Ketua Badan
Wakaf Indonesia, Prof Mohammad Nuh (M Nuh) mengajak masyarakat menjadikan wakaf sebagai bagian dari gaya hidup (lifestyle).
Amal jariah yang dibawa seseorang sampai ke akhirat adalah shodaqoh jariah atau ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan orang tuanya.
"Jadikan gerakan berwakaf sebagai lifestyle. Gerakan tiada hari tanpa berwakaf, tiada hari Jumat tanpa berwakaf dan tiada bulan tanpa berwakaf," kata M Nuh saat memberikan ceramah agama usai tarawih bersama dekanat, dosen dan karyawan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair).
Baca juga:
BWI: Nonmuslim Boleh Berwakaf dan Terima WakafMantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini kemudian menjabarkan tiga hal yaitu shodaqoh jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakan orang tuanya.
Menurutnya, semua dokter itu sudah memiliki ilmu yang bermanfaat, tinggal shodaqoh jariah serta anak-anak yang sholeh. Ketiganya saling terkait, tidak mungkin memiliki anak yang sholeh tanpa adanya ilmu yang bermanfaat. Dan ilmu bermanfaat tidak mungkin bisa diraih tanpa adanya infrastruktur dari sebuah shodaqoh jariah.
Salah satu shodaqoh jariah adalah wakaf. M Nuh pun menjelaskan tentang perbedaab zakat dan wakaf. Menurut Rais Syuriyah PBNU ini, zakat itu ibaratnya biaya operasional kemasyarakatan. Begitu zakat dikumpulkan langsung dihabiskan. Tapi kalau wakaf bagaikan biaya modal atau investasi.
"Kalau misalnya zakat ayam, maka ayamnya dipotong dibagi-bagikan. Habis. Tapi kalau ayam itu diwakafkan, maka ayam itu tidak boleh dipotong. Ayam itu harus diternakkan dan hasil ternaknya itu yang dibagikan. Sehingga wakaf itu akan terus tumbuh," ujar Prof Nuh.
Mantan Rektor ITS ini menegaskan, berwakaf tidak harus berupa tanah dan bangunan tapi juga dalam bentuk uang.
Dekan FK Unair, Prof Budi Santoso mengaku mulai terbuka wawasannya tentang wakaf. Ternyata wakaf itu tidak hanya dengan membangun masjid dan sejenisnya tapi bisa dengan uang.
"Kemanfaatannya itu. Kalau punya investasi dalam bentuk sukuk, obligasi, hasil dari itu untuk menyantuni anak-anak tidak nampu. Itu manfaatnya luar biasa," jelas Prof Budi. Kehadiran M Nuh diharapkan bisa memberikan pencerahan bagi selurub sivitas akademika.
(ori)