LANGIT7.ID-, Jakarta- - Terdapat sekitar 53 KK di Desa Ngawu, Baturetno, Wonogiri, Jawa Tengah dan jumlah muslim hanya delapan keluarga. Distribusi
daging kurban dilakukan di desa yang sekarang muslim jadi minoritas.
Pemandangan tidak biasa terjadi, sebab di tengah agenda kurban terdapat orang-orang berkalung Salib Rosario ikut membantu mencacah-cacah daging kurban. Pemandangan luar biasa sejuk, yang Islam paripurna ajarkan toleransi.
"Saya merasa bangga atas diselenggarakan Qurban di Dusun Ngawu ini. Bangga karena adanya kebersamaan dan tidak ada saling pilih, ketika mengadakan agenda yang guyub rukun seperti ini," kata Franciscus Riyanto, tokoh Katolik Dusun Ngawu.
Baca juga:
Masjid Al Akbar Surabaya Olah Limbah Kurban Jadi Kompos Hal yang lebih unik dalam agenda ini adalah local pride dalam packaging daging kurban. Daun jati digunakan untuk membungkus daging kurban, supaya mengurangi penggunaan plastik dengan memanfaatkan barang eco-friendly di sekitar dusun.
"Kita menyebutnya Eco-Qurban, selain ramah lingkungan ternyata daging yang dibungkus daun jati lebih tahan lama dibandingkan dengan bungkusan plastik," kata Izzul Muslimin, ketua Pemhida DIY - Jateng Bagsel.
Kurban Pedalaman ini sudah dijalankan di pelataran Masjid Ummul Mu'minin Aisyah Radhiallahu 'Anha selama tiga tahun terakhir. Setelah Qurban selesai dibagikan, warga Muslim Ngawu melaksanakan Shalat Jum'at pertama di Masjid tersebut.
"Ya, selama 3 tahun berdirinya masjid ini, alhamdulillah baru pertama digunakan untuk Sholat Jum'at kali ini. Alhamdulillah, acara berlangsung khidmat penuh makna. Kami turut ucapkan jazakumullah khayron kepada temen-temen Ngadem (Ngaji dan Membagi) yang ikut menggerakkan warga, serta muhsinin yang mendonasikan hewan qurban lewat kami", tutur Ketua DPD Hidayatullah Wonogiri, Mas Pri.

(ori)