LANGIT7.ID, Jakarta - Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Budi Jaya Putra, mengungkapkan kesalahpahaman sebagian
masyarakat terkait hawa nafsu. Nafsu seringkali dipahami sebagai sesuatu yang negatif.
Mengutip pandangan Ibnu Rajab, jika ‘
al hawa’ digunakan secara mutlak, maka yang dimaksud adalah menyelisihi kebenaran. Sebagaimana firman Allah, “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)
Berdasarkan hal tersebut, hawa nafsu berarti mengikuti semua keinginan diri sendiri dengan berbagai cara. Hal itu akan menyesatkan seorang hamba dari jalan Allah.
Baca Juga: 4 Februari, Hari Internasional Persaudaraan Manusia“Jika manusia memiliki rasa ingin, misalnya ingin memiliki suatu benda, kalau itu dituruti hingga menghalalkan secara cara, maka hawa nafsu ini akan menyesatkan manusia,” ujar Budi dalam kajian yang diselenggarakan Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), dikutip Jumat (16/3/2023).
Kendati demikian, nafsu sebenarnya bisa berbuah positif, jika seorang hamba mampu mengendalikannya dengan mengikuti sunah Rasulullah SAW.
Dalam hadits Arbain yang ke-41 disebutkan, “Dari Abu Muhammad Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak beriman seorang dari kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa’.”
Baca Juga: 3 Tugas Manusia di Muka Bumi: Mengabdi, Menjadi Khalifah, dan BerdakwahMengikuti ajaran Rasulullah SAW merupakan cara yang paling memungkinkan seseorang untuk tidak menjadi budak hawa nafsu. Dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman:
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS An-Nazi’at: 40-41)
Artinya, kata Budi, apabila seseorang telah mengetahui batasan sehingga mampu mengendalikan hawa nafsu, maka Allah akan memberikan Kebahagiaan di akhirat kelak. Dengan demikian, seseorang mesti mendahulukan syariat daripada hawa nafsu.
Baca Juga: Keanehan Manusia Zaman Now, Akui Allah SWT tapi Abai Beribadah“Dikatakan sebagai manusia yang paling bebas bila seseorang telah mampu mengendalikan hawa nafsunya. Satu-satunya cara mengendalikan hawa nafsu jalan mencintai dan mengamalkan ajaran Islam yang dibawa Rasulullah SAW,” ujar Budi.
(jqf)