LANGIT7.ID, Jember - Lahir dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Tubuhnya tidak besar, tapi otaknya encer. Sangat cerdas. Dia mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dalam 106 hari atau 3,5 bulan saja. Namanya Muhammad Faiq Faizin, asal Padomasan Jombang, Jember, Jawa Timur.
Ustadz Faiq Faizin merupakan lulusan Fakultas Tarbiyah Prodi PAI Kampus Institut Agama Islam Al-Falah Assunniyah (INAIFAS) Jember angkatan 2011. Meski hidup pas-pasan sepeninggal sang ayah, namun ia tak surut tekad untuk melanjutkan pendidikan. Ia memilih bersepeda atau ngontel dari rumahnya di Padomasan menuju Kencong, Jember, Jawa Timur. Hal itu ia lakukan agar tidak membebani sang ibu yang menjadi tulang punggung saat suami meninggal dunia.
Masa-masa kuliah bukan perkara mudah. Saat kelelahan mengayuh sepeda ontel, ia mencari tumpangan gratis menuju kampus. Pernah terpikir untuk membeli sepeda motor. Namun niat itu ditepis. Alasannya simple, takut tidak bisa beli bensin.
Bermodal sedikit tabungan, ia bisnis kecil-kecilan jualan pulsa. Ia juga mengajar di beberapa sekolah. Hasil jerih payah itu ia tabung untuk biaya kuliah.
Namun siapa sangka, Ustadz Faiq kini menjadi pengasuh pesantren tahfidzul Qur’an di Kediri. Pesantren yang bernama PP Hamalatul Qur’an (PPHQ) itu terletak di Ringinagung, Kediri, Jawa Timur. Pesantren ini merupakan cabang dari PP Hamalatul Qur’an, Jogoroto Jombang yang diasuh KH Ainul Yaqin. Bagi masyarakat Tebuireng, Mbah Yaqin adalah sosok yang sangat popular.
Ustadz Faiq adalah murid Mbah Yaqin. Di kalangan santri PPHQ, Ustadz Faiq dikenal sebagai alumni yang memiliki kecerdasan tinggi. Saat lulus kuliah, ia menjadi santri PPHQ untuk menghafal Al-Qur’an. Dari situ ia mampu menghafal 30 juz dalam 3,5 bulan saja.
Pesantren yang kini diasuh Ustadz Faiq berdiri sejak 2018. Awalnya, Mbah Yaqin meminta Ustadz Faiq membuat brosur pendaftaran santri baru. Santri-santri baru itu rencananya akan ditempatkan di Desa Jarak Kulon, Jogoroto Jombang, Jawa Timur.
Tak disangka, calon santri membludak. Dari 100 pendaftar, pihak PPHQ hanya mampu menerima 40 orang. Calon santri yang tak lolos diarahkan ke pesantren lain. Namun calon santri itu kukuh hanya mau mondok di PPHQ. Mbah Yaqin kala itu sempat kewalahan.
Namun, ada wali santri bernama Imam Fatoni. Ia menawarkan sebuah rumah di Ringinagung, Kediri untuk dijadikan asrama untuk 60 santri putri PPHQ. Saat disurvei, rumah itu cocok dan pas. Kesepakatan pun tercapai. Rumah itu dialihfungsikan menjadi pondok. Masalah lain datang, tidak ada pengasuh untuk remaja putri itu.
Ustadz Faiq menyampaikan masalah itu ke Mbah Yaqin. Mbah Yaqin tanpa pikir panjang menunjuk Ustadz Faiq sebagai pengasuh PPHQ Kediri itu. Mbah Yaqin melihat Ustadz Faiq cerdas dan telaten. Selain itu, Ustadz Faiq kala itu sudah berkeluarga.
Maka sejak itu, Ustadz Faiq bersama istri, Ustadzah Istianatul Mahmudah, membina puluhan santri putri PPHQ. Seiring berjalannya waktu, PPHQ mengalami perkembangan signifikan, dari dari sisi kualitas maupun kuantitas, termasuk sarana dan prasarana pesantren.
Pada 2018, jumlah santri sekitar 60 orang. Satu tahun kemudian, meningkat menjadi 100 orang. Pada 2020 bertambah menjadi 140 santri. Saat ini tercatat 220 santri. Dalam kurun 2019-2020, sudah ada 200 santri hafal 30 juz yang diwisuda.
Sumber: inaifas.ac.id
(jqf)