LANGIT7.ID-, Jakarta- - Di dalam Alquran terdapat perintah agar manusia menjaga diri dan keluarganya dari siksa neraka. Perintah ini merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT yang ingin melindungi umat-Nya dari bahaya siksaan akhirat. Menjaga diri dan keluarga dari dosa dan kesalahan juga merupakan bentuk ibadah yang dianjurkan dalam Islam.
Allah Swt. berfirman dalam surah At-Tahrim [66]: 6.
يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلْئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Qs. At-tahrim [66]: 6)
Di dalam tersebut kata "qu" merupakan kalimat perintah (fiil amr) dari kata dasar "waqa" yang berarti menjaga, melindungi, menyelamatkan dan pengertian lain yang sejenis.
Kata ahli dan kata bentukannya di dalam Alquran disebutkan sebanyak 123 kali. Ahli, di dalam Alquran, sekurang-kurangnya memiliki lima pengertian. Pertama, ahli berarti kemampuan dalam bidang tertentu. Di dalam surah An-Nisa [4]: 58 disebutkan agar amanat disampaikan kepada orang yang ahli.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْآمُنَتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Qs. An-Nisa' [4]: 58)
Pentingnya menyerahkan amanat kepada orang yang ahli dijelaskan di dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari r.a. dari sahabat Abu Hurairah r.a., Nabi Muhammad bersabda:
إِذَا وُسِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
Jika suatu urusan dipegang oleh orang yang tidak ahli maka tanggung kehancurannya.
Imam Bukhari r.a. mengelompokkan Hadis tersebut dalam tema tanda-tanda terjadinya Hari Kiamat. Di dalam bahasa Arab, kata "saat" berarti Kiamat, hari di mana seisi alam semesta hancur lebur. Dengan kata lain, jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang tidak punya kemampuan (incompetent), diurus orang yang tidak becus (incapable), maka itu merupakan pertanda Kiamat.
Kedua, ahli berarti keluarga karena adanya hubungan nasab atau kekerabatan. Di dalam surah An-Nisa [4]: 35 disebutkan apabila terjadi perselisihan di antara suami dan isteri hendaknya dimediasi oleh perwakilan keluarga (ahli) dari kedua belah pihak agar perceraian dapat dihindari.
Ketiga, ahli berarti penduduk suatu negeri atau daerah. Di dalam surah At-Taubah [9]: 101 dijelaskan tentang penduduk kota Madinah (ahli al-madinah) yang sebagian adalah orang-orang munafik yang berkhianat kepada Nabi Muhammad.
وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِّنَ الْأَعْرَابِ مُنْفِقُوْنَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوْا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَّرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّوْنَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ
Di antara orang-orang Arab Badui yang (tinggal) di sekitarmu ada orang-orang munafik. (Demikian pula) di antara penduduk Madinah (ada juga orang-orang munafik), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Nabi Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya. Mereka akan Kami siksa dua kali,331) kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (Qs At-Taubah [9]: 101)
Keempat, seseorang atau kelompok yang memiliki sesuatu. Di dalam Alquran istilah ahli kitab yaitu mereka yang memiliki atau mengikuti Kitab Allah Swt. (Taurat, Zabur, dan Injil). Menurut para ulama tafsir, Ahli Kitab adalah mereka yang beragama Yahudi dan Nasrani.
لَيْسُوا سَوَاءٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَبِ أُمَّةٌ قَائِمَةً يَتْلُوْنَ أيْتِ اللَّهِ أَنَاءَ الَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُوْنَ
Mereka tidak sama. Di antara Ahlulkitab ada golongan yang lurus. 112) Mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari dalam keadaan bersujud (salat). (Qs. Ali Imran [3]: 113)
Kelima, ahli adalah orang-orang yang memiliki kesamaan akidah atau seagama. Di dalam Alquran dikisahkan tentang Kanan, putra Nabi Nuh a.s., yang tenggelam bersama dengan orang-orang kafir karena menolak ajakan dan ajaran Nabi Nuh a.s. Sebagai seorang ayah, Nabi Nuh a.s. sangat bersedih. Akan tetapi, kesedihan itu berkurang setelah Allah Swt. menjelaskan bahwa anaknya bukanlah ahli (keluarga) karena dia berbuat yang tidak baik, bermaksiat.
قَالَ يُنُوْحُ إِنَّهَ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهَ عَمَلٌ غَيْرُ قلے صَالِحٍ فَلَا تَسْتَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجُهِلِينَ
Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu karena perbuatannya sungguh tidak baik. Oleh karena itu, janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Sesungguhnya Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk orang-orang bodoh." (Qs. Hud [11]: 46)
Perintah Alquran agar menjaga diri dan keluarga dari siksa neraka mengandung maksud agar orang tua dan kaum beriman menjaga akidah anak-anak, famili, dan masyarakat. Di dalam Hadis disebutkan bahwa manusia lahir kedua dalam keadaan fitrah, beragama Islam. Akan tetapi orang tua, masyarakat, dan lingkungan sosialnya dapat merusak akidah dan menjadikan mereka pemeluk Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
كُلِّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَحِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِرَانِهِ رواه البخاري عن ابي هريرة
Setiap anak lahir ke dunia dalam keadaan fitrah. Orang tuanya dapat menjadikan mereka Yahudi, Majusi, atau Nasrani. (HR. Bukhari dari Abu Hurai- rah).
Menjaga diri dan keluarga dari siksa neraka berarti mendidik agar anak, keluarga, dan masyarakat bertakwa kepada Allah Swt. Takwa adalah pesan yang universal yang disampaikan para rasul kepada umatnya seperti Nabi Nuh a.s. (Qs. Asy-Syura [26]: 109), Nabi Hud a.s. (26: 124), Nabi Salih a.s. (26: 142), Nabi Luth a.s. (26: 161), Nabi Syuaib a.s. (26: 177), dan Nabi Ilyas a.s. (Qs.Asy-Syaffat [37]: 124).
Tidak hanya agar anak-anak selamat dari api neraka. Alquran menjelaskan tentang ciri hamba Allah yang Maha Rahman (Pengasih). Mereka senantiasa berdoa kepada Allah Swt. agar diberikan anugerah generasi yang berakhlak mulia (qurrota 'ayun) dan menjadikan mereka pemimpin bagi manusia yah yang bertakwa.
وَالَّذِينَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan, orang-orang yang berkata, "Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan [25]: 74)
Perintah Alquran adalah orang-orang yang beriman menjaga diri dan keluarganya dari siksa neraka sangat relevan dengan keadaan dan kecenderungan masyarakat masa kini. Beberapa survei menunjukkan adanya kecenderungan generasi muda yang tidak lagi percaya kepada agama (ateis), tidak mau mengikuti salah satu agama (agnostik), dan tidak menaati ajaran agama. Di kalangan keluarga muslim terjadi proses degenerasi keagamaan (diniyah) di mana antara orang tua dengan anak, cucu, dan generasi di bawahnya memiliki agama yang berbeda. Sebabnya bisa karena perkawinan, pendidikan, pekerjaan, dan sebab yang berasal dari internal keluarga yaitu kurang, lemah, atau tidak adanya bimbingan agama yang sungguh-sungguh dari orang tua dan anggota keluarga lainnya.
Di dalam Alquran dijelaskan tentang orang-orang yang masuk surga bersama-sama. Alangkah bahagianya apabila ayah, ibu, anak, cucu, dan semua anggota keluarga masuk surga bersama-sama karena saling menjaga dan mengajak untuk menjadi manusia yang bertakwa.
Allahu 'alam.(lam)