LANGIT7.ID-, Jakarta- - Masyarakat Indonesia sebentar lagi akan menggelar
pesta demokrasi lima tahunan. Pada 2024 nanti, wajah Indonesia lima tahun ke depan akan ditentukan melalui pemilihan umum.
Namun, bagaimana tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah dalam memilih pemimpin?
Menurut Shihab (2002), ada dua hal yang harus dipahami tentang hakikat kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan dalam pandangan Al-Qur'an bukan sekadar kontrak sosial antara pemimpin dengan masyarakat. Tetapi, kepemimpinan merupakan ikatan perjanjian antara pemimpin dengan Allah SWT.
۞ وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ ۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “Dan (juga) dari anak cucuku?” Allah berfirman, “(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” (QS Al-Baqarah: 124)
Baca juga:
Haedar Nashir Minta Nilai Pancasila Dilaksanakan, Jangan DiingkariKepemimpinan adalah amanah, titipan Allah SWT. Bukan sesuatu yang diminta, apalagi dikejar dan diperebutkan. Itu karena kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang serta menjalankan tanggungjawab melayani rakyat.
Ketika sahabat Abu Dzar meminta jabatan, Nabi Muhammad SAW bersabda,
"Kamu lemah, dan ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan di hari kemudian (bila disia-siakan)." (HR Muslim)
Kedua, kepemimpinan menuntut keadilan. Keadilan lawan dari penganiayaan, penindasan, dan pilih kasih. Keadilan harus dirasakan semua pihak dan golongan. Allah Ta'ala berfirman:
اِذْ دَخَلُوْا عَلٰى دَاوٗدَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ قَالُوْا لَا تَخَفْۚ خَصْمٰنِ بَغٰى بَعْضُنَا عَلٰى بَعْضٍ فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلَا تُشْطِطْ وَاهْدِنَآ اِلٰى سَوَاۤءِ الصِّرَاطِ
"
ketika mereka masuk menemui Dawud lalu dia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata, “Janganlah takut! (Kami) berdua sedang berselisih, sebagian dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan di antara kami secara adil dan janganlah menyimpang dari kebenaran serta tunjukilah kami ke jalan yang lurus." (QS Shad: 22)
Hal serupa disampaikan Hafidhuddin (2003). Ada dua pengertian pemimpin dalam Islam yang harus dipahami. Pertama, pemimpin berarti umara yang sering disebut juga dengan ulil amri. Ini disebutkan dalam Surah An-Nisa ayat 5.
Artinya, pemimpin adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus rakyat. Jika ada pemimpin yang tidak mau mengurus kepentingan rakyat, maka dia bukan pemimpin yang sesungguhnya.
Kedua, pemimpin sering disebut khadimul ummah (pelayan umat). Seorang pemimpin harus menempatkan diri pada posisi sebagai pelayan masyarakat, bukan dilayani. Dengan demikian, hakiat pemimpin sejati adalah seorang pemimpin yang sangguh dan bersedia menjalankan amanah Allah SWT untuk mengurus dan melayani masyarakat.
Baca juga:
Suami Istri Gowes Naik Haji, Jual Mobil untuk Bekal PerjalananSyarat Jadi Pemimpin Menurut Al-Qur'an dan SunnahMenurut para ulama, minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Pertama, shidq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap, dan bertindak di dalam melaksanakan tugas. Lawannya adalah bohong.
Kedua, amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan seseorang memelihara dan menjaga sebaik mungkin yang diamanahkan kepadanya, baik dari masyarakat yang dipimpin, terlebih amanah dari Allah SWT. lawannya adalah khianat.
Ketiga, fathonah yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh.
Keempat, tabligh yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambil (akuntabilitas dan transparansi. Lawannya adalah menutup-nutupi (kekuarangan) dan melindungi (kesalahan).
Dalam Al-Qur'an ada beberapa ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat seorang pemimpin. Di antaranya dalam Surah As-Sajadah ayat 24 dan Al-Anbiyah ayat 73. Sifat-sifat yang dimaksud adalah kesabaran dan ketabahan.
Kemudian, pemimpin harus mampu menunjukkan jalan kebahagiaan kepada masyarakat sesuai dengan petunjuk Allah SWT. Pemimpin juga harus memiliki kepribadian shalih dan telah membudaya pada dirinya kebajikan.
Hafidhuddin (2002) mengutip pendapat Al-Mubarak yang menyebut empat syarat menjadi pemimpin. Pertama, memiliki akidah yang benar (aqidah salimah). Kedua, memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas (ilmun wasi'un).
Ketiga, memiliki ahlak yang mulia (akhlaqulkarimah). Keempat, memiliki kecakapan manajerial dan administratif dalam mengatur urusan-urusan duniawi.
Kriteria Memilih Pemimpin Menurut Buya YahyaDalam cemarahnya disiarkan secara daring, Pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah, Prof Yahya Zainul Ma'arif (Buya Yahya), mengungkapkan lima kriteria yang harus dipahami dalam memilih pemimpin.
1. Niat mulia yang dibarengi dengan sholat hajat, shalat istikharah dan dibarengi dengan permohonan kepada Allah.
2. Tentang kedekatan calon pemimpin kepada Allah SWT.
3. Siapa saja yang berada disekitar calon pemimpin tersebut karena akan mempengaruhi calon pemimpin tersebut.
4. Calon pemimpin yang mencintai hamba Allah, dalam artian telah tampak pada dirinya bukti-bukti keberpihakan pada kepentingan orang banyak.
5. Bertawakal kepada Allah, sebab seseorang sudah berusaha dan yang menentukan keputusan adalah Allah.
(ori)