LANGIT7.ID-, Jakarta- - Penyebaran informasi palsu (hoaks) diperkirakan akan meningkat menjelang tahun politik 2024. Hal tersebut harus diiringi dengan literasi digital untuk meredam lalu-lintas hoaks di tengah masyarakat, terutama melalui digital.
Atas kekhawatiran tersebut, PP Pemuda Muhammadiyah akan melakukan edukasi terkait literasi digital, seperti identifikasi potensi penyebaran hoaks. Potensi hoaks agar dipetakan lalu 'dilawan' dengan fakta.
"Kita akan coba lakukan klasifikasi konten hoaks, melalui media ketika misalnya ada potensi hoaks yang kita lihat kita coba membangun opinin, juga jadi istilahnya ada perang opini," kata Ketua Hukum HAM dan Advokasi PP Pemuda Muhammadiyah, Nasrullah, dalam acara Obral-Obrol liTerasi Digital (OOTD) di Jakarta, dikutip Senin (26/6/2023).
Nasrullah mengatakan, penyebaran berita bohong atau hoaks wajib ditangani secara serius. Itu karena berpotensi menimbulkan kegaduhan dan memecah-belah masyarakat. Maka itu, kegiatan literasi digital sangat diperlukan mengingat masih banyak masyarakat yang belum melek digital, sedangkan sehari-hari mereka menggantungkan informasi dari media sosial.
Apalagi berdasarkan hasil penelitian Dewan Pers pada 2019, hampir 70% masyarakat Indonesia mengandalkan informasi dari media sosial (medsos). Maka perlu ada langkah strategis untuk menangani hal tersebut.
"Kita coba merumuskan langkah strategis dari segi hukum menghadapi potensi pelanggaran terhadap larangan penyebaran hoaks yang berpotensi menggangu persatuan anak bangsa," kata Nasrullah.
Sementara, Ketua Umum Sobat Cyber Indonesia, Virna Lim, menyampaikan, sasaran empuk berita bohong bukan anak muda saja, tapi juga orang tua, terutama kaum perempuan yang seringkali mudah terbawa perasaan.
“Bahwa kita perlu banyak sekali memfilter dan juga meningkatkan literasi lagi karena sebenarnya literasi itu menuntut kita untuk mencari kebenaran dari suatu konten dan ini juga dampaknya sangat berbahaya sekali baik dari jejak digital kita baik tadi mau cari kerja mau cari jodoh,” ujar Virna.
Fact Checker Spesialis Mafindo, Aribowo Sasmito menyampaikan jika sebaran paling tinggi berita bohong beredar saat musim politik. Selain berita bohong, ada juga kejahatan siber lainya seperti phising atau penipuan kata sandi yang berakibat pada kerugian finansial.
"Karena itu literasi digital menurutnya amat penting agar masyarakat terbebas dari efek buruk dunia digital," ucap Aribowo.

(ori)