Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home masjid detail berita

Pendidikan Islam ala Nurul Hayat, Masjid Jadi Pusat Peradaban

Muhajirin Sabtu, 10 Juli 2021 - 10:26 WIB
Pendidikan Islam ala Nurul Hayat, Masjid Jadi Pusat Peradaban
Masjid Agung Al Azhar. Foto: Simas Kemenag
LANGIT7.ID, Jakarta - Pada era kejayaan Islam, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat shalat saja, namun juga sebagai pusat kegiatan intelektualitas. Masjid terbukti memiiki peran sangat penting dalam perkembangan Islam di dunia.

Masjid dan pendidikan adalah dual hal yang tak bisa dipisahkan. Di setiap berkembanganya ajaran Islam, di situlah bangunan masjid menjulang. Peran masjid lantas berkembang sebagai pusat pendidikan. Sekolah dan masjid pada era kejayaan Islam mampu menampung murid dalam jumlah ratusan hingga ribuan siswa.

Konsep tersebut yang hendak dilestarikan Nurul Hayat. Lembaga sosial yang berpusat di Surabaya, Jawa Timur itu merupakan transformasi dari sebuah panti asuhan keluarga. Lembaga yang berdiri pada 3 April 2021 itu menjadikan pendidikan sebagai salah satu konsen utama.

Awal Mula

Awal berdiri lembaga Nurul Hayat masih berupa panti asuhan. Panti asuhan tersebut merupakan inisiatif seorang pengusaha dari Surabaya, H Muhammad Molik. Ia terbiasa menyantuni anak yatim jika mendapat keuntungan. Keinginan terus berbagi, Nurul Hayat berubah menjadi yayasan keluarga, lalu diolah menjadi lembaga profesional.

Direktur Eksekutif Laznaz Nurul Hayat, Ustadz Heri Latief, mengatakan, pada awal menjadi lembaga profesional, Nurul Hayat hanya fokus memberikan bewasiswa kepada anak yatim dan dhuafa. Mereka telah memberikan beasiswa kepada 2000 anak yatim dan dhuafa. Pada 2014, Nurul Hayat mendirikan Pondok Pesantren yang fokus memberikan kuota untuk anak yatim dan dhuafa. Pada 2018, didirikan Yayasan Khairunnas untuk menangani unit pendidikan Nurul Hayat.

Yayasan Khairunnas sudah berdiri di kota-kota besar Indonesia seperti Surabaya, Malang, Madiun, Madura, dan Tubang. Mereka fokus mendidik peserta didik dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

"Kita konsen memberikan pendidikankepada anak yatim dan duafa," kata Heri saat berbincang dengan LANGIT7.ID.

Dari situlah muncul inspirasi untuk membuat sekoah berbasis masjid. Sekolah, kata dia, harus diduplikasi sebanyak mungkin. Namun membuat pesantren tidak memungkinkan, karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sementara kebutuhan akan pendidikan di Indonesia tiap hari terus mendesak.
Pendidikan Islam ala Nurul Hayat, Masjid Jadi Pusat Peradaban
"Karena kita basicnya lembaga sosial, maka kita terbiasa terjung ke daerah-daerah, dari pelosok desa ke desa. Kita melihat juga di sana ada ketimpangan dalam hal pendidkan. Akhirnya ketika kita mengelolah pesantren dan sekolah yang sudah berjalan, ktia masih melihat ada celah, bahwa ini sulit untuk di-copy paste sebanyak mungkin. butuh infrastruktur, pembiayaan tidak sedikit. Saya waktu itu terfikir, ini ada masjid kalau pagi tidak ada kegiatan, relatif masjid masjid itu kosong, tidak ada kegiatan, terus kita ingin bagaimana masjid ini dimanfaatkan," ucap Heri.

Heri mengaku mendapatkan kemudahan saat memulai program tersebut. Ia merupakan pendiri Sahabat Masjid Indonesia di Surabaya. Ia dengan mudah mendapatkan masjid untuk dijadikan sekolah pada awal berjalan. Lalu seiring waktu Nurul Haya secara independen berjalan sendiri, seperti pengurus dan perangkat launnya berada di bawah yayasa Nurul Hayat.

Sekolah Masjid itu memiliki sistem pendidikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dengan ijazah paket A. Menurut Heri, masjid bisa menjadi alternatif bagi daerah-daerah terbelakang dalam hal ekonomi. Mereka bisa menjadikan masjid sebagai sekolah untuk memberikan pendidikan berkualitas kepada anak-anak. Mereka memiliki fokus pendidikan yakni pendidikan adab Islam, penguatan bahasa dan logika, tahsin dan tahfiz 5 juz, dan memakai kurikulum PKBM Diknas.

"Ini bisa menjadialternatif atau mereka percaya diri untuk membuat sekolah sesuai dengan gagasan mereka. Terutama yangn ingin memasukkan nilai-nilai islam, terutama yang ingin menguaktualisasikan gagasan pendidikan mereka, di luar pendidikan yang sudah ada," ucapnya.

Heri menegaskan, pendidikan pada hakikatnya adalah mengajar atau mentransfer ilmu pengetahuan. Itu bisa dilakukan di mana saja. Fasilitas hanya faktor pendukung, bukan hal utama. Filosofi pendidikan bisa dengan mudah diterapkan di tengah masyarakat jika menjadikan masjid sebagai wadah. Bisa dibilang, tiap daerah pasti memiliki masjid, dan bangunan itu relatif kosong dari kegiatan ketika pagi.

Heri mengatakan, konsep Sekolah Masjid ini bisa ditiru oleh siapa saja. Jika ingin bekejrja sama dengan Nurul Hayat, dipersilahkan. Namun bila ingin mendirikan Sekolah Masjid sendiri, dipersilahkan pula. Ia ingin menjadikan masjid sebagai basis pendidikan seperti pada masa kejayaan Islam.

"Kita ingin masjid sebagai center, masjid bukan hanya tempat salat, yang sekarang gagasan itu sering kita dengar. Masjid bukan hanya tempat salat, masjid harus menjadi pusat kegiatan sosial, ditambah lagi dengan pendidikan," ungkapnya.

Konsep tersebut rupanya mendapat sambungan hangat dari masyarakat. Beberapa sekolah masjid di Surabaya dan Madiun kini telah memenuhi kuota.

Fokus Pendidikan Sekolah Masjid

Heri mengatakan, Sekolah Masjid ala Nurul Hayat mengutamakan pendidikan umum kepada para siswa. Misalnya penguatan adab Islam, bahasa, dan logika. Ia beralasan, anak-anak sudah cukup terpola dengan suasana masjid.

"Jadi saya sampaikan ke temen-temen, jangan terlalu banyak bumbu yang bersifat spiritual, maksudnya, jangan kesan keislamannya itu jangan teoritis. Jangan terlalu banyak. Jadi adabnya diajari. Ada target hafalan Quran, tapi itu bukan prioritas. Prioritas kami adalah prestasi di hal-hal bersifat umum. Kita ingin menyeimbangkan pendidikan umum dan Islam di masjid," ujarnya.
Pendidikan Islam ala Nurul Hayat, Masjid Jadi Pusat Peradaban
Heri menjelaskan, spiritualitas anak-anak akan terpenuhi karena sudah belajar di masjid. Maka itu, dia ingin agar para murid tidak meninggalkan kebutuhan pengetahuan umum mereka. Mereka belajar bahasa dan mengasah logika. Ia tak ingin masjid hanya menjadi tempat belajar mengaji saja, tapi lebih dari itu, jadi pusat ilmu pengetahuan. Namun, jika ada orang tua yang ingin fokus mendalami agama, Nurul Hayat memiliki Yayasan Khairunnas. Yayasan tersebut adalah pondok pesantren yang memang fokus memberikan pendidikan agama.

Heri mengatakan, Sekolah Masjid tidak akan membangun gedung. Ia ingin memakmurkan masjid. Fasilitas bukan faktor utama. Hanya pendukung. Nurul Hayat bisa membangun masjid di atas tanah sekian hektar dan membangun pesantren megah, tapi itu bertentangan dengan konsep Sekolah Masjid.

"Makanya, Sekolah Masjid ini saya pertahankan, karena cita-cita Nurul Hayat mendirikan banyak sekolah seperti ini, baik di bawah bendera Nurul Hayat atau di manapun, tapi kita bisa berkolaborasi dan belajar bersama memberikan pendidikan alternatif untuk anak anak kita, dan supaya banyak orang percaya diri untuk membuat seperti itu," ungkapnya.

(asf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)