LANGIT7.ID-, Jakarta- - Isu kurangnya keterlibatan
ayah dalam pengasuhan anak menjadi isu global yang disebabkan oleh beragam faktor. Dulu, banyak suami berangkat perang sehingga peran pengasuhan anak didominasi para ibu.
Kemudian saat ini, banyak suami terutama yang tinggal di daerah metropolitan menghabiskan waktu untuk bekerja. Hal itu membuat banyak ayah tidak memiliki banyak waktu bersama anak. Hal itu bisa membuat peran ayah dalam mengasuh anak semikin sedikit.
Penulis dan Praktisi Parenting, Bunda Karina Hakman, menjelaskan, ada pondasi-pondasi awal perlu diketahui dalam melibatkan Ayah pada pengasuhan anak. Pondasi-pondasi itu di antaranya:
Baca juga:
Jangan Anggap Remeh, Ini Dampak Minimnya Peran Ayah dalam Pengasuhan1. Menyamakan Frekuensi, Tujuan Pendidikan Anak dalam Islam
Al-Qur'an sudah memberikan garis besar tentang pendidikan anak. Hal itu termaktub dalam Surah At-Tahrim ayat 6. Allah SWT berirman, ”Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS At-Tahrim: 6)
Melalui ayat tersebut, maka keluarga muslim perlu menyamakan frekuensi terkait pendidikan anak dalam Islam. Apabila sudah satu frekuensi, akan memudahkan orang mengobrolkan tentang membangun keluarga.
"Ayat ini hampir selalu digunakan dalam pembahasan tujuan mendidik anak, tujuan pendidikan anak, dan tujuan pendidikan keluarga," kata Karina dalam kuliah online Edufic, Senin malam (31/7/2023).

Hal itu juga merupakan dasar minimal dalam rumah tangga. Setiap pengambilan keputusan dalam keluarga sebaiknya diawali dari ayat tersebut. Misalnya, dari memilih calon pasangan. Dalam konteks ini, seseorang bisa memulai dengan memilih calon suami yang baik. Artinya, memilih calon ayah, sehingga bisa memiliki frekuensi yang sama.
2. Menyamakan frekuensi, Pembagian Peran Pendidikan di dalam Islam
”Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberi nafkah dari hartanya.” (QS An-Nisa: 34)
Laki-laki adalah Qawwaam bagi para perempuan. Makna Qwwaam secara umum adalah pemimpin-pemimpin negara yang berarti selalu seorang laki-laki. Hal ini bukan untuk mendegradasi kemampuan perempuan.
"Namun hal ini sudah masuk dalam peran yang ditetapkan oleh Allah SWT," ujar Karina.
Begitupun dalam sebuah keluarga. Ketika seorang laki menjadi suami, maka dia adalah qawwam bagi istri. Ketika menjadi ayah, dia menjadi qawwam untuk anak-anak. Bahkan, apabila si ayah sudah wafat, dan diantara anak-anaknya ada yang laki-laki, maka anak laki-laki tersebut menjadi qawwam bagi keluarganya.
"Pembagian peran ini sudah menjadi ketetapan Allah SWT yang kita terima. Allah SWT yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Ini semua sudah menjadi kebijaksanaan Allah SWT," ujar Karina.
Lebih lanjut, Qawwam berasal dari kata qaama yaquumu yaitu sesuatu yang berdiri. Maka peran seorang qawwam, baik suami maupun seorang ayah, adalah menjaga supaya keluarga tetap tegak lurus haniifah di jalan Allah SWT.
"Untuk mencapai keluarga yang selamat dari api neraka. Maka yang dimintai pertanggungjawaban terhadap keluarga yang utamanya adalah seorang suami," tutur Karina.
Kemudian, Qawwam juga bermakna melindungi. Maka, seorang Qawwam dalam keluarga bertugas melindungi istri dan melindungi anak-anaknya dari segala bahaya. Baik melindungi secara fisik, seperti memberikan nafkah atau tempat tinggal; maupun melindungi secara psikologis seperti memberikan kasih sayang, pengertian, bimbingan dan kebutuhan psikologis lainnya.
"Qawwam juga memiliki peran dalam mendidik. Baik mendidik secara langsung maupun dengan cara memberikan sarana-sarana atau fasilitas Pendidikan bagi keluarganya," ungkap Karina.
Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah: 223. ”Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.”
Apabila ditinjau dari sisi parenting, ayat itu merupakan bahasa kiasan bahwa seorang istri adalah ladang bagi suami, baik secara fisik maupun secara psikologis dalam proses pendidikan anak.
Selain itu, pascaanak lahir seorang ibu hendaknya menyusui anak selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Kewajiban bagi ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut.
”Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya.” (Q.S. Al-Baqarah: 233)
3. Urgensi Keterlibatan Ayah, Keluarga Teladan di dalam Al-Qur’an
”Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing),” (QS Al–Imran: 33)
Allah SWT memilih Ibrahim dan Imran satu keluarga. Setiap kali shalat, selawat dihaturkan kepada Rasululah SAW dan kepada Nabi Ibrahim beserta keluarganya. Hal itu menunjukkan betapa tingginya posisi keluarga Ibrahim.
"Apabila kita kembali mengingat kisahnya, bahwa bukan hanya Nabi Ibrahim yang shalih, namun kedua istrinya pun shalihah Sarah dan Hajar. Juga kedua anaknya yang shalih yaitu Ismail dan Ishaq," ujar Karina.
Jika melihat keluarga Imran yang bukan nabi dan rasul, tapi Allah pilih satu keluarga dan dijadikan sebagai nama surat yaitu surat Ali-'Imran. Keluarga Imran ini melahirkan anak perempuan yang bernama Maryam Binti 'Imran.
(ori)