Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 23 April 2026
home masjid detail berita

Lebih Baik Memaafkan karena Dendam Merugikan Diri Sendiri

Muhajirin Sabtu, 08 Juli 2023 - 15:00 WIB
Lebih Baik Memaafkan karena Dendam Merugikan Diri Sendiri
Memaafkan lebih baik daripada dendam karena bisa merugikan diri sendiri.
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Dalam bahasa Arab, dendam atau suka membalas disebut al-intiqaam. Makna dari kata ini yakni seseorang tidak ridha sampai membalas persis sesuai yang diperbuat orang lain padanya. Lawan dendam adalah memaafkan atau lapang dada. Dalam bahasa Arab disebut al-‘afwu.

Pendiri Formula Hati, Ustadz Muhsini Fauzi, menjelaskan, jiwa manusia secara umum tidak cukup mudah berhenti pada batas yang ditetapkan. Maka dalam konteks ini, sangat ditekankan untuk berhati-hati agar berhenti pada batas pembalasan yang diizinkan. Tidak boleh melampaui.

“Karena tidak mudah, Allah memerintahkan untuk bertakwa dan memaafkan saja,” kata Ustadz Fauzi dalam Kajian Ahlak dan Adab Bersama Formula Hati, dikutip Sabtu (8/7/2023).

وَالَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَاِذَا مَا غَضِبُوْا هُمْ يَغْفِرُوْنَ ۚ

"Dan juga (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah segera memberi maaf," (QS Asy-Syura: 37).

Baca juga:Allah Larang Hamba-Nya Berlebihan dalam Ibadah

Ahlak membalas bukan ahlak yang baik. Kalaupun terpaksa membalas, maka harus dipastikan persis yang diterima. Dalam Bahasa agama disebut qisas. Hal itu tertuang dalam Surah Al-Baqarah ayat 194.

اَلشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمٰتُ قِصَاصٌۗ فَمَنِ اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوْا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

"Bulan haram dengan bulan haram, dan (terhadap) sesuatu yang dihormati berlaku (hukum) qisas. Oleh sebab itu barangsiapa menyerang kamu, maka seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadap kamu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (QS Al-Baqarah: 194)

Dalam hadits disebutkan, dari Aisyah RA, “Rasulullah SAW tidak pernah memukul apapun dengan tangannya. Dia juga tidak pernah memukul istri-istri dan pelayannya, kecuali apabila beliau berjihad di jalan Allah. Ketika beliau disakiti, beliau sama sekali tidak pernah membalas orang yang menyakitinya, kecuali bila ada larangan Allah yang dilanggar, maka beliau membalas karena Allah.” (HR Muslim No.6391)

Imam Nawawi saat mengomentari hadits tersebut mengatakan, “Kita didorong untuk memaafkan, berlapang dada dan sanggup menerima rasa sakit dari orang, kecuali jika hukum Allah dilanggar.”

Baca juga:Asri Welas Sebut NTB Trendsetter Fesyen Muslimah Indonesia

Ibnu Qayyim mengatakan, “Memaafkan, lapang dada, terdapat padanya kenikmatan dan ketenangan dan kemuliaan diri yang tidak ia dapatkan Ketika orang suka membalas.” Beliau juga mengatakan, “Tidaklah orang membalas kepada orang lain kecuali akan disertai dengan penyesalan di belakangnya.”

Sementara, Ibnu Arabi mengatakan, “Orang yang memiliki kemampuan membalas itu yang paling buruk adalah Ketika dia membalas.” Contohnya, penguasa yang melakukan pembalasan adalah ahlak yang paling buruk, sejatinya pada posisi itu yang paling bagus adalah memaafkan.

Ustadz Fauzi lalu mengungkapkan beberapa dampak buruk dari balas dendam. Pelaku dendam tidak akan cukup mudah untuk meraih kemuliaan. Daud Ibn Rusyd mengatakan, tidak akan orang mendapatkan keuntungan bersama kezaliman, dan tidak aka nada kepemimpinan bersama dendam.

“Sepanjang sejarah orang-orang mulia tidak memiliki sifat ini (dendam). Ahlak ini akan menarik atau mengundang ahlak buruk yang lain. Dendam akan mendatangkan penyesalan luar biasa. Dendam akan melahirkan masyarakat yang saling membenci, saling iri dengki,” kata Ustadz Fauzi.

Selain itu, Ustadz Fauzi juga memberikan tips agar sifat dendam bisa hilang dari dalam dendam. Pertama, bangun mindset yang benar tentang dunia agar semua masalah dapat ditempatkan sebagai masalah ringan.

“Kedua, bangun hati yang lapang dan bersih, yang lembut bagai air sehingga tidak mudah terluka. Cara membangunnya dengan banyak zikir. Ketiga, membiasakan diri untuk focus pada perbuatan yang penting-penting,” ujar Ustadz Fauzi.



(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 23 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:52
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)