LANGIT7.ID, Jakarta - Doktor Psikologi Sos-Pol, Muhammad Faisal, mengungkapkan satu fakta memprihatikan yang bisa mempengaruhi perkembangan mental remaja. Dewasa ini banyak konten-konten yang tersedia di berbagai platform streaming memuat konten
pornografi.“Konten-konten pornografi sekarang banyak dimuat dalam seri-seri remaja yang tersedia pada berbagai
platform streaming digital,” kata Faisal dalam sebuah pemaparan di akun Instagram-nya, dikutip Kamis (9/3/2023).
Pada dekade 90-an, seri-seri remaja memiliki muatan yang sungguh sangat berbeda. Konten-konten yang ditampilkan serta nilai-nilai yang hendak disampaikan lebih mengutamakan tentan tema kekeluargaan dan persahabatan.
Baca Juga: Shaykh Yahya Ibrahim Beberkan Cara Cegah Pornografi pada Anak-anak“Apa yang perlu diketahui tentang konten dan seri-seri remaja yang sekarang? cukup eksplisit menampilkan adegan-adegan yang dianggap memasuki ranah pornografi,” tutur Faisal.
Menurut Faisal, ada dua dampak negatif yang ditimbulkan dari konten-konten pornografi. Pertama,
neuroscience telah membuktikan bahwa menyaksikan sebuah tayangan pornografi pada usia remaja bisa menimbulkan efek adiksi karena
trigger dari hormon dopamine yang terjadi di dalam otak.
Kedua, anak muda dapat kehilangan komitmen dan juga fokusnya pada aktivitas harian karena karena imaji dan dorongan hormon mereka lebih banyak diarahkan kepada tontonan-tontonan yang mengandung muatan pornografi.
Baca Juga: Kemenko PMK Sebut Indonesia Darurat PornografiApabila itu terus berlanjut dan lebih larut, bisa menimbulkan satu permasalahan mental yang cukup serius. Pasalnya remaja akan memiliki satu ekspektasi yang tidak realistis terhadap bagaimana membangun sebuah hubungan intim dengan lawan jenis.
“Sampai saat ini, platform
streaming service digital tidak memiliki sebuah badan sensor atau komisi penyiaran yang akan menyortir tayangan-tayangan terdapat di dalamnya. Jadi, hal ini kembali kepada penonton para remaja dan juga para orang tua untuk lebih bisa memilah dan memilih, juga memiliki literasi tentang apa yang baik ditonton atau tidak,” tutur Faisal.
Kapan Anak Boleh Dikasih Gadget?Tak bisa dipungkiri,
gadget menjadi salah satu wadah paling ampuh bagi remaja dalam mengakses konten pornografi. Oleh karena itu, saat mendidik anak lelaki, orang tua mesti siap energi jiwa, akal, fisik, dan bekal keilmuan yang optimal.
Baca Juga: Waspadai Penyebaran Konten LGBT-Pornografi di Media SosialPada tahapan 0-7 tahun anak masih belum bisa konsisten positif, maka orang tua yang harus konsisten mendidik anak dengan positif. Al-Qur’an sebenarnya sudah memberikan petunjuk terkait kapan anak boleh memiliki gadget.
فَاِنْ اٰنَسْتُمْ مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوْٓا اِلَيْهِمْ اَمْوَالَهُمْ ۚ
"Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka hartanya." (QS An-Nisa: 6).
Baca Juga: Orang Tua Buka Percakapan Pornografi dengan Anak, Perlukah?Rusyda (رُشْدً) menjadi indikator orang tua dalam memberikan fasilitas gadget kepada anak. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir dampak negatif gadget saat perkembangan otak dan mental anak belum mampu memilah konten positif dan negatif.
“Berarti, syarat anak laki-laki boleh memiliki
gadget kalau sudah rusyda. Apa indikator anak laki-laki sudah rusyda? Kalau sudah berani safar sendirian. Berarti, salah satu tugas ayah adalah mengajarkan anak laki-laki safar. Jangan sampai ke rumah RT saja pakai google maps,” kata Ustadz Bendri Jaisyurrahman dalam serial webinar Fatherman, dikutip Kamis (9/3/2023).
(jqf)