LANGIT7.ID-, Jakarta- - Para ahli militer menyatakan serangan mendadak Israel ke Iran semalam merupakan respons yang terukur dan terkendali. Serangan ini dirancang untuk menunjukkan kemampuan militer Israel sekaligus menghindari eskalasi besar di Timur Tengah yang semakin bergejolak.
Serangan presisi yang menargetkan fasilitas pembuatan rudal dan sistem pertahanan udara di berbagai wilayah Iran ini menandai serangan asing pertama ke wilayah Iran sejak Perang Iran-Irak. Namun para analis mengatakan serangan ini sengaja dibatasi ruang lingkupnya.
Baca juga:
Untuk informasi terbaru mengenai konflik di timur tengah, kunjungi halaman ini.Pesan Strategis Dibalik SeranganMatthew Savill, direktur ilmu militer di Royal United Services Institute (RUSI), menjelaskan bahwa meski informasi masih terbatas, serangan ini tampak lebih luas dibanding April lalu namun tetap merupakan respons terkendali. Tujuannya untuk menegaskan keunggulan militer konvensional Israel dan menghilangkan ancaman berupa fasilitas produksi rudal, tanpa terlihat meningkatkan ketegangan.
Serangan ke Tehran menunjukkan kemampuan Israel menembus pertahanan udara Iran sekaligus menghindari area sipil. Ini berbeda tajam dengan serangan rudal Iran baru-baru ini yang kurang presisi.
Raphael S. Cohen, ilmuwan politik senior dan direktur Program Strategi & Doktrin di RAND Project AIR FORCE, menyatakan tidak terkejut Israel menyerang Iran setelah memberi sinyal selama berminggu-minggu. Yang mengejutkan adalah responnya yang terkendali dibanding yang dibicarakan sebelumnya.
Degradasi Kemampuan MiliterPara analis militer mengindikasikan serangan ini menargetkan kemampuan defensif dan ofensif Iran. Savill mengatakan analisis selanjutnya mungkin akan menunjukkan pertahanan udara Iran telah terdegradasi, beserta fasilitas peluncuran rudal dan produksi drone.
Media Iran meremehkan dampaknya, namun rezim ini menghadapi pilihan sulit dalam merespons apa yang menjadi serangan konvensional terbesar ke wilayahnya dalam beberapa dekade.
Implikasi RegionalSerangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional pasca serangan rudal Iran 1 Oktober ke Israel dan konflik berkelanjutan yang melibatkan proksi Iran, termasuk Hezbollah dan Houthi.
"Iran masih terjebak dalam dilema tentang bagaimana merespons hilangnya efek deterrence dari mitra regionalnya," kata Savill, memperingatkan serangan oleh kelompok proksi masih bisa memicu respons jika menimbulkan korban signifikan.
Respons InternasionalPara pemimpin dunia menyerukan pengendalian diri pasca serangan. Perdana Menteri Inggris mengakui hak Israel untuk membela diri sambil mendesak Iran untuk tidak merespons. AS secara eksplisit meminta Iran "menghentikan serangannya ke Israel agar siklus pertempuran ini bisa berakhir."
Qatar dan Arab Saudi mengeluarkan pernyataan mengecam serangan tersebut, dengan Kerajaan mendesak "pengendalian diri maksimal" untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Kemungkinan Balasan IranThomas Juneau, profesor di Universitas Ottawa yang fokus pada Timur Tengah khususnya Iran, mengatakan Israel hanya menyerang situs militer menandakan "serangan terbatas, bukan ke situs nuklir atau energi, jadi ini sinyal ke Iran untuk de-eskalasi."
Profesor Yossi Mekelberg dari think tank Chatham House percaya Iran ingin menurunkan ketegangan. Meski ada "peremahan" terhadap serangan Sabtu, serangan itu "serius." Fakta serangan menghindari area sipil atau infrastruktur energi utama "membuka kemungkinan untuk upaya diplomatik."
Dr. Sanam Vakil, direktur Program Timur Tengah Afrika Utara Chatham House, mengatakan serangan ini tidak mengejutkan Tehran. Israel telah memberi peringatan jelas. Ini serangan terbesar ke Iran dalam beberapa dekade dan menunjukkan kerentanan Iran.
(lam)