LANGIT7.ID, Bogor - Burung murai batu menjadi primadona di kalangan kicau mania. Burung dengan ciri khas ekor panjang ini, selain memiliki suara kicaunya yang merdu, juga memiliki keunikan gaya tersendiri ketika mengeluarkan kicauannya.
Keunggulan yang tidak dimiliki oleh burung kicau lainnya ini, menjadikan murai batu dianggap sebagai burung kicau terbaik nomor wahid di kalangan pecinta burung kicau. Saking banyaknya permintaan dari kalangan pehobi untuk burung ini, murai batu hingga kini memiliki harga yang relatif stabil di pasaran.
Baca juga: Berawal dari Hobi, Muslim Yogyakarta Ini Punya Kolam Budi Daya Koi 1 HektarMemiliki peluang yang cukup baik di pasaran, muslim asal Bogor, Asep Zulkarnaen, mulai terjun dalam usaha peternakan murai batu. Bukan murai batu sembarangan, indukan di peternakannya Tubagus Bird Farm (TBBF) ini dikhususkan untuk lomba yang bisa disebut memiliki kualitas baik dari segi performa.
“Sebagian besar indukan kita juga sudah mulai produksi. Kita beternak karena memang punya kecintaan terhadap murai batu. Padahal tadinya saya sempat sesumbar tidak mau pelihara burung karena pada saat itu belum menemukan sesuatu yang lebih,” ujarnya dikanal Youtube Kisah Tanpa Batas.
Muslim berambut panjang ini mengaku, mulai merintis usaha peternakannya sejak 2015, yang saat itu dimulai dengan sepasang indukan. Beternak sambil belajar memahami seluk-beluk bidang yang digelutinya, akhirnya lambat laun peternakan murai batunya mulai berkembang dan pada 2019 indukannya bertambah hingga 15 pasang.
Namun ketika itu pula, Asep dirundung sebuah masalah, sekita 10 pasang murai batu beserta anakannya hilang dicuri. Sempat down dan hampir tidak melanjutkan usahanya, Asep akhirnya termotivasi setelah berdiskusi dengan kakaknya.
“Alhamdulillah, hilang sekitar 10 pasang, berikut dengan beberapa anakannya. Ternyata ketika mendapat cobaan dari Allah dan menerimanya dengan ikhlas. Insya Allah kita akan mendapatkan ganti yang lebih besar. Sempat saya ngobrol dengan kakak saya, Ustadz Nasrullah, dia bilang cobaan itu anggap saja sebagai bungkus permen, karena ketika beli permen pasti dengan bungkusnya, padahal bungkus ini nantinya juga akan dibuang. Cobaan itulah yang kita anggap sebagai bungkus permen, sekaligus meyakini setelah itu pasti ada yang manis di dalamnya,” jelasnya.
Asep tidak menyangka setelah berusaha untuk ikhlas akan cobaan yang dialaminya. Sejak kemalingan pada 2019 lalu, kini peternakan murai batunya bisa berkembang pesat dengan memiliki 33 kandang ternak dan terisi sekitar lebih dari 25 pasang indukan.
TBBF mengkhususkan ternak murai batu untuk lomba, karena pada dasarnya murai batu sendiri memiliki beragam jenis peruntukkan, seperti ekor panjang yang biasanya memiliki keindahan pada tubuh dan lebih dikhususkan sebagai burung hias rumahan, sedangkan murai batu lomba memiliki mental yang baik diajang perlombaan burung kicau.
“Kita punya di sini jenis murai batu medan, nias, dan silangan murai batu medan dan borneo,” ujarnya.
Baca juga: Muslim Ini Raup Omzet Ratusan Juta dari Jualan RumputAsep menjelaskan, murai batu dari proses penjodohan, perkawinannya, hingga panen hanya membutuhkan waktu dalam hitungan bulan. Ketika sudah mulai produksi, maka dalam waktu sebulan sekali sudah bisa dipanen oleh peternak, dengan jumlah anakan menetas maksimal 5 ekor.
Setelah menetas, hingga usia tujuh hari, trotol (anakan burung) akan diloloh induknya dan dilanjutkan dengan proses sapih di mana trotol akan diloloh peternak hingga usia 35 hari. Harga untuk murai batu ini berkisar antara Rp2,5-5 juta, dan di pasarkan ketika memasuki usia dua bulanan.
Asep mengatakan, hal terpenting dalam menjalankan usaha adalah mampu mengeksekusi ide yang dimiliki. Walaupun bermula dari nol, tapi ia meyakini seiring waktu usaha akan berhasil ketika sudah sampai waktunya.
“Jangan rencana doang, tapi langsung eksekusi. Ilmu bisa kita pelajari dari orang-orang yang sudah memulai lebih dulu. Setiap bisnis pasti ada hambatannya, kita harus tahu itu dan kita harus belajar dengan yang sudah berpengalaman di bidang itu. Menurut saya murai batu masih menjanjikan, bahkan di pandemi ini permintaaan hobi apa pun justru meningkat, termasuk dengan murai batu,” imbuhnya.
(zul)