LANGIT7.ID, Jakarta - Setiap insan pasti akan menemui ajalnya. Namun, kapan dan di mana, itu adalah rahasia Allah SWT. Telah digariskan pula, kedatangan ajal tidak akan diundur atau pun dimajukan walau sesaat. Meski demikian, setiap orang harus terus waspada serta menjaga diri terutama di masa pandemi Covid-19.
Pendiri Al-Fahmu Institute, Ustadz Fahmi Salim mengatakan, kematian adalah ketentuan dari Allah SWT. Dia-lah zat yang menghidupkan dan mematikan makhluq-Nya. Kalau sudah waktunya, mau berlindung dengan cara apa pun, apabila kematian sudah mengintai, maka tidak ada yang bisa menghindar.
Ustadz Fahmi menyampaikan duka mendalam terhadap tiga ulama yang meninggal berturut seminggu ini, yaitu ulama kharismatik Betawi KH Abdurrasyid Abdullah Syafi'I, Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri KH Zainudin Djazuli, dan KH Amien Noer, putra dari pahlawan nasional asal Bekasi KH Noer Ali.
“Saya dan keluarga besar Fahmi Institute menyampaikan duka mendalam.
Inna lillahi wa innaa ilaihi raji'un atas berpulangnya para ulama kita dalam satu dua hari ini. Dari ujung timur sampai ujung barat Indonesia. La hawla wala quwwata illa billahil "Aliyyil 'Azhim. Dalam berita resmi NU, sudah 584 dalam lingkungan pesantren. Mungkin di Persis juga sama, Muhammadiyah juga tapi tidak terlalu relatif tinggi,” katanya kepada
LANGIT7.ID, Ahad (11/7/2021).
Ustadz Fahmi juga menyayangkan jika masih ada di antara ummat yang tak percaya adanya penularan Covid-19. Secara global, lebih 4 juta jiwa melayang setelah terinfeksi atau positif Covid-19. Di Indonesia, total kasus positif menjadi 2.491.006 orang dan kasus kematian tercatat sebanyak 65.457 orang.
Satu demi satu, ulama pergi meninggalkan ummat Islam dan bangsa Indonesia. Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama menyatakan, hingga 4 Juli 2021, sebanyak 584 kiai wafat. Ustadz Fahmi mengatakan, meski banyak korban meninggal akibat Covid-19, masih ada yang tidak percaya dengan adanya virus ganas tersebut. Mereka percaya teori konspirasi yang disebarkan kalangan tertentu.
Karena itu, perlu edukasi dan literasi untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan demi memutus mata ranta penularan wabah yang bersumber dari Wuhan, China, tersebut. "Bukan saya su'udz dzan, barangkali kita perlu mengigatkan untuk meningkatkan pentingnya sunnatullah di bidang medis, tentang penyakit dan bagaimana menanggulanginya. Mohon umat Islam dan para ulama tidak percaya kepada teori konspirasi yang disebarkan dalam kalangan tertentu. Virus corona ini nyata dan tak bisa dipungkiri,” katanya.
Ustadz Fahmi mengingatkan, dulu Imam Syafi’i pernah mengatakan, jangan pernah tinggal di suatu negeri yang tidak ada profesi fuqaha dan dokter, karena yang satu memberikan resep tentang penyakit batin, sedangkan dokter memberikan resep yang sifatnya lahiriah atau secara fisik.
Karena itu, dia mengimbau ummat Islam agar percaya pada keterangan dokter yang menjelaskan masalah wabah atau virus yang tengah melanda negeri ini dan semua bangsa-bangsa di dunia. Penularan dan virus Covid-19 tidak boleh dipandang remeh. Apalagi mengabaikan saran dan nasihat dokter dalam mengatasi pandemi ini.
"Yang paling penting sekarang bagaimana menyelamatkan ummat, para aktivis, para mubaligh, kiai, dengan memperbanyak literasi dan edukasi bagaimana menjaga kesehatan dan memelihara diri agar terhindar dari Covid-19,” kata jebolan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, ini.
Dia juga meminta ummat Islam menyiapkan generasi terbaik untuk menjadi pelanjut tongkat estafet para ulama yang telah wafat. "Dengan berkurangnya ulama, ini menjadi tanggung jawab kita dalam mempersiapkan generasi untuk menggantikan ulama yang wafat,” katanya.
Dia menjelaskan, ummat Islam dari dulu ahli dalam bidang kedokteran. Karena itu, jangan sampai mengabaikan pendapat dokter dalam mengatasi pandami. Dulu, Ibnu Sina yang mengenalkan metode bagaimana menjaga diri dari berbagai macam penyakit menular.
Begitu juga vaksinasi yang memperkenalkan adalah para dokter di zaman Turki Ustmani pada abad -17. Kemudian dikembangkan di Inggris untuk cacar sampai abad ke-18 dan barulah abad 19 Edward Jenner menemukan vaksin cacar.
Dia mempertanyakan ummat Islam yang mempercayai teori konspirasi dan tidak percaya metode kesembuhan dengan cara divaksin. Apalagi sampai mengatakan bahwa munculnya Covid-19 untuk mengurangi populasi ummat Islam.
"Kita terjebak narasi-narasi yang justru membuat bodoh, kita angkuh dalam menyikapi penyakit menular ini. Ini menjadi instrospeksi kita semua,” katanya.
(jak)