LANGIT7.ID-Jakarta; Wakil Ketua MUI Dr.KH.Anwar Abbas menilai, pidato pelantikan Prabowo Subianto sebagai Presiden benar-benar menggetarkan hati karena banyak bicara tentang masalah-masalah penting yang sedang dihadapi bangsa dan negara kita saat ini.
Menurutnya, diantara poin penting yang sangat banyak menjadi perhatian adalah tentang tekad Prabowo untuk memberantas korupsi yang memang sudah merupakan penyakit kronis di negeri ini sehingga banyak orang tidak lagi tahu bagaimana cara memberantasnya. "Karena sejak zaman reformasi tahun 1998 sampai sekarang ( tahun 2024 ) yang namanya korupsi jangankan semakin berkurang malah semakin bertambah dan bertambah. Bahkan dalam penilaian Mahfud MD di zaman orde baru korupsi boleh dikatakan hanya ada di lingkungan lembaga eksekutif saja tapi sekarang di zaman reformasi malah sudah merebak ke lembaga legislatif dan yudikatif," ujar Kiai Abbas dalam pernyataannya kepada langit7.id, senin(21/10/2024).
Baca juga:
Prabowo-Gibran Umumkan Kabinet Merah Putih, Perpaduan Wajah Lama dan BaruIndikasinya, lanjut dia, ini terlihat dari berapa banyak menteri, anggota DPR dan para hakim yang masuk bui karena tersandung kasus korupsi. "Celakanya lagi. Praktek korupsi tersebut sudah tidak lagi hanya ada di lapis atas saja tapi juga sudah menjalar sampai ke level pemerintahan yang paling terbawah yaitu di tingkat desa/kelurahan," imbuhnya.
"Lalu bagaimana cara mengatasinya ? Prabowo mengatakan ikan busuk dari kepalanya. Oleh karena itu usaha pemberantasan korupsi ini harus dimulai dari atas dari diri presiden sendiri. Jika presidennya mau hidup bersih dan memang punya tekad yang keras serta kuat untuk memberantas praktek korupsi maka praktek tidak terpuji tersebut tentu pasti akan bisa diberangus atau minimal dapat dikurangi secara signifikan."
Menurut Kiai Abbas, disinilah letak arti penting pidato perdana Presiden Prabowo kemarin yang sangat-sangat memberi harapan bagi pemberantasan korupsi di negeri ini dimana Prabowo dengan tegas, lugas dan secara berterus terang menyatakan bahwa masih terlalu banyak kebocoran, penyelewengan, korupsi di negara kita ini yang itu semua jelas-jelas akan membahayakan masa depan kita dan masa depan anak-anak kita dan cucu-cucu kita kata Prabowo.
Baca juga:
Presiden Prabowo Dilantik, Janji Tegakkan Kedaulatan dan Berantas Korupsi"Dan prabowo juga dengan berani mengungkap bahwa praktek korupsi tersebut lebih banyak merupakan kolusi di antara para pejabat politik, pejabat pemerintah di semua tingkatan, dengan pengusaha-pengusaha yang nakal, pengusaha-pengusaha yang tidak patriotik. Akibat dari kolusi tiga pihak ini benar-benar sudah sangat kita lihat dan rasakan bagaimana dampak dan zhalimnya."
Oleh karena itu menurutnya, usaha Presiden Prabowo untuk memberantas praktek-praktek busuk yang mereka lakukan jelas tidak mudah karena dengan kombinasi kekuasaan dan kekuatan uang yang mereka miliki mereka tentu akan bisa berbuat apa saja bagi memuluskan maksudnya. Untuk itu masyarakat tidak boleh diam apalagi membiarkan Presiden Prabowo berjuang sendiri. Rakyat harus ikut membantu Prabowo secara bersungguh-sungguh karena jika kita gagal menciptakan pemerintahan yang bersih di era kepemimpinannya ini maka nasib rakyat Indonesia ke depan tentu akan semakin buruk dan semakin tertindas oleh tindak rakus dan tamak dari oligarki politik, penguasa dan pengusaha busuk yang memang akhir-akhir ini sudah sangat-sangat terasa.
"Untuk itu kita meminta kepada Prabowo sebagai tanda keseriusannya dalam memberantas korupsi supaya di minggu-minggu pertama pemerintahannya, Prabowo memerintahkan kepada anak buahnya untuk membuat penjara bagi menampung para menteri dan pejabat, politisi dan pengusaha busuk yang terbukti telah melakukan praktek-praktek tidak terpuji yang telah merugikan rakyat dan keuangan negara."
Menurutnya, hal ini penting dilakukan oleh Presiden Prabowo sebagai sinyal kepada para bawahannya bahwa beliau memang tidak main-main dengan kata-kata yang telah disampaikannya. Semoga kehadiran Prabowo sebagai Presiden benar-benar merupakan obat dan solusi bagi rakyat dan bangsa serta negara ini. Semoga.(*)
(lam)