anbiya’ dalam Al Qur’an berbicara tentang langit dan bumi yang disatukan sebelum Allah memisahkannya. Hari ini ilmuwan memahami ini sebagai referensi ke asal usul kesatuan yang akrab dan akhirnya pemisahan galaksi.
Baca Juga: 7 Ayat Al Quran yang Bangkitkan Semangat Kerja untuk Capai SuksesDisebutkan pula dalam ayat tersebut, Allah menciptakan setiap mahluk hidup dari air. Pada masa lalu, manusia tidak akan bisa percaya terkait kebenaran ayat tersebut.
Tapi hari ini, ilmuwan sepakat bahwa asal-usul kehidupan adalah air. Oleh karena itu, satu ayat Al Qur’an mengandung lebih dari satu pernyataan singkat tentang fenomena yang dapat diamati.
“Pengetahuan manusia yang paling maju tentang fenomena ini telah membantu kita untuk memahami dan mempercayai pernyataan-pernyataan Al Qur’an lebih dari sebelumnya,” ungkap Dr Shabir.
Baca Juga: Gara-gara Paludan Bakar Quran, Swedia Sulit Masuk NATOSalah satu bidang penemuan yang paling menarik dalam hal ini berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan embrio. Sebelum penemuan mikroskop, orang hanya bisa berteori tentang tahap awal pertumbuhan, dan banyak dari teori mereka akan menggelikan jika diajukan sekarang.
Mikroskop datang satu milenium setelah Al Qur'an membuat pernyataan akurat tentang tahap awal pertumbuhan. Ini menjadi salah satu bukti kebenaran Al-Qur’an.
Beberapa ilmuwan telah bersaksi tentang keakuratan pernyataan Al Qur'an melalui penelitian yang mereka lakukan. Dr. Keith Moore adalah penulis
The Creating Human, sebuah buku teks terkenal di bidang Embriologi.
Baca Juga: Kecam Pembakaran Al-Qur'an, Malaysia Sebar Sejuta Mushaf ke Seluruh Dunia“Pada edisi ketiga, hal. 8, dia menyajikan pernyataan-pernyataan dari Al Qur'an sebagai kemajuan yang ditandai atas pengetahuan ilmiah bidang yang tersedia pada saat itu,” ujar Dr. Shabir.
Dalam makalah terpisah, Dr. Keith Moore telah menjelaskan secara panjang lebar korelasi luar biasa yang dia temukan antara pernyataan Al Qur’an dan data embriologi modern.
Misalnya, Surah Al-Mu’minun ayat 14 dalam Al Qur’an menyebutkan bahwa Allah menjadikan manusia seperti lintah pada satu tahap. Dr. Moore menunjukkan, deskripsi ini akurat karena pada usia 24 hari embrio memang menyerupai lintah.
Baca Juga: Umat Islam Dunia Berunjuk Rasa Kecam Aksi Penistaan Al Quran di EropaSelain itu, ia bertindak seperti lintah yang mengekstraksi nutrisi dari darah induknya. Ayat yang sama mengatakan setelah itu, Allah membuat kita menjadi gumpalan yang dikunyah pada tahap selanjutnya.
Dr. Moore menunjukkan, embrio pada usia 28 hari memang terlihat seperti benjolan yang dikunyah, karena somit yang baru berkembang tampak mirip dengan bekas gigi yang biasanya kita tinggalkan pada sepotong permen karet.
“Pada usia 28 hari embrio tidak lebih besar dari sebutir beras. Itu tidak dapat dipelajari tanpa menggunakan mikroskop. Lalu bagaimana pengetahuan ini dapat ditemukan di dalam Al-Qur’an jika bukan melalui wahyu ilahi?” Tutur Dr Shabir.
(jqf)