LANGIT7.ID-, Jakarta- - Rupiah mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan hari ini. Mata uang Indonesia ini ditutup melemah 56,5 poin ke level Rp15.495 dari penutupan sebelumnya di Rp15.438,5. Pelemahan ini terjadi di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan domestik yang dihadapi Indonesia.
Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, memberikan pandangannya tentang pergerakan rupiah ke depan "Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp15.420 - Rp15.520," ujar dia dalam keterangan resmi, Selasa (27/8/2024).
Meskipun rupiah mengalami tekanan, Bank Indonesia (BI) tetap optimis dengan prospek pertumbuhan ekonomi nasional. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2024 akan berkisar antara 4,7% hingga 5,5%. Angka ini tidak jauh berbeda dari pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua 2024 yang mencapai 5,05% secara tahunan (yoy).
Untuk mencapai target pertumbuhan ini, pemerintah fokus pada peningkatan konsumsi rumah tangga, terutama setelah berakhirnya faktor musiman seperti hari besar keagamaan nasional (HBKN) dan dampak pelaksanaan pemilu pada semester pertama 2024. Proyek Strategis Nasional (PSN) juga diharapkan dapat mendorong investasi, khususnya dari sektor swasta.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini ditopang oleh kuatnya permintaan domestik dan meningkatnya kinerja ekspor. Konsumsi rumah tangga, sebagai kontributor utama, tumbuh sebesar 4,93% (yoy), didorong oleh periode libur yang lebih panjang. Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh positif sebesar 1,42%, terutama didukung oleh penyerapan belanja modal dan belanja barang.
Pemerintah terus berupaya menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan, termasuk pengendalian inflasi, kenaikan gaji aparatur sipil negara (ASN), pemberian gaji ke-13 dengan tunjangan kinerja 100%, serta penciptaan lapangan kerja baru yang lebih besar di awal tahun 2024, mencapai 3,55 juta.
Di pasar global, dolar AS menguat tipis pada hari Selasa, sementara mata uang utama lainnya diperdagangkan secara menyamping. Kekhawatiran atas ketegangan di Timur Tengah sebagian mengimbangi optimisme investor terhadap pemangkasan suku bunga AS yang diperkirakan akan segera terjadi.
Eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah menambah ketegangan di kawasan tersebut. Meskipun demikian, seorang jenderal tinggi AS menyatakan bahwa bahaya perang yang lebih luas telah sedikit mereda, namun potensi serangan Iran terhadap Israel tetap menjadi risiko.
Di sisi lain, mata uang utama tetap bertahan mendekati level tertinggi bersejarah, sementara dolar AS mendekati level terendahnya dalam lebih dari setahun. Hal ini didukung oleh kemungkinan pemangkasan suku bunga AS pada bulan September, setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell secara implisit menyetujui langkah tersebut dalam pidatonya di Jackson Hole.
Presiden Fed San Francisco, Mary Daly, juga menyatakan bahwa pengurangan seperempat poin persentase dalam biaya pinjaman bulan depan mungkin terjadi. Pasar telah sepenuhnya memperhitungkan penurunan suku bunga bulan depan dan memperkirakan pelonggaran sekitar 100 basis poin pada akhir tahun.
(lam)