LANGIT7.ID, Jakarta - Tidak banyak orang mampu memanfaatkan sebuah masalah menjadi peluang yang menghasilkan rupiah. Salah satu orang yang berhasil, Acen Trisusanto.
Muslim milenial ini, sukses berbisnis berangkat dari permasalahan yang dialami oleh kucing peliharaannya. Kucing kesayangannya mengalami persoalan pencernaan. Salah satu obatnya rumput gandum. Lama belanja rumput gandum, Acen melihat produk itu menjanjikan dijadikan usaha karena banyak orang memiliki masalah terkait kucing peliharaan.
Acen mulai menjual rumput gandum. Berkembang, usaha Acen kini menyediakan segala kebutuhan untuk kucing peliharaan. Toko Kekucingan miliknya hadir menjawab segala kebutuhan dan keperluan seputar kucing peliharaan.
Acen mengisahkan, dulu kucingnya sempat mengalami gangguan pencernaan dan mengalami penurunan nafsu makan akibat
hariball.
“Saya mulai mengenal rumput gandum tepatnya pada 2019, kucing saya muntah akibat hairball atau bola bulu yang menyebabkan kucing tidak enak badan dan mempengaruhi nafsu makannya. Setelah
googling ternyata solusi untuk mengatasi hairball pada kucing adalah rumput gandum,” ujarnya dikanal Youtube Kisah Tanpa Batas.
Baca juga: Deretan Bisnis Jusuf Kalla, Otomotif Hingga EnergiAcen mulai bisnis rumput gandum, dengan melakukan pemesanan dalam bentuk benih dengan harga Rp30 ribu per kilogram. Ia mencoba berbagai strategi untuk bisa memasarkannya kembali, dengan membuat pengemasan yang pas.
“Waktu itu saya beli semua jenis plastik dan kardus. Saya tidak tahu bakal pakai yang mana nantinya, yang penting ada dulu alat dan bahan untuk
packaging-nya,” ujarnya.
Acen melakukan riset yang cukup matang dalam menjalankan usahanya menjual rumput gandum untuk kebutuhan kucing. Dilanjutkan dengan branding dan strategi pemasaran yang tepat untuk menjaga kestabilan produknya di pasaran.
Sehingga pada tahun lalu, tepatnya 28 September 2020, ia mulai melakukan pemasaran produk di marketplace dan mampu balik modal dalam kurun waktu sebulan.
“Itu saya sudah mulai pakai ads (iklan berbayar) di marketplace, minta tolong teman share barang saya, bisa dikatakan saya melaukan strategi marketing sedari awal memulai usaha dengan modal yang saya punya,” ujarnya.
Dana yang terkumpul dari penjualan rumput gandum tersebut lantas ia putuskan untuk mengembangkan usahanya. Acen melanjutkannya dengan membuat produk shampoo khusus kucing, diikuti dengan multivitamin, minyak ikan, dan minyak kelapa.
Selain menjual produknya di semua
marketplace yang ada, Acen juga menggunakan beberapa platform digital yang ada, seperti
WhatsApp Business dan Website kekucingan.id. Dengan menggunakan platform digital tersebut, kini produknya mampu menjangkau hingga Indonesia bagian timur, seperti Papua, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi.
“Sebenarnya tidak ada trik khusus, kecuali presisten dan konsisten. Artinya dalam bisnis kita perlu melakukannya secara terus menerus untuk berinovasi. Selain itu, kita juga perlu melihat barang kebutuhan dari kacamata konsumen. Itu yang saya lakukan dari awal, saya tanya ke mereka, kira-kira butuhnya apa,” jelasnya.
Baca juga: Tas Rajut Asal Yogyakarta yang Mendunia, Tetap Berbagi Saat PandemiAwalnya Acen merupakan pekerja kantoran, saat pandemi mulai menjadi masalah di mana-mana. Ia merasa pengurangan pegawai yang terjadi di perusahaan cukup meningkatkan beban kerjanya.
Acen memutuskan mundur sebagai pekerja kantoran sejak Juni 2020. Ia mengaku, saat mengambil keputusan tersebut belum mengetahui langkah ke depan untuk mendapatkan penghasilan. Terbilang nekat memang, hingga akhirnya ia memperhatikan kucing-kucing yang berada di sekelilingnya.
Acen beranggapan bahwa kehidupan kucing memerlukan segala jenis perawatan dan pemenuhan kebutuhan hidup yang tidak sedikit. Dari situ, Acen mulai menghubungi temannya yang kebetulan memiliki usaha
petshop.
“Saya putuskan untuk jadi reseller, hingga kami menjalin kerja sama. Namun, karena berbeda visi, itu hanya bertahan selama tiga bulan. Saya saat itu punya modal Rp5 juta dan memang dalam hati sudah menghindari bekerja di kantoran, saya mulai cari di marketplace kebutuhan soal kucing yang bisa diperjual-belikan, dan ketemulah dengan rumput gandum,” jelasnya.
Menurutnya, faktor yang sangat mempengaruhi dalam bisnis online adalah iklan berbayar di
marketplace dan
influencer marketing. Dengan begitu, produk dagang bisa semakin dikenal luas oleh banyak orang.
Acen terbilang sering mengikuti kampanye di
marketplace terkait toko dan produknya. Sampai pernah ia mendapatkan sebanyak 350 orderan dalam seminggu yang ia kerjakan sendiri pada awalnya.
“Sulit kan kalau dikerjakan sendiri, saya pikir sudah harus berbagi tugas dengan karyawan. Alhamdulillah sekarang saya sudah punya tiga karyawan, dengan omzet selama enam bulan sejak Oktober lalu mencapai ratusan juta rupiah,” tuturnya.
Baginya, usaha bisa jalan dan berkembang memerlukan fokus para pelaku usaha itu sendiri. Fokus dalam artian mengerjakan semua hal yang berkaitan dengan usaha yang dijalankan, sesulit dan sesusah apa pun itu.
“Soalnya saya pernah punya pengalaman dari 2017 sempat menjalankan e-commerce yang menjual barang-barang kebutuhan untuk naik gunung, dan sampai sekarang tidak ada yang laku satu pun. Itu karena memang saya tidak fokus ke sana. Karena saat itu pun saya kan masih kerja kantoran yang artinya setengah-setengah menjalankannya,” ujarnya.
Baca juga: Orientasi Ekspor, Pemerintah Perkuat Industri Furnitur RotanKini, ketika sudah mencapai titik di mana ia sukses dengan berjualan online, Acen memiliki harapan untuk bisa terus mengembangkan bisnisnya. Ia memiliki rencana ke depan agar Kekucingan tidak hanya menjadi
petstrore yang menjual barang soal kucing, tetapi menjadi sesuatu yang lebih besar.
“Mudah-mudahan ke depan manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh kucing, tapi juga membantu orang-orang mendapatkan penghasilan dengan menyerap tenaga kerja mereka,” imbuhnya.
(zul)