LANGIT7.ID-, Jakarta- - Ketua Majelis Ulama Indonesoa (MUI) KH CHolil Nafis mengungkapkan, ibadah
kurban memiliki banyak hikmah sebagai ibadah sosial yang ditetapkan Allah SWT.
Jika kurban dilakukan dengan ikhlas untuk mengharap ridha Allah SWT akan memberikan hikmah dan manfaat bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat.
KH Cholil menyebut setidaknya ada empat hikmah dari ibadah kurban. Pertama, meningkatnya keimanan kepada Allah SWT. Ibadah kurban yang dilakukan umat Islam dapat melatih ketaatan dan kepasrahan total kepada Allah SWT.
"Orang yang dekat dengan Allah akan memperoleh predikat muqarrabin, muttaqin dan memperoleh kemuliaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat," kata Kyai Cholil saat menyampaikan Khutbah Idul Adha di Pesantren Cendekia Amanah Depok.
Baca juga:
Pembakaran Al-Qur'an Saat Idul Adha, Sejumlah Negara Beri KecamanKedua, membersihkan diri dari sifat-sifat bahimiyyah. Ketika hewan kurban jatuh ke bumi, maka saat itulah sifat kebinatangan harus hilang, seperti kerakusan, keserakahan, kekejaman dan penindasan.
Ketiga, menumbuhkan cinta dan empati kepada orang lain. Kurban dalam Islam tidak sama dengan kurban dalam agama selain Islam. Islam tidak memerintahkan penyembelihan hewan penyembelihan, tetapi Islam memerintahkan agar daging diberikan kepada fakir miskin agar mereka dapat menikmati kelezatan daging hewan.
"Sehingga ada rasa empati, berbagi, memberi, dan ukhuwah Islamiyah antar sesama," ungkap Kyai Cholil.
Keempat, melatih kedermawanan. Pengorbanan tersebut dilakukan setiap tahun secara berulang-ulang hingga orang yang memberikan kurban terbiasa untuk berdonasi kepada orang lain. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2022 sebanyak 26,16 juta orang.
"Garis Kemiskinan Maret 2022 tercatat sebesar Rp505.469,00/kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp374.455,00 (74,08 persen) dan Garis Kemiskinan Non Makanan sebesar Rp131.014,00 (25,92 persen)," ujar Kyai Cholil.
Dia menjelaskan, ibadah qurban merupakan salah satu ibadah penting dalam ajaran Islam. Ibadah ini memiliki pondasi kuat dan memiliki akar sejarah panjang dalam tradisi rasul-rasul terdahulu. Ajaran kurban dan praktiknya telah ditunjukkan secara sinergik oleh para nabi dan rasul hingga Nabi Muhammad SAW Nabi Ibrahim AS dikenal sebagai peletak batu pertama ibadah ini.
Peristiwa penyembelihan yang dilakukan Nabi Ibrahim AS terhadap putranya Nabi Ismail AS merupakan dasar bagi adanya ibadah kurban. Nabi Ibrahim AS dengan penuh iman dan keikhlasan bersedia untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail hanya semata-mata untuk memenuhi perintah Allah SWT.
"Ini adalah ujian ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah. Belakangan kurban ini menjadi anjuran umat Islam untuk menyembelih hewan kurban, setiap tanggal 10 Dhul Hijjah dan pada hari Tasyrik yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah," ungkap Kyai Cholil.

(ori)