LANGIT7.ID-, Jakarta- - PP Muhammadiyah telah menetapkan
Hari Raya Idul Fitri 1444 H jatuh pada Jumat, 21 April 2023. Artinya, sebagian besar umat Islam di Indonesia akan merayakan Idul Fitri pada Jumat.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah umat Islam yang telah melaksanakan Shalat Idul Fitri pada pagi hari tetap perlu melaksanakan Shalat Jumat dengan dua khutbah pada siang hari?
Pimpinan AQL Islamic Center, KH Bachtiar Nashir atau akrab disapa UBN, menjelaskan, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai wajib atau tidaknya melaksanakan Shalat Jumat bagi umat Islam yang telah melaksanakan Shalat Idul Fitri yang bertepatan jatuh pada hari Jumat.
"Perbedaan itu disebabkan adanya hadits-hadits Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa pada waktu hari raya jatuh pada hari Jumat, maka Nabi SAW memberikan rukhshah (keringanan) bagi mereka yang telah melaksanakan shalat id untuk tidak lagi melakukan shalat Jumat," ujar UBN dalam tanya jawab seputar Ramadhan di laman resminya, Senin (17/4/2023).
Baca juga:
Ramadhan di Palestina, Ekonomi Gaza dan Kebahagiaan Jelang Idul FitriSalah satu hadits yang dijadikan acuan adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, al-Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Baihaqi dan Hakim. Hadits itu mengisahkan Iyas bin Abi Ramlah al-Syami menyaksikan Mu'awiyah bertanya kepada Zaid bin Arqam, 'Apakah kamu menyaksikan bersama Rasulullah SAW dua hari raya bertemu dalam satu hari?'
Dia menjawab, “Ya”, maka Mu’awiyah bertanya lagi, “Bagaimana beliau melakukannya?”. Ia menjawab, “Beliau melaksanakan shalat id, kemudian memberikan keringanan untuk shalat Jumat, beliau bersabda: “Barang siapa yang ingin shalat Jumat maka shalatlah.”.
Namun, menurut UBN, ada perbedaan pendapat di antara ulama mengenai keshahihan hadits tersebut. Oleh karena itu, sebagai konsekuensi, mereka juga berbeda pendapat tentang wajib atau tidaknya melaksanakan Shalat Jumat.
"Kita sebagai umat Islam yang awam dan tidak mempunyai pengetahuan yang memadai tentang ilmu hadits dan fikih, sebaiknya mengikuti arahan dari ulama atau pemuka agama yang kita percayai sebagai panutan," kata UBN. "Yang terpenting, kita memperbanyak ibadah dan amal kebaikan di bulan suci Ramadhan dan menjaga ketaatan kita kepada Allah SWT."
(ori)