LANGIT7.ID-, Jakarta- - Setelah melakukan kampanye selama berbulan-bulan, komunitas Muslim akhirnya mencapai kesepakatan dengan Universitas Shaw untuk membuka kembali
masjid kampus. Masjid tersebut sempat ditutup selama pandemi Covid-19.
Masjid King Khalid yang berada di dalam kampus Shaw University telah menjadi bagian penting dari kota Raleigh, North Carolina, Amerika Serikat, selama empat dekade terakhir, demikian dilaporkan The News & Observer.
"Komunitas Muslim dan Shaw University telah mencapai kesepakatan untuk mengizinkan jamaah masuk ke Masjid King Khalid lagi sementara negosiasi mengenai status jangka panjang properti tersebut terus berlanjut. Perjuangan belum berakhir, namun masyarakat sudah kembali ke masjid," demikian Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) dalam sebuah siaran pers, dikutip About Islam, Selasa (29/8/2023).
Baca juga:
6 Penyakit Gangguan Pernapasan Ancam Warga Akibat Polusi UdaraMasjid dan bangunan tersebut dibangun pada 1983 atas hadiah jutaan dolar dari keluarga kerajaan Saudi kepada Baptist university swasta. Arab Saudi memberikan syarat, bangunan tersebut harus menjadi tempat bagi masjid komunitas.
Masjid dibuka kembali setelah Dewan Kota Raleigh pada Juni lalu memutuskan untuk mengubah zonasi kampus untuk memungkinkan bangunan yang lebih tinggi. Banyak umat Islam di daerah tersebut meminta para pemimpin kota menunda pemungutan suara hingga masalah pembukaan kembali masjid diselesaikan.
Seiring dengan berlanjutnya negosiasi, banyak yang berharap untuk segera mencapai kesepakatan.
"Shaw menunjukkan itikad baik. Saya sangat senang mendengarnya dan melihat ada hasil yang positif bagi masyarakat," kata Walikota Raleigh Mary-Ann Baldwin setelah sesi kerja Dewan Kota.
Populasi Muslim di daerah Segitiga yang lebih besar di North Carolina sangat beragam. Diperkirakan jumlah Muslim yang tinggal di kawasan Segitiga lebih dari 10.000 orang, yang berasal dari sekitar 70 negara. 20 Persen di antaranya diperkirakan merupakan keturunan Afrika-Amerika.

(ori)