LANGIT7.ID-, Jakarta- - Fungsionaris IMWU (International Muslim Women Union) Chapter Indonesia dan Pimpinan Pusat Wanita Islam, Ustadzah Siti Fathiyah Khotib, mengatakan, mendidik anak agar cinta orangtua bukan perkara mudah.
Maka itu, perlu tindakan-tindakan agar seorang anak bisa mencintai orangtuanya, bahkan sampai tua nanti. Siti Fathiyah menilai ada tiga hal dasar yang penting diperhatikan setiap orang tua. Lima hal tersebut di antaranya:
1. Persiapan mental dan Spiritual
Menurut Siti Fathiyah, persiapan mental dan spiritual sangat penting. Ini bisa dilakukan sebelum menikah dengan mencari pasangan yang shalih dan shalihah. Saat mengandung pun harus ada upaya-upaya agar kelak lahir anak shalih dan shalihah.
“Apabila kita ingin dianugrahi keturunan, kita bisa melakukan shalat hajat. Apabila janin sudah ada dalam kandungan, kita ajak untuk berkomunikasi, kita dengarkan yang indah – indah, kita do’akan yang baik-baik,” kata Siti Fathiyah dalam webinar Edufic, Ahad malam (31/12/2023).
2. Persiapan Ilmu
Persiapan ilmu ini membutuhkan waktu yang panjang. Butuh kemauan dari diri kita untuk belajar, bertanya kepada orang yang kita percaya dan berpengalaman, butuh membaca buku-buku yang relevan.
“Maka penting untuk mempersiapkan ilmu saat kita menjadi orang tua,” kata Siti Fathiyah.
3. Persiapan Fisik
Pada persiapan ini harapannya kita melahirkan keturunan atau memiliki anak yang ideal dengan 3R (Benar, Pintar, Segar). Benar hatinya, dia dekat dengan Allah, dekat dengan Al-Qur’an. Pintar Otaknya, apabila sekolah anak mudah dalam memahami materi pembelajarana.
“Segar badanya, yaitu anak yang sehat. Sehingga kita sebagai orang tua perlu untuk menjaga dan mengontrol pola makan dengan baik dan asupan gizi yang seimbang serta didapatkan melalui cara yang halal dan thayyib,” ujar Siti Fathiyah.
Sehubungan dengan 3 hal di atas, kita juga sebagai ornng tua perlu mendidik karakter anak kita untuk bisa mencintai kita dengan setulus hati. Dan ini bisa dimulai dari diri kita sebagai orang tua yang mencintai orang tua kita.
Lulusan International Islamic University, Islamabad itu menjelaskan, bisa jadi anak tidak tahu bagaimana perilaku kita kepada orang tua. Tetapi Allah mengetahui bagaimana sikap kita kepada orang tua.
“Apabila kita masih memiliki orang tua, maka hendaknya kita berbakiti dan membahagiakan mereka, in syaa Allah anak-anak kita akan melakukan hal yang sama. Apabila kita berperilaku tidak baik kepada orang tua kita, maka minta maaflah kepada Allah dan kepada mereka selagi mereka (orang tua kita) masih ada di dunia,” ujar Siti Fathiyah.
Maka itu, jika kita masih memiliki orang tua, maka mintalah doa kepada mereka. Itu karena doa orang tua itu tidak tertolak. Allah sangat ridho apabila seseorang membahagiakan dan menyenangkan orang tua.
5 Cara Mendidik Anak
Lalu, bagaimana Rasulullah SAW memberikan pendidikan kepada putri-putrinya? Merujuk pada buku Tarbiyaul Aulad terdapat 5 cara dalam mendidik anak, diantaranya meliputi:
1. Al-Qudwah: Keteladanan
Ayah dan Ibu memberikan keteladanan yang baik kepada anak-anaknya. Anak dapat melihat, mendengar, menyaksikan, dan menyimpan informasi yang diterima oleh orang tuanya. Maka keteladanan sangat penting dalam proses parenting.
Semua hal yang dirasakan dan dilihat oleh anak dari orang tua dan linkungan sekitarnya akan direkam dan dipraktikkan. Jadi, jangan sampai kita menganggap remeh anak-anak kita, sebab mereka pembelajar cerdas.
Contoh sederhana, saat itu Ibu dan anak sedang makan bersama. Lalu anak melihat bahwa sang Ibu belum berdo’a sebelum makan. Kemudian sang Anak mengingatkan Ibu untuk berdo’a, Namun sang Ibu berkata kalau ia sudah berdo’a di dalam hati.
“Keesokan harinya, pada situasi yang sama sang Ibu mengingatkan sang anak untuk berdo’a dan anakpun menjawab kalau ia sudah berdo’a dalam hati. Perumpamaan tersebut dapat kita pahami bahwa anak adalah modelor yang baik,” kata Siti Fathiyah.
2. Al ‘Aadah: Pembiasaan
Pada pendidikan pembiasaan ini kita perlu melatih anak-anak kita untuk melakukan kebiasaan yang baik. Contoh sederhana kita bisa membangun kebiasaan kepada anak pada rutinitas harian mulai dari bangun pagi sampai tidur lagi.
Seperti makan pagi jam berapa, meletakkan barang pada tempatnya, istirahat malam jam berapa, dst. Ketika ada kebiasaan positif dalam lingkungan kita, anak akan melihat dan turut mengikuti kebiasaan tersebut.
3. An-Nashiihah: Memberikan Nasehat
Nasehat ini seperti obat, jangan terlalu sering tapi juga jangan terlalu jarang. Kapan waktu Rasulullah saat memberi nasehat? Saat bepergian, saat makan, dan saat sakit.
Kita bisa mengimplementasikan ketiga waktu tersebut saat kita ingin memberikan nasehat kepada anak kita. Misalnya saat bepergian, kita bisa mengingatkan mereka untuk selalu memberikan kabar. Atau saat sedang makan kita bisa berkomunikasi, mengajak anak untuk bersyukur. Atau di saat anak kita sedang sakit, kita mendo’akannya memberikan pesan-pesan dan perhatian kepada mereka menunjukkan bahwa betapa khawatirnya kita kepada anak kita.
“Hal yang paling diingat oleh anak-anak kita adalah kebersamaan dan perhatian dari orang tua melalui obrolan-obrolan ringan maupun candaan-candaan yang dilakukan bersama,” kata Siti Fathiyah.
4. Al-Muraqabah: Pemantauan
Pada bagian ini orang tua bisa memantau atau mengevaluasi aktifitas dan pertemanan anak. Di zaman yang serba digital saat ini kita bisa melakukan pemantauan melalui media sosial anak. Di samping itu, orang juga membutuhkan pertolongan Allah untuk bisa memantau anak, karena pengelihatan orangtua terbatas.
“Sehingga kita berdo’a dan memohon kepada Allah untuk senantiasa melindungi anak kita dari fitnah, maksiat dan bahaya apapun di saat mereka sedang tidak bersama kita,” ungkap Siti Fathiyah.
5. Al-‘Uquubah: Hukuman
Hukuman yang kita berikan ke anak kita bisa disesuaikan dengan usia mereka juga kesalahan yang mereka lakukan. Jangan sampai kita menjadi orang tua yang keras atau temperamen. Khawatirnya anak ada jarak atau menjadi tidak hormat dengan kita apabila sering kita hukum atau kita marahi.
“Padahal, kita ingin memiliki anak-anak yang mencintai dan menghormati kita. Oleh sebab itu, hukuman ini posisinya di akhir setelah kita mengimplementasikan poin di atas,” ujar Siti Fathiyah.
(ori)