LANGIT7.ID -
Man Jadda Wajada artinya siapa bersungguh-sungguh maka akan berhasil. Itulah prinsip yang dipegang teguh oleh pasangan suami istri (pasutri) muda yang kini sukses menjadi couplepreneur atau pasangan yang berbisnis bersama-sama.
Ialah Indra Rinaldi dan Siti Sholikah, pasutri muda asal Jombang yang perjuangannya dalam meraih kesuksesan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Keduanya memang bukan berasal dari keluarga berada, tapi perjuangan mereka mampu mengubah hidupnya hingga 180 derajat.
Beberapa bisnis yang mereka kerjakan kini menjadi brand ternama khususnya di Indonesia, yakni Hijub Panda, Panda Lovely, dan Baby Panda. Ketiga brand tersebut termasuk ke dalam kelompok bisnis Panda Corps.
Indra Rinaldi, merupakan anak broken home yang sejak kelas 1 SMA pindah dari Tarakan, Kalimantan Utara ke Jombang Jawa Timur. Sementara Sholikah, merupakan anak tukang becak yang hidup serba berkecukupan.
Keduanya memutuskan untuk menikah di usia muda. Saat itu pun kondisi finansial mereka masih belum bisa terbilang berada di taraf cukup.
Bahkan saat masih berseragam putih-biru, Indra terkenang kala itu harus berjualan gorengan untuk bisa memiliki uang saku yang tidak ia dapatkan dari ayahnya karena terkendala finansial. Keduanya mengaku bisa merasakan bangku perkuliahan karena mendapatkan beasiswa.
Saat masih duduk di bangku kuliah itulah mereka memutuskan untuk menikah. Di mana Indra masih menjalankan kuliahnya di semester 5, sedangkan Sholikah sudah di semester 7 mendekati akhir.
“Saya untuk kuliah pun telat setahun, karena harus mengumpulkan biaya dulu. Waktu itu saya kerja di salah satu minimarket di Surabaya dan harus tinggal di masjid sebagai marbot,” jelasnya di kanal Youtube PecahTelur.
Ia mengaku, dengan modal uang pegangan Rp300 ribu, masih kurang untuk membayar kos-kosan yang ada di sana. Eman, lanjut Indra, dengan uang pegangan yang tidak banyak jika harus menambah biaya hidup yang lainnya.
Kerja sebagai pegawai minimarket itu hanya ia lakoni selama tiga bulan. Selanjutnya, Indra memutuskan untuk pindah ke salah satu perusahaan di Surabaya.
Dari situ, urusan finansialnya sudah semakin membaik dan tabungannya selama bekerja pun bisa digunakannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Indra akhirnya mampu mendapatkan apa yang diinginkan, dengan kuliah di Universitas Dr Soetomo, Surabaya, untuk kelas malam.
Dari situ, ia mulai ikut ke dalam organisasi sosial Gerakan Mahasiswa Surabaya dan bertemu istrinya saat ini Siti Sholikah yang merupakan anak dari sari seorang tukang becak. Selain ekonomi keluarga ditopang dari ayahnya, Sholikah mengaku ibunya pun turut membantu perekonomian keluarga sambil berjualan sembako.
“Saya dua bersaudara, dan kami semua bisa sampai ke perguruan tinggi karena gigihnya orang tua kami demi menyekolahkan anaknya. Untuk itu kalau memang kita bukan berasal dari ekonomi yang serba berkecukupan, balaslah dengan prestasi, terbukti saya pun selalu juara kelas dan sampai perguruan tinggi juga dapat beasiswa,” ujar Salika.
Mulai BerbisnisKala keduanya memutuskan untuk menikah diusia yang tergolong masih muda dan bahkan masih menjalankan pendidikan di perguruan tingginya masing-masing. Saat itu pula demi menyokong perekonomian keluarga, mereka merintis usaha dengan berjualan hijab dengan brand Hijub Panda.
Saking sibuknya menjalankan kegiatan sehari-hari yang cukup padat, Indra merelakan perkuliahannya karena drop out (DO) akibat kesibukannya menjalankan bisnis. Indra mengaku, saat itu harus membagi waktunya untuk bekerja, kuliah, dan mengurus rumah tangganya.
“Di semester 8 sudah masuk skripsi saya harus DO (drop out) dari kuliah. Tapi memang kami saat itu sedang menjalankan bisnis dan ingin fokus ke sana,” ujar Indra.
Keduanya mengaku, pada awal berbisnis menjual produk kerudung dengan modal Rp300 ribu. Dari situ, mereka tidak pernah mengambil keuntungannya, melainkan berfokus untuk memutar kembali uang yang ada sebagai tambahan untuk mengembangkan bisnis mereka.
Dalam menjalankan bisnis, yang terbilang hanya bermodal nekat. Mereka, bahkan tidak menguasai secara penuh perihal strategi pemasaran online, tapi yang penting bagi mereka, aksi adalah yang paling utama.
Kegigihan dan semangat mereka akhirnya membuahkan hasil dengan pesanan yang terus meningkat. Indra meyakini, bisnisnya suatu saat akan membawanya kepada perubahan yang lebih baik dari kondisinya saat itu.
“Saya bilang sama istri, kita bisa sukses lewat jalan ini, meski pagi-sore saya harus kerja di kantor, dan malam saya lanjutkan untuk kirim barang ke Jombang pakai motor. Kalau ingat perjuangan saya waktu itu, cukup sulit dibayangkan memang. Itu hampir setiap hari saya lakukan hingga delapan bulan,” kenangnya.
Semakin banyaknya pesanan, Indra memberanikan diri untuk mundur dari pekerjaannya di perusahaan lamanya. Dengan omset bisnisnya saat itu mencapai Rp 25 juta per bulan, Indra yakin bisnisnya akan mengalami perkembangan ke depan.
“Saya yakin bisa lebih mengembangkan ini ketika kami fokus. Istri saya pun mendukung, itu yang membuat saya takjub. Di mana wanita pada umumnya di zaman ini sulit untuk diajak berjuang, tapi istri saya malah siap susah dengan saya,” jelasnya.
Perkembangan bisnis keduanya pun terbilang cukup baik. Seiring waktu omzet mereka kian bertambah hingga Rp 40 juta, dan untuk momen Lebaran bisa mencapai Rp 60 juta.
Dari situ, mereka mulai merambah ke bisnis offline dan mulai menyewa tempat untuk toko dengan kesepakatan sewa saat itu Rp25 juta setahun dengan modal usaha yang dibutuhkan sekitar Rp 80 juta. Hingga akhirnya keputusan itu direalisasikannya dengan bantuan investasi modal yang bersumber dari para sahabat mereka.
“Meskipun dari segi pengalaman dan ilmu kami tidak punya. Jadi kita sambil belajar, dan menggunakan sistem untuk dibagi bersama, rugi pun dibagi bersama atau mudharabah, itu yang kita pakai,” jelasnya.
Memulai Bisnis OfflineSaat melakukan opening bisnis
offline nya pun, mereka mendapatkan animo di luar ekspektasi. Di mana banyak orang datang untuk membeli produk yang ada di toko, hingga saat tutup pun barang mereka laris manis hingga habis.
“Bahkan waktu opening itu menjadi perolehan omset tertinggi kami. Dari situ kita sadar bahwa ini jalan kami. Pencapaian terakhir kami saat itu juga tidak kalah baik, yakni bisa mendatangkan 2.000 orang lebih untuk datang ke store, dengan jumlah transaksi sebanyak 1.500-an,” jelasnya.
Perkembangan bisnis yang signifikan tersebut, membuat keduanya berpikir untuk melebarkan sayap bisnis baru. Keduanya melihat ada peluang yang baik dari produk aksesoris dan produk perawatan kulit.
Berdasarkan riset yang mereka lakukan, ternyata produk kecantikan memiliki minat yang cukup baik di pasaran. Hingga di bisnis ke-2, mereka mencetuskan produk perawatan kulit Panda Lovely yang kini mulai menjamur sebagai brand yang mampu bersaing di pasar yang sangat luas.
Didirikan pada Januari 2020, bisnisnya itu mampu menghasilkan omset sesuai dengan prediksi mereka, yakni mencapai angka puluhan juta. Namun, dalam waktu singkat omzet mereka menurun drastis hingga 80 persen, dari Hijub Panda maupun Panda Lovely akibat pandemi Covid-19 yang mulai geger pada Maret 2020.
“Tapi selang dua bulan, tepatnya pada Mei 2020, grafik penjualan mulai meningkat. Hingga pada Agustus 2020, kita ambil kesempatan untuk pindah ke tempat yang lebih besar,” jelas Sholikah.
Kini usaha mereka sudah mampu membuka cabang baru di Kota Kediri dan Tulungagung. Meskipun pandemi, tapi mereka tidak pernah menyalahkan keadaan bahkan semangat semakin bertambah untuk bisa mengembangkan bisnisnya lebih besar lagi.
Keduanya juga menargetkan untuk bisa menjadi store kecantikan nomor wahid di Indonesia melalui brand Panda Lovely. Menurutnya, melalui cabang bisnis baru dapat membantu orang-orang yang membutuhkan lapangan pekerjaan.
“Semakin banyak kita bisa menebar manfaat, semakin banyak doa yang kita dapatkan untuk bisa mengembangkan bisnis. Kita menyebut bisnis sebagai Panda Corps, karena selain bergerak di bidang fesyen dan produk kecantikan, kita juga sedang merintis Baby Panda yang bergerak di bidang yang sama tapi dikhususkan untuk anak-anak,” ujarnya.
“Meskipun bapak kami merupakan seorang tukang becak, tapi Alhamdulillah melalui bisnis ini kami bisa menaikkan derajatnya sedikit demi sedikit,” ujarnya.
Pencapaian ini semua tidak pernah dibayangkan oleh mereka sebelumnya. Di mana menginjak usia 25 tahun mereka sudah berada dititik kesuksesan dari bisnis yang dijalankan.
“Kita harus percaya dan berpikir positif di setiap keadaan, karena kami yakin setelah kesulitan pasti ada kemudahan seperti yang Allah janjikan,” imbuhnya.
(jqf)