LANGIT7.ID-, Surabaya- - El Nino adalah salah satu pola iklim alami yang terjadi secara periodik dan mempengaruhi suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah. Fenomena ini ditandai oleh pemanasan suhu muka laut yang abnormal. Kondisi ini mengakibatkan suhu air di wilayah tersebut lebih tinggi dari suhu normalnya.
Fenomena ini bukan hanya masalah iklim, tetapi juga mengancam keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia..
Prof Dr Muryani SE M Si MEMD, seorang ahli ekonomi Universitas Airlangga (Unair) menyampaikan kekhawatirannya terkait dampak luas yang mungkin terjadi akibat perubahan iklim ini.
Baca juga:
BMKG Prediksi 2023 Berpotensi Jadi Tahun TerpanasIa menjelaskan, pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah mengurangi pertumbuhan awan di wilayah Indonesia. Hal ini menyebabkan penurunan potensi hujan dan, akibatnya, risiko gagal panen yang tinggi.
“Potensi hujan juga jauh berkurang, dan risiko gagal panen menjadi nyata. Banyak petani mengalami kegagalan panen, memicu kenaikan harga pangan dan ketergantungan pada impor, terutama beras,” ungkapnya.
Prof Dr Muryani SE M Si MEMD, seorang ahli ekonomi Universitas Airlangga, memebrikan tanggapannya perihal dampak el nino bagi ekonomi.
Dampak Luas pada Sektor Ekonomi
Fenomena El Nino tidak hanya mempengaruhi sektor pertanian, tetapi juga merambah ke sektor-sektor ekonomi lainnya. Sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan produk olahan semuanya terdampak.
Pemanasan suhu air laut menyebabkan kekeringan, mengurangi pasokan air untuk pertanian dan peternakan, sementara sektor perikanan mengalami penurunan produksi karena pola pertumbuhan ikan yang abnormal.
Upaya Mitigasi dan Strategi Jangka PanjangProf. Muryani menyampaikan pendapatnya mengenai pentingnya pengembangan teknologi hujan buatan sebagai solusi untuk mengatasi kekeringan yang dapat timbul akibat El Nino.
Selain itu, mendorong penerapan konservasi hutan sebagai langkah strategis dalam mempertahankan tutupan hijau dan cadangan air tanah yang kritis.
Dia menekankan, aturan tata ruang yang ketat perlu diterapkan secara serius oleh pemerintah. Hal ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan. Kontrol yang ketat terhadap perluasan lahan pemukiman menjadi langkah penting untuk mencegah penurunan signifikan dalam tutupan hijau.
Prof. Muryani juga menyoroti potensi sektor jasa dan wisata yang ramah lingkungan sebagai alternatif investasi jangka panjang. Beliau mengajak untuk mempromosikan sektor ini sebagai sumber pendapatan yang berkelanjutan. Dengan mengembangkan pariwisata berbasis konservasi, Indonesia dapat tidak hanya memperoleh keuntungan ekonomi tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan.
“Fokus investasi pada sektor jasa dapat menjadi langkah strategis dalam menghadapi perubahan iklim dan mengurangi dampak negatifnya,” ujarnya.
(ori)