LANGIT7.ID-, Jakarta- - Sekretaris Umum Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menjelaskan,
generasi milenal memiliki distinksi dengan generasi lain dalam konteks spiritual, budaya, dan ekonomi. Dalam sisi spiritualitas, generasi ini memiliki karakteristik dan tingkat spiritualitas berbeda dari generasi sebelumnya.
“Generasi Z atau milenial ini memang memiliki spiritualitas yang memang lebih rendah dibandingkan dengan generasi sebelumnya,” kata Mu’ti dalam pengajian umum di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, dikutip Sabtu (15/7/2023).
Merujuk sumber-sumber penelitian, Guru Besar Pendidikan Islam itu menjelaska, terdapat beberapa indikator untuk mengukur rendahnya spiritualitas generasi milenial. Pertama, pandangan mereka tentang makna agama bagi kehidupan. Mereka menganggap agama tidak terlalu diperlukan dalam kehidupannya.
Baca juga:
Santri Jadi Penggerak Ekonomi dan Pendorong Penciptaan 4,4 Juta Lapangan KerjaGenerasi milenial tidak merasa agama perlu dan agama tidak penting penting. Bahkan, mereka memiliki karakteristik saat berbicara tentang agama. Pandangan mereka terhadap agama sesuai karakteristik mereka easy going dan cenderung bebas.
“Mendapatkan sesuatu secara mudah, kelompok ini cenderung memaknai spiritualitas sebagai ketenangan batin. Namun tidak berarti dia harus terikat dengan agama-agama tertentu,” ungkap Mu’ti.
Kenyataan tersebut yang menimbulkan trend pada kalangan generasi muda untuk memilih tidak beragama. Meskipun mereka mempercayai spiritualitas ke-Tuhanan, tetapi mereka enggan terikat dengan institusi agama manapun atau agnostik.
Dengan kalimat sederhana Abdul Mu’ti menyebut mereka “mencintai tapi tidak mau memiliki.” Fakta tersebut menjadi alasan Muhammadiyah mengangkat isu spiritualitas kelompok generasi milenial ini menjadi isu nasional dalam Muktamar ke-48 di Surakarta beberapa waktu lalu itu.
Indikator yang kedua, generasi muda ini lebih longgar dalam relasi antar kawan, bahkan relasi antar agama. Sifat terbuka dan lebih menerima nilai-nilai universal, daripada nilai yang memisahkan mereka.
“Penerimaan terhadap perbedaan-perbedaan itu lebih tinggi di kelompok ini. Karena mereka lebih cair, bergaulnya itu melintas batas,” ujarnya.
Baca juga:
Kolaborasi Antarnegara Berpenduduk Muslim Perkaya Kearsipan Nilai dan Kultur IslamKecenderungan sikap tersebut dapat dilihat dalam case LGBT. Mu’ti menyebut, kelompok generasi muda ini lebih mudah menerima perbedaan orientasi seksual tersebut, ketimbang kelompok ‘kolonial’ atau tua.
Sikap pelonggaran yang diikuti oleh kebanyakan generasi milenial atau Z ini berdampak pada demografi suatu negara. Sebab, mereka cenderung untuk memilih tidak menikah, menyebabkan pertumbuhan penduduk di suatu negara itu negatif. Realitas tersebut dapat ditemukan di negara-negara maju.
“Kelompok ini begitu longgar, yang kadang-kadang menimbulkan ketegangan antar generasi.” Imbuhnya.
Berbagai kenyataan tersebut menjadi alasan Muhammadiyah mengangkat isu spiritualitas generasi milenial sebagai isu nasional. Saat ini dan ke depan, demografi penduduk Indonesia mayoritas adalah kelompok generasi ini. Sehingga masa depan bangsa ini digantungkan kepada generasi milenial.

(ori)