LANGIT7.ID, Yogyakarta - Produk kerajinan tangan Indonesia memiliki nilai lebih di pasar global. Seperti produk tas rajut asal Yogyakarta, Dowa, yang memiliki pangsa pasar global di beberapa benua, seperti Asia, Amerika, dan Eropa.
Pemiliknya Delia Murwihartini mengisahkan, produknya tersebut dimulai dengan menyasar pasar ekspor terlebih dahulu, sekitaran 1990. Saat itu, ia memproduksi tas rajut untuk memenuhi permintaan kliennya di luar negeri.
“Awalnya memang saya membuat tas rajut untuk kebutuhan klien dengan merk dan brand milik mereka. Namun, seja 2008 saya mulai membuat brand Dowa ini dengan asli milik saya dan dari Indonesia. Alhamdulillah, produk ini bisa dengan cepat diminati di seluruh dunia,” ujarnya di Webinar Perempuan dan Pengelolaan UMKM, minggu ke empat Agustus 2021.
Baca juga: Menikmati Kopi Tabagsel, Dakara Berdayakan Produk UMKMDelia mengaku, selama 18 tahun selalu membuat produk kerajinan tas rajut untuk memenuhi permintaan pasar dunia. Produk tersebut merupakan permintaan dari beberapa kliennya yang sebelumnya telah menentukan tren warna, desain, dan kualitas.
Berkat pengalamannya yang sangat matang tersebut, Delia bisa dengan mudah membuat produknya sendiri, Dowa, untuk bisa bersaing dengan mengikuti arus perkembangan. Dalam waktu singkat, permintaan tas rajut miliknya pun juga bisa cukup diminati, baik di pasar domestik mau pun global.
“Saya sangat senang sekali karena brand ini cukup bisa berkembang pesat di pasar domestik. Bahkan, dulu klien kirim desain untuk kebutuhan produk mereka, sekarang terbalik, justru dengan adanya Dowa klien kami yang minta kami yang desain untuk pasar ekspor,” ujarnya.
Modal Sarjana, Ciptakan Lapangan KerjaKisah awal Delia menjalin relasi dengan pasar global terkait produk kerajinan tangan ini, bermula sejak ia lulus dari Universitas Gadjah Mada pada 1986. Saat itu, mengambil jalan sebagai wirausaha belum lah menjadi tren seperti saat ini.
Melihat fenomena banyaknya lulusan sarjana yang menganggur akibat gencar mengikuti seleksi pegawai negeri, Delia memutuskan untuk mencoba berdikari dan membantu mengurangi angka pengangguran yang ada.
“Saya lihat dan perhatikan produk kerajinan tangan Yogyakarta ini sebetulnya punya potensi. Di situlah saya lihat bahwa dengan modal sarjana, saya bisa menolong diri sendiri dan ada potensi kerajinan Yogyakarta yang cukup bagus, hingga akhirnya saya pilih tas,” jelasnya.
Delia menyebutkan, produk kerajinan tangan asli Indonesia sebenarnya memiliki potensi dan minat yang cukup baik di pasar global. Namun sayang, masyarakat asli Indonesia belum bisa menghargai produk dalam negerinya sendiri.
Sehingga ia putuskan untuk fokus di pasar ekspor dalam melakukan pemasaran produk kerajinan tangannya. Ternyata, perhitungannya tepat, produk kerajinan tangan Indonesia yang dikombinasikan dengan tren dunia, bisa berkembang dengan sangat pesat.
“Akhir 1989 saya buat tas rajut, awal Maret 1990 saya bisa ekspor ke Swedia dan berkembang hingga Eropa dan Amerika. Kebetulan sekali saya punya keberuntungan yang banyak, di mana saat 1991 saya bisa buka pameran di Paris Perancis, dibantu oleh Badan Penunjang Ekpsor Nasional (BPEN) dengan dana dari Dewan Penunjang Ekspor,” tuturnya.
Baca juga: Piawai Main Saham, Ini Sejumlah Investasi Ustadz Yusuf Mansur di BursaBisnisnya itu pun berlanjut, sampai 1993 ketika ia meneria pemesanan dari Inggris dan Jepang. Kala itu, kedua negara tersebut memesan tas rajut dengan bahan dari benang nilon, sementara Indonesia baru memproduksi tas rajut dari bahan benang katun dan serat agel.
Delia menyambut baik kesempatan tersebut, ia mulai memesan ke pabrik benang untuk dibuatkan benang nilon demi kebutuhan usahanya. Syarat yang diberikan pabrik saat itu, ia harus melakukan pemesanan sebanyak satu ton.
“Syaratnya saat itu saya harus booking sebanyak satu ton di tahun 1993-1994, tapi saya beranikan diri karena itu kesempatan. Ternyata setelah punya benang itu, saya bisa dengan mudah memasarkan hasil produknya ke seluruh dunia. Didukung pada 1995, klien di Amerika juga tertarik untuk mengembangkan produk tas rajut ini di negara mereka,” ungkapnya.
Pertama kali membentuk usaha tas rajutnya ini, Delia mengawalinya dengan 50 karyawan dan terus berkembang. Hingga saat ini, Dowa sudah memiliki 800 karyawan di bagian pabrik dan 10 ribu pengrajin yang tersebar dari Jawa Barat hingga Bali.
Dalam satu hari, Dowa menargetkan ekspor sebanyak 5.000 tas, sehingga dalam sebulan kurang lebih ia telah mengekspor tas rajut sebanyak 125 ribu. Untuk menyelesaikan satu tas rajut, memakan waktu satu hingga dua hari.
“Untuk bisa menjangkau pasar yang luas seperti ekspor, pelaku usaha harus memahami kelemahan dan kelebihannya. Untuk pasar luar negeri, produk kerajinan tangan itu sangat menarik, tapi mata kita dengan mata orang luar negeri berbeda. Sehingga kita harus bisa mengombinasikan antara kerajinan yang ada di Indonesia dengan selera pasar negara tujuan. Hal ini juga berlaku untuk para pelaku UMKM yang ingin melakukan eskpor,” jelasnya.
Pandemi Menurunkan Omzet, Menambahkan DoaDelia menuturkan, di masa pandemi ini memang menjadi pukulan keras bagi setiap bisnis di berbagai sektor yang digeluti, termasuk Dowa. Ia mengaku, semua kegiatan ekspornya terhenti kecuali kepada satu negara yang tidak pernah melakukan lockdown, yakni Swedia.
“Tujuan ekspor pertama kali di 1990 adalah Swedia, pun yang bertahan saat ini juga Swedia. Pandemi sangat memukul kami, karena Dowa itu identik dengan produk Yogyakarta, di mana orang dari luar kota itu bilangnya belum ke Yogyakarta jika belum berkunjung ke Dowa, tapi pandemi galeri kita harus tutup,” tuturnya.
Baca juga: Intip Gurita Bisnis Ustadz Yusuf Mansur, Setor Pajak Hingga Rp200 Juta per HariDi samping itu, pandemi juga menjadi peluang bagi seluruh sektor bisnis, termasuk Dowa untuk melakukan transformasi digital dalam urusan pemasaran. Selain itu, untuk memanfaatkan peluang di tengah pandemi, pihaknya juga melakukan shifting produk di bagian pabrik untuk memproduksi hazmat dan APD untuk tenaga kesehatan dan karyawannya.
“Produk tersebut kita jual juga di Dowa dengan kampanye 100 persen keuntungannya kita akan buat masker lagi untuk didonasikan kepada masyarakat. Kami juga membuat masker rajut untuk disumbangkan kepada puskesmas setempat. Memang omzet drop jauh sekali, tetapi kita harus realistis apa yang bisa kita lakukan saat ini adalah tolong-menolong. Saya optimis orang baik akan ditolong Tuhan,” imbuhnya.
(zul)