LANGIT7.ID-, Jakarta- - Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan latihan rohani yang lebih ekstensif. Bulan suci Ramadhan menjadi momen bagi umat Islam mengubah kebiasaan dengan fokus pada kewajiban agama dari urusan duniawi.
Selama Ramadhan banyak umat Muslim yang meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur'an juga memperbanyak shalat sunnah seperti Tarawih.
Tarawih adalah shalat malam tambahan yang dilakukan setelah shalat Isya. Umumnya tarawih dikerjakan sebanyak delapan hingga dua puluh rakaat.
Dokter dan Presiden Islamic Research Foundation International, Ibrahim B. Syed, dalam esainya yang diterbitkan di website IRFI, menyebut ada beragam keberkahan shalat tarawih bagi kesehatan fisik, emosional dan mental.
Baca juga:
Waktu-Waktu Mustajab Panjatkan Doa di Bulan Ramadhan, Insya Allah Terkabul1. Mempengaruhi mood dan kondisi mental
Menurut Syed, shalat tarawih, seperti halnya shalat apa pun dalam Islam, memiliki efek yang sama pada tubuh dan pikiran.
“Tarawih menimbulkan rasa sejahtera dan energi yang lebih besar, mengurangi kecemasan dan depresi, mempengaruhi suasana hati dengan baik dan berkontribusi pada harga diri dan aura percaya diri; meningkatkan daya ingat pada orang lanjut usia terutama dengan pengulangan ayat yang terus-menerus”, kata Syed dikutip dari laman About Islam.
Pikiran rileks yang dicapai lewat tarawih disebabkan oleh respons kimiawi otak terhadap kombinasi aktivitas otot yang berulang-ulang dengan pengulangan kata-kata yang diucapkan selama jangka waktu tertentu.
Latihan fisik, seperti meditasi dan shalat, melepaskan neurotransmiter seperti Endorfin dan Ensefalin yang berdampak positif pada otak.
Pelepasan ensefalin dan Beta-endorfin (Morfin Endogen) bekerja pada sistem saraf pusat dan tepi untuk mengurangi rasa sakit dan memberikan efek menenangkan pikiran.
Ensefalin adalah salah satu zat mirip opiat paling ampuh yang terdapat secara alami di dalam tubuh.
Endorfin juga memiliki efek analgesik, tetapi juga mengurangi efek negatif stres, menimbulkan perasaan euforia dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

2. Relaksasi
Syed menyebutkan dalam esainya bahwa tarawih membantu mencapai 'respons relaksasi' otak.
Respons relaksasi adalah teori yang dikembangkan oleh profesor Harvard, Dr. Herbert Benson, yang mempelajari dampak spiritualitas terhadap kesehatan fisik.
Menurut Benson, pengulangan kata-kata tertentu secara terus-menerus, seperti dalam shalat atau meditasi, atau aktivitas otot yang dibarengi dengan pengabaian pasif terhadap pikiran intensif, menyebabkan penurunan tekanan darah dan penurunan detak jantung dan pernapasan.
"Respons relaksasi adalah keadaan fisik istirahat mendalam yang mengubah respons fisik dan emosional terhadap stres” terang Benson.
Respons relaksasi membuat pikiran menjadi tenang, mengurangi efek stres dan mendorong sikap penerimaan.
Menurut penelitian “Pengaruh Sholat Tarawih pada Kesehatan Mental dan Pengendalian Diri” yang dilakukan oleh Quadri Syed Javeed, Head & Associate Professor bidang Psikologi di M.S.S. Art’s Commerce & Science College, di Jalna, India, yang diterbitkan dalam Golden Research Thoughts edisi Februari 2013, shalat tarawih secara signifikan meningkatkan kesehatan mental dan pengendalian diri.
Dalam studinya Javeed meneliti kesehatan mental lima puluh responden berusia 18-30 tahun sebelum dan sesudah shalat menggunakan Mental Health Inventory dan Multi Assessment Personality Series Inventory, dan hasilnya memperkuat hipotesisnya tentang efek positif tarawih terhadap kesejahteraan mental dan spiritual.
3. Aktivitas otak
Penjelasan lain mengenai manfaat tarawih terhadap kesehatan mental dapat ditemukan dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh neuropsikolog Universitas Missouri, Brick Johnstone, dan oleh Profesor serta Direktur Penelitian Myrna Brind Center of Integrative Medicine Andrew Newberg.
Studi tentang aktivitas otak para biarawati Francescan dan meditator Budha selama berdoa dan menemukan bahwa selama pengalaman spiritual, aktivitas lobus parietal kanan otak menurun secara signifikan.
Lobus parietal kanan adalah wilayah kecil di dekat bagian belakang otak yang secara konstan menghitung orientasi spasial seseorang, perasaan di mana tubuh berakhir dan dunia dimulai.
Selama doa atau meditasi yang intens, dan untuk alasan yang belum diketahui, lobus parietal kanan menjadi oase tenang tanpa aktivitas.
“Hal ini menciptakan kaburnya hubungan antara diri dan orang lain,” kata Profesor Newberg.
“Jika mereka melangkah cukup jauh, mereka akan mengalami kehancuran total dari diri mereka sendiri, rasa persatuan, rasa ketiadaan ruang yang tak terhingga.”
Menurut Jhonstone, menurunnya aktivitas lobus parietal kanan menimbulkan rasa tidak mementingkan diri sendiri, dan pengalaman tidak mementingkan diri sendiri, sehingga berdampak positif terhadap kesehatan psikologis terutama pada orang yang beriman kuat kepada Tuhan.
“Penelitian kami berfokus pada pengalaman pribadi akan transendensi spiritual dan sama sekali tidak meremehkan pentingnya agama atau keyakinan pribadi, juga tidak menunjukkan bahwa pengalaman spiritual hanya terkait dengan aktivitas neuropsikologis di otak,” kata Johnstone.
“Penting untuk dicatat bahwa setiap individu mengalami Tuhan atau kekuatan yang lebih tinggi dalam berbagai cara, namun semua orang dari semua agama dan kepercayaan tampaknya mengalami hubungan ini dengan cara yang sama.”
Fungsi otak selama latihan spiritual masih merupakan bidang yang penelitiannya masih sangat sedikit.
Hasil kajian Johnstone dan Newberg, teori respons relaksasi Benson, dan penjelasan neurotransmiter Syed, hanya menjawab sebagian pertanyaan tentang bagaimana shalat secara umum, dan shalat tarawih pada khususnya, bermanfaat bagi kesehatan mental dan kesejahteraan spiritual.
Meskipun ‘caranya’ sebagian besar masih belum diketahui, dampak positif tarawih selama Ramadhan dan salat sehari-hari dalam kehidupan umat Islam sudah jelas bahkan tanpa data ilmiah yang membuktikannya.
Seperti firman Allah SWT dalam surah Al-A'la ayat 14-15 dan Al-Baqarah ayat 153,
"Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman), dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat." (QS Al-A'la: 14-15).
"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS Al Baqarah: 153).

(ori)