LANGIT7.ID-, Jakarta- - Beberapa hari ke belakang masyarakat menyuarakan keresahan akan
wisuda anak mulai dari jenjang TK hingga SMA. Polemik penghapusan wisuda anak yang ramai di media sosial dinilai memberatkan orang tua.
Hal tersebut bermula dari komentar orang tua murid di salah satu unggahan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim.
Wisuda saat dianggap sudah hilang kesakralannya. Mayoritas orang tua melihat wisuda sebagai momen selebrasi di jenjang perguruan tinggi.
"Tolong Pak Nadiem sekarang dihapuskan acara wisuda dari TK-SMA karena hanya memberatkan biaya para orang tua. Wisuda hanya untuk lulusan universitas saja, bukan dari TK," komentar akun @mikhaylaeka2023 pada unggahan Nadiem Makarim.
Baca juga:
Rayakan Hari Kemenangan, MUI Rilis Film Dokumenter Amdo DalleSejumlah orang tua menanggapi setuju dengan komentar tersebut. Alasannya usai kelulusan, anak akan menempuh jenjang yang lebih tinggi yang membutuhkan biaya tidak sedikit.
Merespons kondisi tersebut, Kemendikburistek mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 14 Tahun 2023 yang diterbitkan 13 Juni 2023.
Bunyi SE itu adalah imbauan untuk tidak menjadikan kegiatan wisuda sebagai kegiatan wajib dan jika melaksanakan pelepasan siswa dalam bentuk wisuda tidak boleh membebani orang tua atau wali peserta didik.
Pengamat Perkembangan Anak, Remaja, dan Pendidikan, T. Novi Poespita Candra, mengatakan selain imbauan dibutuhkan juga edukasi terkait esensi wisuda pada semua pihak termasuk orang tua.
“Perlu edukasi karena kalau cuma dilarang wisuda nantinya akan tetap ada kegiatan serupa, hanya ganti nama. Bukan soal selebrasi atau wisudanya tapi lebih ke life style berlebihan saat wisuda,” tegas Novi, dikutip dari laman Universitas Gadjah Mada, Jumat (30/6/2023).
Esensi dari kegiatan wisuda adalah sebagai ajang refleksi bagi anak-anak dan orang tua terkait perjalanan mereka selama menjalani pendidikan.
“Sebenarnya wisuda itu selain mensyukuri ada tahap yang sudah terlampaui, tetapi juga sebagai refleksi perkembangan apa yang sudah dicapai. Refleksi pada masing-masing anak,” tambah psikolog yang juga dosen di Fakultas Psikologi UGM ini.
Di samping itu, momen wisuda juga dimaknai sebagai upaya untuk menyiapkan anak dan orang tua menjalani jenjang pendidikan selanjutnya.
“Bukan soal adminsitrasi loh, tetapi misal mau SMP kan sudah remaja. Nah, memasuki masa remaja ini apa yang perlu disiapkan orang tua, apa yang dipesankan pada anak-anak, pemaknaan seperti ini yang harus dipelajari,” tutupnya.

(ori)