LANGIT7.ID, Bogor - Pernah membeli hewan kurban berpostur besar tapi daging yang dihasilkan tidak sesuai bobot? Mungkin Anda terkecoh tampilan fisik hewan kurban dan tidak tahu apa yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan jumlah daging yang sesuai.
Masyarakat sering mengeluh soal hewan kurban yang mereka beli tidak menghasilkan jumlah daging sesuai dengan bobot hidup hewan. Padahal sebenarnya, faktor fisik hewan tidak mempengaruhi jumlah daging yang dihasilkan.
Memilih hewan kurban tidak bisa dilakukan sembarangan. Apalagi hanya melihat fisik atau postur dari hewan kurban itu sendiri. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk memilih hewan kurban agar postur dan bobot hewan sesuai dengan jumlah daging yang dihasilkan.
Advisor Halal Audit Service LPPOM MUI, Departemen ITP Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB, Joko Hermanianto mengatakan hukum berkurban merupakan sunnah muakkad yang sangat dianjurkan. Menurutnya, berkurban perlu dilakukan meskipun hanya sekali dalam seumur hidup.
“Berkurban tidak bisa digantikan dengan uang sejumlah dengan harga hewan kurban. Memberikan uang seharga dengan uang kurban tidak berarti seseorang telah melakukan kurban, melainkan masuk ke dalam kategori sedekah, walaupun nominal uangnya bahkan melebihi dari harga hewan kurban,” ujarnya di Webinar Pelatihan Penanganan dan Penyembelihan Hewan Kurban di Masa Pandemi, Minggu (11/7).
Namun, berkurban boleh dilakukan dengan taukil. Di mana pengurban menyerahkan sejumlah dana seharga hean tternak kepada pihak lain, baik individu maupun lembaga sebagai wakil untuk membeli hewan kurban, termasuk merawat, niat, menyembelih dan membagikan hewan kurban.
Berikut adalah tips membeli hewan kurban secara syariah dan teknis yang Langit7 rangkum di Webinar Pelatihan Penanganan dan Penyembelihan Hewan Kurban di Masa Pandemi:
1. Usia
Ada tiga jenis hewan kurban yang biasanya di jual di Indonesia, seperti sapi, domba dan kambing. Berapa usia yang diperbolehkan untuk disembelih dalam kurban di tiga jenis hewan ini.
Menurut Joko, untuk domba yang diperbolehkan adalah yang sudah berusia satu tahun dan masuk tahun kedua. Kambing berusia dua tahun dan masuk tahun ketiga.
“Untuk sapi, tidak berbeda dengan kambing. Sapi yang boleh disembelih adalah sapi yang berusia dua tahun dan sedang masuk tahun ketiga,” jelasnya.
2. Pastikan Bagian Daging Tumbuh Maksimal
Menurut Anggota Divisi Penyembelihan Halal HSC, Departemen IPTP Fapet IPB, Edit Lesa Aditya, pengurban perlu memiliki pengetahuan di mana tempat daging hewan kurban tumbuh. Pasalnya, bentuk fisik hewan kurban yang besar saat hidup tidak akan menghasilkan jumlah daging yang sama saat disembelih.
Pengurban memperhatikan di mana saja bagian daging optimum tumbuh. Sehingga, bobot akan menghasilkan esitmasi daging yang dihasilkan.
“Pastikan di mana daging itu tumbuh optimum atau tersimpan di tubuh hewan kurban, seperti pada bagian paha belakang, bahu atau lengan, pinggal dan pinggung, karena pada bagian ini merupakan daging premium,” ujarnya.
Pengurban, lanjut Edit, jangan sampai tertipu dengan bentuk perut yang besar hewan kurban. Menurutnya, perut hewan yang besar tidak mengindikasikan jumlah daging yang didapat akan lebih besar.
“Bagian perut ini merupakan bagian yang menampung makanan, jadi ketika disembelih maka isi perut akan dibuang dan mengurangi jumlah daging walaupun memiliki bobot yang berat. Jangan perhatikan perut hewan kurban yang besar tapi otot di bagian daging yang montok,” jelasnya.
3. Gali Informasi
Pengurban perlu menggali informasi ke penjual hewan kurban. Informasi ini berisi latar belakang dari hewan kurban tersebut.
“Dari mana ternak hewannya, apa pakannya, usia dan lainnya,” jelas Edit.
Menurutnya, informasi yang didapatkan pengurban ini akan menjadi tolak ukur kesehatan, bobot dan jumlah daging hewan kurban. Sehingga estimasi jumlah daging tidak akan jauh dari bobot hewan kurban saat hidup.
4. Bedakan Lemak dan Daging
Bagian lemak pada hewan kurban ini biasanya terletak di bagian selangkangan dan perut. Perlu pengamatan lebih teliti terhadap keberadaan lemak pada hewan kurban ini.
Hal ini menjadi penting untuk mencegah tidak meratanya pembagian daging dan lemak kepada calon penerima. Dengan memperhatikan hal ini, Edit menuturkan, kepuasan akan didapatkan oleh banyak pihak, baik pengurban atau pun penerima daging kurban.
“Hewan kurban yang gemuk bisa diindikasikan mengandung lemak yang lebih banyak dalam tubuhnya. Dalam berkurban tentu lemak tidak dibuang tapi juga dibagikan, jadi untuk menghindari keluhan penerima yang menerima lebih banyak lemak dibandingkan daging, perlu memperhatikan jumlah daging dan lemak pada hewan kurban,” kata Edit.
5. Fisik
Pilihlah fisik hewan kurban yang sehat. Pengurban perlu menghindari hewan kurbat yang sakit atau memiliki kecacatan.
Caranya bisa dilihat dari postur berdiri hewan kurban. Selain itu juga dengan memperhatikan nafsu makan dan aktivitas hewan kurban di tempat penjual.
“Pilih yang berdiri kokoh, perhatikan ketika hewan berjalan apakah pincang atau tidak. Pilih juga hewan berdiri jangan hewan yang terlalu lama duduk. Selain itu, hewan sehat juga akan memiliki sifat lebih agresif, seperti kawin atau pun berkelahi dengan hewan kurban lainnya,” jelasnya.
6. Khusus Domba atau Kambing Raba Bagian Punggung
Edit menjelaskan, pengurban tidak boleh tertipu dengan tampilan hewan kurban yang memiliki bulu yang lebat. Apalagi, hewan kurban yang baru dimandikan dan bulu yang baru disisir.
“Kondisi ini akan menampilkan hewan kurban seperti memiliki fisik dan daging yang banyak. Padahal ketika diraba itu hanya bulu yang tebal. Meraba ini memastikan bagian daging tumbuh dengan optimal, bukan bulu yang menutupi daging yang kurus,” jelas Edit.
Edit juga mengatakan, pengurban jangan tertipu dengan ukuran tulang dan tanduk hewan kurban yang besar. Sebab, hanya bagian yang bisa dikonsumsi yang akan dibagikan.
“Kita tahu tulang yang besar tidak berarti daging yang besar. Walaupun bisa dimakan, tapi tulang yang besar akan mempengaruhi bobot dan jumlah daging yang diperoleh. Selain itu, tanduk yang besar pun tidak berpengaruh apa-apa, karena tanduk bukan bagian yang bisa dikonsumsi,” terangnya.
Edit menambahkan, bobot hidup hewan kurban tidak menjadi faktor tunggal terkait jumlah daging yang didapat. Selain itu, komponen lain seperti kulit, bagian dalam (jeroan) juga perlu diperhatikan karena termasuk bagian yang bisa dimakan. Sementara darah dan isi perut merupakan faktor yang mempengaruhi bobot hewan kurban tapi tidak bisa dimakan.
(zul)