Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 02 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Pondok Pesantren Tertua di Indonesia dan Sejarah Berdirinya

Muhammad Hamzah Aryanto Kamis, 24 Juni 2021 - 17:05 WIB
Pondok Pesantren Tertua di Indonesia dan Sejarah Berdirinya
Masjid Tertua di Pondok Pesantren Buntet Cirebon (sumber: al-firdaus.sch.id)
LANGIT7.ID, Jakarta - Indonesia memiliki banyak pesantren. Dari data Kementerian Agama tercatat pada 2020 sedikitnya terdapat 28.194 pesantren di seluruh Indonesia dengan 5 juta jiwa santri mukim. Lalu, pesantren manakah yang paling lama berdiri di Indonesia?

Diantara Pondok Pesantren yang tercatat sebagai pesantren tertua di Indonesia yakni Ponpes Sidogiri berdiri pada tahun 1745, Ponpes Jamsaren berdiri tahun 1750, Ponpes Buntet Cirebon berdiri tahun 1750 dan Ponpes Darul Ulum Banyuanyar berdiri pada tahun 1787.

1. Pondok Pesantren Sidogiri

Pondok Pesantren Tertua di Indonesia dan Sejarah Berdirinya

Ponpes Sidogiri didirikan oleh seorang Ulama dari Cirebon Jawa Barat bernama Sayyid Sulaiman. Beliau adalah keturunan Rasulullah SAW dari marga Basyaiban.

Ayahnya, Sayyid Abdurrahman, adalah seorang perantau dari negeri wali, Tarim Hadramaut Yaman. Sedangkan ibunya, Syarifah Khodijah, adalah putri Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Dengan demikian, dari garis ibu, Sayyid Sulaiman merupakan cucu Sunan Gunung Jati.

Sayyid Sulaiman membabat dan mendirikan pondok pesantren di Sidogiri dengan dibantu oleh Kiai Aminullah. Kiai Aminullah adalah santri sekaligus menantu Sayyid Sulaiman yang berasal dari Pulau Bawean.

Konon pembabatan Sidogiri dilakukan selama 40 hari. Saat itu Sidogiri masih berupa hutan belantara yang tak terjamah manusia dan dihuni oleh banyak makhluk halus. Sidogiri dipilih untuk dibabat dan dijadikan pondok pesantren karena diyakini tanahnya baik dan penuh keberkahan.

Terdapat dua versi tentang tahun berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri yaitu 1718 atau 1745. Dalam suatu catatan yang ditulis Panca Warga tahun 1963 disebutkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri didirikan tahun 1718. Catatan itu ditandatangani oleh Almaghfurlahum KH Noerhasan Nawawie, KH Cholil Nawawie, dan KH Sadoellah Nawawie pada 29 Oktober 1963.

Dalam surat lain tahun 1971 yang ditandatangani oleh KA Sadoellah Nawawie, tertulis bahwa tahun tersebut (1971) merupakan hari ulang tahun Pondok Pesantren Sidogiri yang ke-226. Dari sini disimpulkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri berdiri pada tahun 1745. Dalam kenyataannya, versi terakhir inilah yang dijadikan patokan hari ulang tahun/ikhtibar Pondok Pesantren Sidogiri setiap akhir tahun pelajaran.

Pada tahun 1158 H atau 1745 M, Mbah Sayyid Sulaiman begitu sapaan akrabnya, membabat tanah Sidogiri yang saat itu masih berupa hutan belantara. Beliau adalah putra pertama pasangan Sayid Abdurrahman bin Umar Basyaiban dan Syarifah Khadijah, cucu Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Kemudian, pada pertengahan abad ke-18 Masehi, kepengasuhan Pondok Pesantren dipangku oleh KH Aminullah asal Bawean kelahiran Hadhramaut.

2. Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta

Pondok Pesantren Tertua di Indonesia dan Sejarah Berdirinya


Pondok Pesantren yang terletak di tengah Kota Solo ini berdiri pada tahun 1750 di masa pemerintahan Pakubuwono (PB) IV. Ponpes Jamsaren adalah salah satu ponpes tertua yang ada di Kota Solo dan telah melahirkan banyak santri yang kemudian menjadi tokoh tingkat nasional.

Pada awal berdirinya, bangunan Ponpes Jamsaren hanya berupa sebuah surau kecil. Kala itu, PB IV mendatangkan para ulama, di antaranya Kiai Jamsari yang berasal dari Banyumas, Kiai Hasan Gabudan dan lain sebagainya. Salah satu maksud didirikannya Masjid dan Pondok adalah untuk mengajarkan agama Islam kepada pejabat, bangsawan kraton dan juga masyarakat umum.

Nama Jamsaren sendiri diambil dari nama kediaman Kiai Jamsari yang kemudian diabadikan hingga sekarang.

Pondok Jamsaren juga pernah mengalami masa vakum. Vakumnya pondok pada 1830 disebabkan terjadinya operasi tentara Belanda. Operasi itu dimulai lantaran Belanda kalah perang dengan Pangeran Diponegoro pada tahun 1825 di Yogyakarta. Karena kalah, Belanda melancarkan serangkaian tipu muslihat dan selanjutnya berhasil menjebak Pangeran Diponegoro. Karena itu pada 1830, para Kiai dan pembantu Pangeran Diponegoro di Surakarta dan PB VI bersembunyi dan keluar dari Surakarta ke daerah lain, termasuk Kiai Jamsari II putra Kiai Jamsari berserta para santrinya.

Setelah sekitar 50 tahun vakum, seorang Ulama dari Klaten yang merupakan keturunan pembantu Pangeran Diponegoro, KH Idris membangun kembali surau, yang kemudian menjadi pesanren tersebut.

Bangunan pondok dibuat lebih lengkap dan diperluas dari kondisi semula. Bersamaan itu pula Sunan Pakubuwono X mendirikan Madrasah yang diberi nama Madrasah Mamba'ul 'Ulum Surakarta.

Materi yang diajarkan adalah kitab-kitab klasik (kitab kuning) berbahasa Arab dan diterjemahkan dengan bahasa Jawa Pegon (bahasa Jawa yang disesuaikan dengan susunan bahasa Arab), seperti Nahwu Shorof, Tajwid, Qiroah, Tafsir, Fiqh, Hadits, Mantiq, Tarikh dan Tasawwuf.

Metode pengajaran pun dilakukan dengan cara sorogan yakni maju satu per satu tiap santri berguru pada Kiai. sebagian yang lain dengan cara wekton atau blandongan yakni secara berkelompok masing-masing membawa kitab sendiri.

Dalam perkembangannya, pada tahun 1923 M, KH Idris wafat kemudian digantikan oleh KH. Abu Amar atau Kiai Ngabei Projowijoto. Pada tahun 1965 KH Abu Umar wafat dan digantikan oleh putranya KH Ali Darokah.
KH Ali Darokah memimpin Ponpes Jamsaren pada tahun 1965 hingga 1997 dibantu oleh pengurus pondok.

Struktur pengurus pondok terdiri dari Lurah Pondok, Sekretaris, Bendahara, Wali Santri Pondok, staf pengajar, staf keamanan, dan staf dakwah. Pada tanggal 8 juli 1997 KH. Ali Darokah wafat. Sepeninggal beliau pengelolaan Pondok diserahkan kepada pengurus harian pondok dan pengurus pelaksana harian pondok.

Pada periode ini selain pengajian sistem kelas dengan materi pelajaran agama juga diberi materi pelajaran umum untuk menunjang prestasi santri. Pada tahun pertama santri diwajibkan untuk menghapal juz 'Amma sebagai alah satu bekal santri dalam kehidupan bermasyarakat kelak.

Sebagai salah satu institusi pendidikan yang telah ditempa oleh perubahan zaman selama berpuluh-puluh tahun, maka dalam mensikapi dunia pendidikan pada dekade ini. Pondok Pesantren Jamsaren menawarkan suatu alternatif sitem pendidikan dimana santri digembleng dengan pengetahuan pendidikan agama islam di pesantren, di sisi lain santri menuntut ilmu pengetahuan umum di sekolah formal dengan harapan agar kelak menjadi profesional muda yang berjiwa Ulama dan pemimpin yang berguna bagi bangsa, agama dan negara.

3. Pondok Pesantren Buntet Cirebon

Pondok Pesantren Tertua di Indonesia dan Sejarah Berdirinya

Pondok Pesantren Buntet didirikan oleh Kiai Muqoyyim. Ulama tersebut merupakan putra Kiai Badul Hadi yang merupakan keturunan bangsawan dari Kesultanan Cirebon. Pondok Pesantren Buntet terletak di Desa Mertapada Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon.

Pondok Pesantren Buntet dikenal sebagai salah satu pondok pesantren tertua di Indonesia yang berdiri pada tahun 1750.

Ditinjau dari sejarahnya, pendirian pondok pesantren legendaris di Jawa Barat itu disebutkan merupakan hasil pelampiasan dari Kiai Muqoyyim saat dirinya keluar dari lingkungan Kasultanan Cirebon di Keraton Kanoman.

Pada 1689, seiring dengan melemahnya Kesultanan Cirebon pascamangkatnya Pangeran Girilaya pada 1662 M, saat itu Kesultanan Cirebon terpecah menjadi beberapa bagian. Karena kepintara dalam membuat buku tentang Tauhid, Fiqih dan Tasawwuf Kiai Muqoyyim diangkat menjadi Mufti oleh Keraton Kanoman.

Saat itu dirinya menjabat sebagai Pejabat Mufti atau Penasehat di Pengadilan Agama Resmi Keraton Kanoman. Ia memiliki kemampuan menguasai ilmu agama, membaca kitab Arab pegon, hingga menguasai tata cara syiar Agama Islam.

Namun di masa penjajahan Belanda pada saat itu, terjadi gesekan ideologi antara Kiai Muqoyyim dengan Pihak Keraton, di mana terdapat pihak Belanda yang melakukan devide et impera atau Politik Memecah Belah antara kerajaan dengan rakyat.

Cikal bakal Pondok Pesantren Buntet tersebut kemudian didirikan oleh Kiai Muqoyyim pasca kepergiannya dari Keraton Kanoman ke kawasan kampung Kedung Malang, Desa Buntet Kecamatan Astanajapura Cirebon. Di mana bangunan awalnya masih berupa sebuah pondok sederhana dengan beberapa kamar untuk ditinggali para santri setempat yang tertarik.

Ketika itu dirinya juga membangun sebuah langgar kecil (musala), di dekat pondok sederhana untuk memudahkan kegiatan beribadah dari para santrinya saat belajar Agama Islam.

Kemudian masyarakat pun mulai banyak yang tertarik lantaran Kiprah Kiai Muqoyyim di Keraton Kanoman serta kemampuannya menyiarkan Agama Islam yang dianggap mumpuni oleh masyarakat ketika itu.

4. Ponpes Darul Ulum Banyuanyar Madura

Pondok Pesantren Tertua di Indonesia dan Sejarah Berdirinya

Pondok Pesantren Banyuanyar Pamekasan Madura, bermula dari sebuah langgar (musholla) kecil yang didirikan oleh Kiai Itsbat bin Ishaq sekitar tahun + 1787 M/1204 H. Beliau adalah salah seorang ulama kharismatik yang terkenal dengan kezuhudan, ketawadhuan dan kearifannya yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh masyarakat dan pengasuh pondok pesantren di Pulau Madura dan Pulau Jawa.

Pada awal berdirinya, Pondok Pesantren Banyuanyar hanya berlokasi di atas sebidang tanah tegalan yang sempit dan gersang yang kemudian dikenal dengan sebutan Banyuanyar. Di lokasi inilah Kiai Itsbat mengasuh para santrinya dengan penuh istiqomah dan sabar, sekalipun sarana dan fasilitas yang ada pada saat itu jauh dari kecukupan.

Setelah wafat, beliau meninggalkan amanah suci pada generasi penerusnya yaitu cita-cita luhur untuk mendirikan sebuah pondok pesantren yang representatif yang mampu menjawab tantangan zaman dan tuntutan umat.

Mengacu pada awal didirikannya langgar di kompleks yang sekarang merupakan Pondok Pesantren Banyuanyar, pesantren ini lahir di sekitar pertengahan kedua di abad ke-18, yaitu kurang lebih di tahun 1788 Masehi atau bertepatan dengan 1204 Hijriah. Secara administratif, saat ini Ponpes Banyuanyar masuk Desa Potoan Daya, Palengaan, Pamekasan.

Banyuanyar secara makna berasal dari kata banyu atau banyo yang berarti air, sedangkan makna anyar adalah baru. Penamaan ini berdasar kisah penemuan sumber mata air (sumur) yang cukup besar oleh Kiai Itsbat. Sumur atau sumber mata air tersebut belum pernah surut sedikitpun, bahkan sampai sekarang air tersebut masih dapat difungsikan sebagai air minum santri dan keluarga besar Pondok Pesantren Banyuanyar.

Dalam situs milik Ponpes Banyuanyar disebut bahwa Kiai Itsbat bukan asli Banyuanyar. Sebelum bermukim di Banyuanyar tersebut, Kiai Itsbat mengambil tempat di sebuah desa yang jauh dari keramaian, tepatnya di Desa Longserreh, Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampang.

Tetapi di daerah ini beliau tidak begitu lama karena isteri beliau merasa tidak betah. Akhirnya Kiai Itsbat bersama keluarganya pindah ke arah Timur, yaitu sebuah area yang masih berupa hutan belantara yang kemudian menjadi lokasi Ponpes Banyuanyar.

Sumber: diolah dari berbagai sumber

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 02 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)