LANGIT7.ID, Semarang - Masjid Agung Darussalam jadi kebanggaan warga Purbalingga. Bahkan ada lagu khusus tentang rumah ibadah ini yang tak asing di telinga masyarakat setempat.
Lagu Masjid Agung Darussalam membangkitkan kenangan tersendiri, seperti menjelajahi waktu menuju masa kecil dulu, yang mana selalu diputar di rumah orang tua dulu.
Tembang Masjid Agung Darussalam bercerita tentang keindahan masjid yang dibangun mengikuti arsitektur Masjid Nabawi di Madinah dengan dua menara yang menjulang tinggi. Lagu tersebut juga menceritakan perkembangan Islam yang dimulai dari masjid.
Masjid Agung Darussalam merupakan masjid kebanggaan masyarakat Purbalingga. Dibangun pada abad ke-19 oleh seorang ulama setempat bernama KH Abdullah Ibrahim. Pembangunan dilakukan di atas tanah seluas 5.500 meter persegi pada 1853 Masehi.
Kemegahan dan keindahan masjid dapat disaksikan tepat di depan alun-alun kota. Selain sebagai destinasi wisata religi, Masjid Agung Darussalam juga menjadi pusat syiar Islam di Purbalingga dan sekitarnya.
Masjid Agung Darussalam telah mengalami renovasi sebanyak lima kali. Masing-masing pada tahun 1918, 1960, 1970, 1980-1985 dan terakhir pada tahun 2002-2004. Dana yang dialokasikan pada rehab terakhir tahun 2002 mencapai Rp2 miliar.
Mengutip Dunia Masjid Islamic Center, bagian yang paling menonjol dalam mengadopsi gaya arsitektur Nabawi terletak pada dua menara masjid, tampilan muka dan samping masjid, serta bagian interior dan ornamen lampu-lampunya.
Penyesuaian gaya tersebut juga tampak pada perombakan konstruksi atap bangunan belakang, pemasangan lapisan keramik dan granit pada lantai dan dinding, pembuatan kolom-kolom baru dalam interior bangunan belakang, pemasangan plafon dari bahan gipsum, dan ornamen lukisan geometrik Arabik.
Dalam lirik lagu yang dinyanyikan Dedy Pitak, keindahan arsitektur Masjid Agung Darussalam tergambar dengan sangat bersahaja. Misalnya, kubah besar diibaratkan seperti gunung. Dari jauh, tampilan masjid seperti rumah memakai topi tudung.
Saat proses renovasi, penggantian genting, beton, dan genting kaca lukis/grafir, pembuatan tempat wudhu di bagian depan untuk pria, perbaikan tempat wudhu lama, penataan taman dan halaman, serta pembuatan pagar mengadopsi gaya dan bentuk Masjid Nabawi.
Pemugaran total tersebut berhasil menjadikan Masjid Agung sebagai landmark Kota Purbalingga. Terbukti dari banyaknya pengunjung dari dalam dan luar negeri yang menyempatkan singgah dan melaksanakan ibadah di masjid kebanggaan Kota Perwira ini.
(bal)