LANGIT7.ID-, Jakarta- - Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eddy Hermawan memberikan saran untuk mengantisipasi apabila terjadi dampak El Nino untuk sektor pangan.
Dia menyarankan agar petani mengganti tanaman padi ke pajale (padi ganti jagung dan kedelai). Hal ini karena tanaman tersebut di atas tidak memerlukan banyak pasokan air.
Dia menjelaskan, menghadapi kejadian El-Nino yang cukup panjang sampe akhir tahun ini. Hal yang harus diwaspadai atau atau diperhatikan adalah daerah monsunal. Daerah tersebut mengalami curah basah dan kemarau.
"Untuk itu pandai-pandai untuk penghematan pemakaian air," ujar Eddy pada Bincang Sains Kawasan Bandung-Garut (Bisaan Bangga), dikutip Rabu (5/9/2023).
Eddy menjelaskan kehadiran efek El Nino bagi dinamika atmosfer Indonesia. Salah satunya terkait hujan. Memang secara tidak langsung hal itu berdampak kepada terjadinya musim kemarau yang cukup panjang, dari kondisi yang normal.
"Ada juga kebaikan dari pada el nino ini, yaitu penurunan suhu permukaan laut sebagaimana la nina," kata Eddy.
El Nino merupakan indikasi atau tanda-tanda naiknya suhu permukaan laut dikenal dengan sebutan SST (Sea Surface Temperature). Tepatnya berada di center samudra pasifik yang menyebabkan kawasan tersebut menjadi pusat konveksi yang sangat kuat dan menjadi pusat tekanan rendah.
"Fenomena elnino, sebenarnya ini bukan pertama kali, kita pernah mengalaminya di antaranya tahun 1962, 1963, 1972, 1973, 1982, 1983, 1997, 1998, 2015 dan 2016," ujarnya.
El Nino dan musim kemarau merupakan dua hal yang berbeda. El Nino dan la nina adalah penyebab atau pemicu kejadian. Sementara, kemarau dan hujan merupakan dampak atau impactnya.
Dengan adanya El Nino, otomatis kawasan pusat dari lautan pasifik menjadi pusat tekanan rendah. Konsekuensinya, awan-awan yang ada di benua maritim Indonesia. Itu yang mengakibatkan kumpulan awan-awan yang berada di samudera hindia yang terbentuk.
"Ini karena Indonesia berada pada kawasan 2/3 laut, yang membuat terbentuk awan-awan besar, mestinya-mestinya awan tersebut jatuh di kawasan Indonesia," terangnya.
Eddy menjelaskan, dengan hadirnya el nino awan-awan tadi hanya numpang lewat saja, sehingga tidak jadi hujan. Alhasil terjadi kekurangan curah hujan atau kemarau. Sehingga, tanpa hadirnya el nino pun, karena Indonesia merupakan wilayah yang didominasi fenomena monsun yang 12 bulanan itu.
Ada dua musim yang dikenal saat ini, yaitu musim kemarau dan musim penghujan musim basah. Namun dengan hadirnya El Nino, maka musim kemarau lebih panjang, yang semula hanya tiga sampe enam bulan. Dengan hadirnya El Nino akan lebih panjang, bisa sampai satu tahun.
"El Nino sendiri menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dapat dikatakan demikian ketika anomali dari pada el nino 2,3,4 itu melewati angka sekitar posit 0,8 atau positif satu. Di tahun ini di mulai sejak bulan Mei, pada bulan itu lah NOAA menyatakan bahwa el nino mulai muncul di tahun ini," jelas Eddy.
(ori)