LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menekankan penting memahami kehidupan dengan segala aspek dan siklusnya dengan pendekatan bayani (tekstual), burhani (akal pemikiran), dan irfani (spiritual) yang berkelindan mendalam, luas, dan seksama.
Termasuk dalam menghadapi pandemi Covid-19. Masalah tersebut harus diletakkan ke dalam dimensi iman, tauhid, dan hablun min-Allah yang terhubung langsung dengan hablun min-an-nas, ilmu, ihsan, dan amal shalih.
Menurut Haedar, hidup, sakit, dan mati bukan perkara praktis seperti barang murah yang mudah dibuang atau sekali pakai. Hidup dan mati itu sangat berharga dan harus bermakna.
“Muhammadiyah memandang relasi antara ḥablun min-Allāh dan ḥablun minan-nās itu saling terhubung yang harus membuahkan segala kebaikan dalam kehidupan,” kata Haedar dalam Tanwir II Muhammadiyah dan Aisyiyah, Sabtu (4/9/2021).
Pandemi Covid-19 harus dihadapi dengan mengembangkan sikap sikap pertengahan atau wasathiyah antara pendekatan rasional-ilmiah dan spiritual-ruhaniah dengan pendekatan bayani, burhani, dan irfani yang saling terhubung.
Sikap wasathiyah dalam menghadapi berbagai masalah merujuk pada asas interkoneksitas bahwa syariah diturunkan Allah untuk tujuan tertentu. Aspek ḥifẓ an-nafs (menjaga jiwa), ḥifẓ al-‘aql (menjaga akal), ḥifẓ al-māl (menjaga harta), dan ḥifẓ an-nasl (menjaga keturunan) merupakan satu kesatuan yang terhubung dengan dan memiliki fondasi kuat pada ḥifẓ ad-dīn (menjaga agama).
“Kelimanya tidak dapat dipisahkan apalagi dipertentangkan, tetapi satu kesatuan utuh berpondasikan ar-Rujū’ ilā al-Qur’ān wa as-Sunnah dan ijtihad untuk menjawab problematika zaman,” ucap Haedar.
(arp)