Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 12 April 2024
home global news detail berita

Viral Video Lagu Anak Bermuatan LGBT, Psikolog: Akibat Kurang Perhatian

Muhajirin Senin, 28 Agustus 2023 - 21:15 WIB
Viral Video Lagu Anak Bermuatan LGBT, Psikolog: Akibat Kurang Perhatian
ilustrasi
skyscraper (Desktop - langit7.id)
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Baru-baru ini ramai lagu anak berjudul "Saat Kecelakaan Terjadi" di kanal YouTube Lellobee berbahasa Indonesia diduga mengandung unsur Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).

Adapun potongan lirik yang viral dalam video yakni "papa dan ayahku siap bantu". Istilah 'papa dan ayahku' diduga netizen merujuk pada pasangan LGBT dan merupakan keluarga si anak.

Dalam ajaran Islam, LGBT merupakan perilaku yang tidak dapat dibenarkan. Ajaran Islam sudah jelas hitam dan putih dalam menyikapi perilaku LGBT. Namun saat ini perilaku menyimpang tersebut justru mulai mendapat lampu hijau dari beberapa golongan masyarakat lain di berbagai belahan dunia.

Maka itu, hal terpenting untuk diperhatikan saat ini adalah cara mencegah perilaku menyimpang tersebut. Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Ati Kusmawati, mengatakan, perilaku LGBT dapat menular dan bisa tumbuh dalam diri siapapun.

Baca juga:Resmikan LRT Jabodebek, Jokowi Minta Masyarakat Beralih ke Transportasi Massal

Ati menceritakan salah seorang klien konselingnya yang secara fisik tidak kelihatan memiliki perilaku LGBT. Klien tersebut bercerita tentang hal yang menjadi faktor pemicu timbulnya perasaan tidak normal yang mengarah pada perilaku LGBT.

Setelah beberapa konseling, Ati mendapati anak tersebut kurang mendapat perhatian dari keluarga. Hingga pada akhirnya dia menemukan perhatian lain dari teman sesama jenis. Dari situ, dia menyimpulkan pelaku LGBT adalah orang-orang yang kurang perhatian.

Maka itu, harus ada pendidikan pencegahan perilaku menyimpang tersebut yang dilakukan sejak usia dini, yaitu dengan pola asuh yang tepat. Selain lingkungan, pola asuh merupakan hal yang sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Pola asuh menjadi kunci utama pembentukan karakter dan perilaku anak.

"Tugas mendidik anak bukan hanya jadi tanggung jawab ibu sebagai madrasatul ula (sekolah pertama dan utama), akan tetapi seluruh ekosistem yang ada di dalam keluarga berperan dalam melaksanakan pendidikan utama dan pertama sebelum seorang anak mendapatkan pendidikan di lingkungan sosial dan lembaga pendidikan formal," kata Ati melalui laman UMJ, dikutip Senin (28/8/2023).

Dia menjelaskan, kasih sayang orang tua terhadap anak biasanya ditunjukkan dengan memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Namun, belum tentu kasih sayang itu dibarengi dengan perhatian.

“Kasih sayang itu sifatnya umum, sedangkan perhatian lebih spesifik. Misalnya orang tua bertanya pada anaknya, ‘Sudah makan belum? Kok kamu kayanya agak tidak semangat hari ini, kenapa?’ Perhatian itu yang kadang luput,” kata Ati.

Walaupun anak sudah besar, menginjak usia dewasa, perhatian harus tetap diberikan. Perhatian itu sama halnya dengan kebutuhan manusia lainnya (sandang, pangan, papan). Sebagaimana teori kebutuhan Abraham Maslow yang menjelaskan tingkatan kebutuhan manusia yaitu fisiologis, rasa aman, kasih sayang dan sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri.

Dari tingkatan kebutuhan tersebut, ada kebutuhan merasa ingin diperhatikan dan memberi perhatian pada tingkatan ke tiga yang tidak terpenuhi. Maka dari itu, apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi di dalam keluarga, seorang manusia akan merasa nyaman ketika menemukannya di luar.

"Bahayanya jika kebutuhan itu didapatkan dari sesama jenis yang mengakibatkan muncul perasaan suka dan nyaman sehingga mengarah pada perilaku LGBT," tutur Ati.

Ati menegaskan, sesibuk apapun kegiatan dan pekerjaan orang tua, anak harus tetap dikontrol. Sejauh apapun jarak anak dan orang tua, di zaman teknologi modern saat ini orang tua sudah bisa berkomunikasi dengan anak melalui berbagai platform komunikasi digital.

Baca juga:Terbang ke LA, Putri Ariani: Bismillahirrahmanirrahim, Doain Ya Guys

“Mungkin saja anak akan merasa risih setiap saat kita hubungi. Tapi itu perlu dilakukan agar kita mengetahui anak kita sedang sama siapa, di mana, sedang apa. Karena lingkungan pergaulannya akan sangat memengaruhinya. Asal orang tuanya tidak harus intervensi terlalu dalam,” papar Ati.

Hal lain yang juga luput dilakukan orang tua adalah mendengarkan anak. Orang tua kadang lupa bahwa anak harus didengarkan. Padahal, orang tua harus selalu mendengarkan cerita anak, walaupun tidak banyak respon yang diberikan.

"Tapi kalau kita respon, mereka akan cerita yang lebih banyak lagi. Jadi jangan lelah untuk mendengar anak bercerita, karena dari cerita itu orang tua tahu apa yang dilakukan mereka. Itu yang harus dilakukan orang tua,” imbau Ati.

Untuk mengatasi perilaku yang terlanjur menyimpang, Ati menjelaskan, upaya yang dapat dilakukan adalah dengan terapi kognitif yaitu terapi yang berkenaan dengan pendekatan keagamaan. Ati mengaku tengah mengajak kliennya untuk kembali ke ajaran Islam. Itu merupakan salah satu membantu korban LGBT.

Dalam hal ini, orang LGBT perlu juga didampingi oleh guru agama atau ustadz yang lebih mengerti tentang ajaran agama Islam. Sehingga, terapinya berjalan dengan tepat. Upaya-upaya tersebut dilakukan harapannya agar orang LGBT mendapatkan hidayah dari Allah SWT dan dapat kembali ke jalan yang benar.

"DI dalam Islam perilaku LGBT itu jelas dilarang dan haram hukumnya. Hal ini perlu jadi perhatian setiap orang karena pada zaman ini pertukaran budaya lebih mudah dan cepat terjadi dengan adanya kemajuan teknologi. Normalisasi dan penghalusan bahasa juga terjadi untuk memengaruhi sikap publik terhadap perilaku menyimpang tersebut," ungkap Ati.

Di Indonesia sudah banyak lahir komunitas LGBT di berbagai wilayah. Dari data yang ditemukan Ati, ada 15 wilayah di Indonesia yang terdapat komunitas LGBT. Salah satunya GAYa Nusantara yang gerakannya cukup masif dan besar, bahkan sulit untuk dibubarkan.

Maka itu, Ati memperingatkan perlu waspada dan hati-hati terhadap perilaku menyimpang tersebut, karena apabila dibiarkan ada potensi penularan. Penularan terjadi karena orang LGBT dapat memberikan rasa nyaman sehingga sangat mudah berteman.

Dalam hal ini, lembaga pendidikan juga perlu waspada, memiliki tindakan preventif dan tegas agar tidak menjadi tempat penyebaran perilaku menyimpang. Kampus dapat melakukan tindakan preventif berupa screening calon mahasiswa baru dengan menggunakan alat tes, sehingga dapat mengindikasi karakter dan perilaku sebelum masuk ke kampus.

"Upaya lainnya perlu didukung dengan penguatan nilai-nilai keagamaan yang dapat dilakukan oleh Lembaga Pengkajian dan Penerapan Al Islam Kemuhammadiyahan dari tingkat pusat hingga fakultas," ujar Ati.



(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 12 April 2024
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
11:57
Ashar
15:14
Maghrib
17:56
Isya
19:05
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan