LANGIT7.ID, - Jakarta - Ketua Umum PP Muhammadiyah,
Haedar Nashir, mengatakan, puasa merupakan proses pembentukan ketakwaan yang secara ideal melahirkan spiritualitas utama dan luhur.
Puasa tidak boleh hanya menjadi ibadah rutinitas tahunan. Tetapi, harus ada signifikansi peningkatan kualitas diri setiap
umat Islam. Puasa bukan sekadar aktivitas menahan lapar dan dahaga saja, tapi ajang memperkuat iman untuk mencapai derajat takwa.
Baca juga: Ketahui 3 Tanda Puasa Seorang Muslim Sukses atau GagalHaedar lalu menguraikan empat poin penting terkait nilai-nilai spiritualitas
ibadah puasa:
1. Puasa Momentum Mendekatkan Diri kepada Allah
Puasa momentum untuk semakin dekat dengan Allah. Puasa sebagai bagian dari ibadah mahdlah merupakan aktivitas yang hanya boleh dilakukan karena Allah. Tunduk dan patuh kepada Allah dengan menjalankan ibadah puasa merupakan satu langkah untuk menjadi insan yang baik.
Insan yang baik akan melahirkan keimanan dalam hati. Insan yang tidak mungkin tergoda melakukan perkara-perkara yang dilarang agama seperti risywah, namimah, dan madzmumah.
“Dengan puasa akan terjadi gerakan spiritualitas tertinggi, di mana setiap muslim akan terjaga hidupnya,” ucap Haedar, Kamis (23/3/2023).
2. Puasa Momentum untuk Membiasakan Ahlak Mulia
Allah mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menyempurnakan akhlak manusia. Puasa merupakan salah satu cara untuk membentuk akhlak yang mulia. Orang yang berpuasa secara sungguh-sungguh, seluruh jiwanya akan tunduk dengan penuh kepasrahan kepada Allah.
Baca juga: Haedar Nashir: Islam Tidak Cukup Damai dan Toleran, tapi Juga Harus MajuMereka akan senantiasa menyebarkan pesan-pesan kebaikan disertai dengan perilaku yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan moral. Puasa dijadikan sarana untuk menundukkan diri agar kita tidak menjadi orang-orang yang berlebihan.
“Karena puasa mengajarkan kita untuk belajar untuk tidak berlebihan. Sikap hidup mewah bertentangan dengan kebiasaan dan kebaikan puasa maupun ajaran agama secara keseluruhan,” ucap Haedar.
3. Puasa Momentum Menjaga Persatuan dan Persaudaraan
Orang yang berpuasa pandai mengendalikan diri terutama dari emosi amarah dan kebencian. Segala bentuk pertengkaran dan permusuhan akan dijauhi. Sekalipun terdapat perbedaan paham yang begitu hebat, orang yang berpuasa akan senantiasa cinta damai dan persaudaraan.
Di dalam diri orang yang berpuasa, tidak ada tempat yang tersisa bagi para pemuja amarah dan pemantik konflik. Puasa mengajarkan hidup damai, rukun, dan diajarkan untuk hidup bersatu dan bersaudara.
“Puasa harus melahirkan gerakan sosial kebangsaan yang membuat kita kaum muslim sebagai kekuatan perekat bangsa, dan pembawa perdamaian yang mencegah konflik,” kata Haedar.
Baca juga: Haedar Nashir: Transformasi Pendidikan dan Kesehatan Harus Libatkan Nilai Iman-Takwa
4. Puasa Momentum untuk Hidup Penuh Toleran
Perbedaan penentuan tanggal untuk hari-hari besar umat Islam, misalnya, tidak perlu menjadi bahan olok-olokan. Puasa seharusnya menjadikan diri sebagai insan yang tasamuh, toleran, membawa pada ukhuwah.
“Dengan toleran, kita hidup saling menghormati. Maka, para ilmuwan, ulama, mubaligh, dan semuanya, ketika menemui perbedaan, kita harusnya semakin dewasa dan tasamuh,” tegas Haedar.
(est)